Konten dari Pengguna

Kalau Tidak Ada Kejadian di Hotel Ini, Saya Tidak Akan Tahu Apa Itu RCO?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaenal Mustofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar hanya ilustrasi, Sumber/Ilustrator: Gemini Ai
zoom-in-whitePerbesar
Gambar hanya ilustrasi, Sumber/Ilustrator: Gemini Ai

Tiba-tiba saja di Desa Harjatani, Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten pada hari jumat, 8 Agustus 2025, mendadak berubah mencekam. Puluhan warga mengeluh mual, pusing, dan sesak napas. Aroma menyengat menusuk hidung, menyelimuti udara, dan ternyata berasal dari pencemaran sungai di Kampung Larangan. Usut punya usut, sumber masalahnya adalah kebocoran tangki di sebuah hotel yang terletak tidak jauh dari sana, Hotel Forbis.

Penyelidikan mendalam yang dilakukan warga setempat menemukan bahwa yang tumpah bukanlah cairan biasa, melainkan limbah dari cairan hitam pekat yang berasal dari gorong-gorong hotel forbis mengalir ke sungai dan menimbulkan bau yang sangat menyengat. Belakangan diketahui bahwa cairan tersebut merupakan Rubber Chemical Oil (RCO), bahan bakar alternatif pengganti solar yang terbuat dari limbah ban.

Hal ini di ungkapkan oleh General Manager Hotel Forbis, Luciana Santi mengatakan, bahwa RCO itu merupakan bahan bakar pengganti solar dari yang sebelumnya digunakan selama 10 tahun oleh Hotel Forbis. Penggunaan RCO ini untuk menekan pengeluaran dan efisiensi karena menurutnya penggunaan RCO bisa lebih hemat dibandingkan Solar.

Ia juga menambahkan, saat ini pihaknya telah memberikan fasilitas pertolongan pertama terhadap puluhan warga yang terdampak karena mencium bau menyengat itu. “Dari kami sudah mengirimkan dokter ke lokasi titik kumpul warga yang sudah dikoordinir dengan ketua RT/RW dan Kades setempat,” ungkapnya pada jumat, 8 Agustus 2025.

Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai media online di perkirakan terdapat 65-70 orang warga yang mendapatkan perawatan medis imbas kejadian tersebut. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang akan segera mengambil sampel dan meneliti sejauh mana dampak yang ditimbulkan.

Insiden ini, mau tidak mau, membuka mata banyak orang—termasuk saya—tentang sisi lain dari inovasi yang sering digembar-gemborkan sebagai solusi. Ternyata, di balik janji-janji manisnya, ada risiko besar yang mengintai jika tidak dikelola dengan benar. Kebocoran tangki yang menimpa Hotel Forbis saat proses pemindahan RCO membuktikan bahwa prosedur keselamatan yang longgar bisa mengubah solusi energi menjadi bencana lingkungan dan kesehatan.

Dari Ban Bekas Jadi Energi Industri: Mengenal Lebih Dekat RCO

Sebelum insiden di Serang ini mencuat, sebagian besar dari kita mungkin tidak familiar dengan istilah RCO. Padahal, bahan bakar ini adalah bukti nyata bagaimana teknologi dapat mengubah limbah ban yang menumpuk dan mencemari lingkungan menjadi sumber energi yang menjanjikan. Secara global, RCO dikenal juga sebagai Tire Pyrolysis Oil (TPO), hasil dari proses pirolisis, sebuah dekomposisi termal di mana karet ban dipanaskan tanpa oksigen.

Hasilnya, limbah ban yang biasanya butuh ratusan tahun untuk terurai di alam, kini bisa dipecah menjadi tiga produk bernilai ekonomi tinggi: minyak pirolisis (RCO), karbon hitam (carbon black), dan kawat baja. RCO pun muncul sebagai jawaban atas harga bahan bakar fosil yang terus melambung, menawarkan alternatif yang lebih ramah di kantong dan secara signifikan mengurangi tumpukan limbah ban yang kian menggunung.

Karakteristik RCO yang Menggiurkan

Secara teknis, RCO memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya diminati industri. Nilai kalorinya disebut-sebut lebih tinggi dari solar, dengan angka mencapai 10.400 kkal/liter dibandingkan solar industri yang hanya sekitar 9.240 kkal/liter. Nilai kalori yang superior ini memungkinkan industri menghemat pemakaian bahan bakar hingga 25-30 persen.

Selain itu, RCO juga aman bagi mesin. Kandungan utamanya yang berasal dari karet olahan membuatnya tidak korosif, sehingga mesin boiler atau burner lebih awet. Bahan bakar ini pun tidak meninggalkan endapan atau residu, masalah umum yang sering dihadapi oleh pengguna bahan bakar lain.

Fleksibilitas RCO juga menjadi daya tarik tersendiri. Bahan bakar ini bisa langsung digunakan pada mesin boiler atau burner yang sebelumnya memakai solar, minyak tanah, atau residu tanpa perlu modifikasi instalasi yang rumit. Dan yang paling penting, bahan baku RCO, yaitu limbah ban bekas, tersedia melimpah di mana-mana, menjadikannya solusi ekonomi sirkular yang logis dan berkelanjutan.

RCO Bukan Sekadar Bahan Bakar, Tapi Solusi Komprehensif

Keunggulan RCO tidak berhenti pada minyaknya saja. Proses pirolisis ban bekas juga menghasilkan produk turunan lain yang berharga. Ada carbon black yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai pigmen tinta atau penguat dalam produksi karet baru. Kawat baja dari ban pun bisa dipisahkan dan dilebur untuk industri baja. Bahkan, gas yang tidak terkondensasi selama proses pirolisis bisa digunakan kembali untuk memanaskan reaktor itu sendiri, menciptakan siklus produksi yang sangat efisien.

Secara keseluruhan, RCO adalah bukti bahwa inovasi bisa mengubah masalah menjadi peluang. Dengan harga yang lebih kompetitif dan performa yang efisien, RCO menawarkan jalan keluar bagi industri yang ingin beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan. Namun, insiden di Serang menjadi pengingat penting: seefektif apa pun sebuah solusi, pengawasan dan manajemen risiko yang ketat tetap menjadi kunci. Tanpa itu, solusi terbaik pun bisa berbalik menjadi ancaman. (Oleh: Zaenal Mustofa)