Konten dari Pengguna

Ijazah Bisa Dipalsukan, Lalu untuk Apa Kamu Sekolah Hari Ini?

Zanuar Ishak

Zanuar Ishak

Peneliti Independen, Alumni UKSW Salatiga

·waktu baca 8 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zanuar Ishak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto ilustrasi ijazah sekolah dari pexels : Ron Lach
zoom-in-whitePerbesar
foto ilustrasi ijazah sekolah dari pexels : Ron Lach

APA GUNANYA SEKOLAH?

Coba tanyakan pada diri sendiri, untuk apa kamu sekolah?

Bukan jawaban formal seperti "mencerdaskan kehidupan bangsa" atau "mempersiapkan masa depan". Tapi jawaban yang jujur, jawaban yang lahir dari dalam diri sendiri, dari hati, dari kenyataan yang kamu lihat setiap hari.

Apakah kamu sekolah supaya dapat pekerjaan? Supaya orang tua bangga? Supaya tidak kalah sama teman atau tetangga? Supaya bisa kuliah di universitas ternama? Supaya nanti dapat gaji besar?

Jawaban-jawaban itu tidak salah, tetapi saya ingin bertanya lebih dalam. Setelah semua itu, setelah mendapatkan pekerjaan, setelah orang tua bangga, setelah gaji besar, apakah kamu merasa merdeka?

Atau justru merasa seperti hamster yang terus berlari di roda putaran. Sekolah demi nilai, nilai demi ijazah, ijazah demi kerja, kerja demi uang, uang demi beli barang, beli barang demi gaya, gaya demi pamer, pamer demi diakui. Terus berputar tanpa pernah bertanya, ini hidupku atau hidup yang dikarang orang lain?

Paulo Freire, guru dari Brasil, memiliki jawaban berbeda tentang "untuk apa sekolah". Bagi Freire, sekolah bukan tempat menyiapkan diri untuk pasar kerja. Sekolah adalah tempat belajar menjadi manusia yang utuh. Menjadi manusia yang berani mengubah realitas yang tidak adil, bukan hanya beradaptasi dengan ketidak adilan itu. Tapi apakah jawaban Freire ini masih relevan untuk hari ini? Mari kita telusuri bersama.

Sekolah untuk Dapat Pekerjaan

Ini jawaban paling umum yang sering kita dapatkan, jawaban paling pragmatis dan paling "masuk akal". Tapi coba perhatikan kembali, setiap tahunnya pengangguran terdidik di Indonesia terus meningkat. Selain itu banyak lulusan S1 yang bekerja di posisi yang tidak membutuhkan gelar. Bahkan ada yang jadi ojek online atau jualan online pekerjaan yang sebenarnya tidak butuh ijazah. Bukankah ironis? Belasan tahun di sekolah, menghabiskan jutaan rupiah, untuk akhirnya melakukan pekerjaan yang bisa dipelajari dalam hitungan minggu. Kenyataannya adalah sekolah tidak pernah menjanjikan pekerjaan, sekolah hanya menjanjikan ijazah. Di zaman sekarang, ijazah bukan lagi tiket otomatis masuk ke dunia kerja.

Sekolah untuk Jadi Pintar

Jawaban ini terdengar mulia, tapi mari kita bedah bahwa pintar ini versi siapa? Pintar versi sekolah adalah bisa menjawab soal ujian dengan benar. Bukan "bisa", tapi "hafal". Pintar versi sekolah adalah ranking satu di kelas, nilai seratus dan menjuarai olimpiade.

Tapi coba lihat orang-orang yang paling sukses di dunia. Bill Gates drop out dari kuliah, Steve Jobs juga drop out, bahkan Mark Zuckerberg juga drop out. Apakah mereka bodoh? Atau justru sekolah tidak bisa mengukur jenis "kecerdasan" yang sesungguhnya membebaskan manusia?

Kenyataannya sekolah sering mengukur hanya satu jenis kecerdasan (hafalan dan logika matematis), sementara kecerdasan lain seperti kreativitas, empati, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, tidak pernah dinilai. Akibatnya, orang yang "pintar" di sekolah belum tentu "pintar" menjalani hidup.

