Konten dari Pengguna

PBB Desak UEFA dan FIFA Depak Israel, Namun FIFA Masih Berhati-Hati, Kenapa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Suci Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Isu besar sedang menghantam dunia olahraga internasional. Federasi Sepak Bola Israel kini berada di ujung tanduk setelah sejumlah negara Eropa dan organisasi internasional menekan UEFA untuk menggelar voting terkait keanggotaan Israel.

Jika mayoritas setuju, tim nasional Israel dan klub-klubnya bisa langsung disingkirkan dari Liga Champions, Liga Europa, hingga kualifikasi Piala Dunia 2026.

Tekanan ini tak lahir dari ruang hampa. Serangan militer Israel ke Gaza yang menewaskan puluhan ribu warga sipil membuat dunia olahraga ikut bergolak.

Banyak pihak membandingkan situasi Israel dengan Rusia, yang sejak invasi ke Ukraina tahun 2022 langsung diisolasi dari hampir semua ajang internasional, termasuk Piala Dunia Qatar 2022.

Seruan untuk memperlakukan Israel dengan standar yang sama kini semakin nyaring. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez bahkan sudah secara terbuka meminta agar Israel dikeluarkan dari kompetisi global.

Sementara itu, FIFA masih berhati-hati. Presiden FIFA Gianni Infantino dikenal punya relasi politik dekat dengan lingkaran Donald Trump, yang notabene pro-Israel.

Ditambah lagi, Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah utama Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko, sehingga ada kepentingan strategis agar tim Israel tidak terganggu dalam jalur kualifikasi.

Bahkan Departemen Luar Negeri AS menegaskan akan menolak segala bentuk upaya menghalangi Israel tampil di Piala Dunia.

Namun tekanan moral makin sulit dibendung. Tujuh ahli independen PBB di bidang HAM mendesak FIFA dan UEFA bersikap tegas terhadap Israel.

Laporan terbaru komisi PBB bahkan menuduh Israel melakukan tindakan yang memenuhi unsur genosida di Gaza.

Di stadion-stadion Eropa, protes publik juga semakin terang-terangan: mulai dari spanduk “Stop Killing Civilians” di pertandingan PSG, hingga aksi penolakan fans Yunani ketika klub Maccabi Tel Aviv bertanding.

Israel sendiri tak tinggal diam. Menteri Olahraga Miki Zohar, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan federasi sepak bolanya disebut melakukan lobi intensif demi meredam gelombang sanksi.

Namun berbeda dengan Rusia, hingga kini belum ada negara UEFA yang menolak secara eksplisit bertanding melawan Israel.

Meski begitu, sinyal politik dari negara seperti Norwegia dan Italia menunjukkan bahwa ketidaknyamanan publik sudah membesar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar hiburan. Sepak bola kini berubah menjadi arena diplomasi global.

Konsep soft power Joseph Nye menjelaskan hal ini dengan gamblang bahwa kekuatan bukan hanya soal tank dan senjata, melainkan juga daya tarik budaya, moral, dan opini publik.

Di sisi lain, praktik sports diplomacy membuat sepak bola menjadi alat diplomasi baru stadion bisa mengguncang legitimasi sebuah negara lebih keras daripada ruang sidang PBB.

Isolasi Israel lewat ajang olahraga adalah cara komunitas internasional menekan perubahan perilaku politik, tanpa harus mengangkat senjata.

Apapun hasil voting UEFA nantinya, isu ini akan meninggalkan jejak besar. Jika Israel benar-benar didepak, Piala Dunia 2026 bukan hanya panggung sepak bola, melainkan juga simbol bagaimana olahraga bisa menjadi alat untuk menimbang siapa yang masih diterima komunitas global, dan siapa yang terisolasi karena kehilangan legitimasi moral.