Sekolah untuk Sukses

Jawaban yang paling menggoda, jawaban ini sangat menjual dan sering dipakai motivator. Tapi mari definisikan "sukses". Jika sukses disini artinya punya rumah mewah, mobil mahal, dan liburan ke luar negeri apakah semua orang sukses itu bahagia? Apakah semua orang sukses itu merasa merdeka?

Kita lihat fenomena "burnt out" di kalangan profesional muda. Lulusan terbaik, bekerja di perusahaan ternama, gaji besar, tapi stres, depresi, kehilangan makna hidup. Mereka mencapai "sukses" versi orang lain, tapi tidak pernah bertanya apakah ini yang aku mau, atau yang orang tua/masyarakat/media sosial mau?

Kenyataannya "Sukses" adalah konsep yang dijual kepada kita. Sekolah, media, dan masyarakat membentuk definisi sukses yang sempit (kaya, terkenal, berkuasa). Namun definisi itu tidak pernah mempertanyakan, apakah sukses yang seperti itu membuatmu lebih manusiawi atau justru semakin buas?

Sekolah untuk Menjadi Manusia yang Merdeka

Paulo Freire memberikan jawaban yang berbeda, Jawaban yang tidak populer, bahkan jawaban yang tidak bisa dijual di seminar motivasi dan tidak akan muncul di iklan bimbingan belajar.

"Sekolah bukan untuk mempersiapkan siswa beradaptasi dengan dunia yang tidak adil. Sekolah adalah untuk mempersiapkan siswa berani mengubah ketidakadilan itu."

Mari bedah satu per satu:

Freire terkenal dengan kalimatnya: "Membaca bukan hanya mengucapkan kata-kata. Membaca adalah memahami dunia di balik kata-kata itu".

Apa maksudnya?

Seorang anak bisa membaca kata "banjir" di buku. Tetapi apakah ia paham mengapa kampungnya kebanjiran setiap tahun? Apakah ia paham hubungan antara banjir, sampah, penggundulan hutan, dan kebijakan pemerintah?

Jika ia hanya bisa membaca kata tapi tidak bisa membaca realitas, maka ia melek huruf tapi buta dunia. Sekolah ala Freire mengajarkan murid untuk tidak hanya membaca teks, tapi juga membaca realita. Ini yang disebut literasi kritis, kemampuan untuk melihat realitas tidak sebagai "takdir", tapi sebagai hasil dari keputusan manusia yang bisa diubah.

Freire menyebut pendidikan saat ini sebagai pendidikan gaya bank, dimana pendidikan ini mengajarkan siswa untuk menjawab pertanyaan "Apa". Apa rumusnya? Apa penyebabnya? Apa tanggalnya? Apa definisinya?

Freire tidak puas akan hal tersebut, ia ingin mengajarkan siswa untuk bertanya "Mengapa".

Mengapa rumus itu seperti itu?

Mengapa penyebabnya itu, bukan yang lain?

Mengapa kita harus menghafal tanggal itu?

Mengapa definisi itu dianggap benar?

Pertanyaan "mengapa" adalah kunci pembebasan. Karena dengan "mengapa" dapat membuka ruang untuk meragukan, mencurigai, dan mencari alternatif. Seorang siswa yang hanya bisa menjawab "apa" adalah mesin rekam yang bisa berjalan. Namun seorang siswa yang berani bertanya "mengapa" adalah calon pemberontak terhadap ketidakadilan.

Sekolah kita, sejak taman kanak-kanak mengajarkan satu hal, mengajarkan untuk menjadi manusia patuh. Duduk rapi, antre, jangan bicara sebelum dipanggil, jangan bertanya terlalu banyak, jangan membantah guru dan hormat pada yang lebih tua. Patuh itu penting, tapi patuh secara buta adalah racun. Freire mengajarkan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang melatih ketidakpatuhan yang cerdas. Dimana keberanian untuk tidak setuju ketika ketidaksetujuan itu didasari oleh nalar dan hati nurani.

Lalu untuk apa sekolah?

Setelah perjalanan panjang dari kritik terhadap jawaban-jawaban di atas, hingga gagasan Freire tentang pembebasan, mari saya coba merangkum jawaban untuk pertanyaan “untuk apa sekolah?”. Bukan jawaban yang akan kamu temukan di buku teks. Bukan jawaban yang akan diucapkan motivator. Tetapi jawaban yang saya yakini benar, berdasarkan apa yang kita pelajari dari Freire dan realitas Indonesia.

Saya sekolah untuk:

1. Belajar menggunakan nalar, bukan sekadar menerima omongan

Di zaman hoaks dan propaganda seperti sekarang, kemampuan membedakan fakta dan kebohongan adalah senjata hidup dan mati. Sekolah yang baik melatih otot nalar, dimana kita meragukan sebelum percaya, mengecek sebelum menyebar, berpikir sebelum bicara.

2. Belajar berdebat dengan sopan, bukan saling serang

Lihatlah kolom komentar medsos kita. Jarang ada debat sehat, yang ada hanyalah hujat, ejek, dan klaim paling benar. Sekolah seharusnya menjadi tempat latihan berdemokrasi, berbeda pendapat itu wajar, yang tidak wajar adalah tidak mau mendengar pendapat orang lain atau membenci orang lain karena berbeda pendapat.

3. Belajar bahwa dunia bisa diubah, bukan hanya ditonton

Banyak dari kita merasa bahwa dunia ini sudah ada begitu saja. Bahwa kemiskinan, polusi, dan ketidakadilan adalah "takdir". Salah, dunia saat ini adalah hasil dari keputusan manusia di masa lalu. Dan dunia di masa depan akan ditentukan oleh keputusan kita hari ini. Sekolah harus mengajarkan keberanian untuk menjadi bagian dari perubahan itu.

4. Belajar bahwa kamu berharga, bukan karena nilaimu, tapi karena kamulah kamu

Sistem nilai dan ranking telah membuat kita lupa bahwa manusia tidak bisa diukur dengan angka. Kamu bukanlah rata-rata nilai matematikamu. Kamu bukanlah peringkat kelasmu. Kamu adalah kumpulan mimpi, ketakutan, keunikan, dan potensi yang tidak bisa dirangkum dalam rapor. Sekolah yang baik adalah sekolah yang membuatmu sadar akan hal itu.

Refleksi Akhir

Plato mendirikan Akademia untuk mencetak raja filsuf, pemimpin yang cinta kebenaran. Freire mengajar di Brasil untuk membebaskan kaum tertindas dari kebodohan yang disengaja. Kita, di Indonesia hari ini, tidak harus memilih salah satu. Kita bisa mengambil semangat Plato, bahwa pendidikan adalah proses keluar dari kegelapan menuju terang. Kita bisa mengambil semangat Freire, bahwa pendidikan adalah alat untuk mengubah realitas yang tidak adil.

Tapi yang paling penting, kita harus berani menjawab pertanyaan "untuk apa sekolah?" dengan jawaban kita sendiri. Bukan jawaban orang tua. Bukan jawaban guru. Bukan jawaban masyarakat. Bukan jawaban media sosial. Tapi jawaban yang lahir dari perenungan paling jujur tentang “Aku ingin menjadi manusia seperti apa ?”

Jika jawabanmu adalah "Aku ingin menjadi manusia yang tidak mudah dibodohi, yang berani melawan ketidakadilan, dan yang tidak kehilangan rasa ingin tahu sampai kapan pun" maka selamat. Kamu sudah memahami tujuan sejati sekolah.

Dan kabar baiknya sekolah untuk tujuan itu tidak pernah usai. Ini akan berlanjut seumur hidup, di mana pun, dan kapan pun. Jadi, kamu sekarang bisa menjawab untuk apa sekolah?

  • Untuk mempersiapkanmu menjalani hidup, bukan sekadar mencari nafkah.

  • Untuk membuatmu bertanya, bukan sekadar menjawab.

  • Untuk membebaskanmu, bukan sekadar menjinakkan.

Pendidikan tidak merubah dunia. Pendidikan mengubah orang. Dan orang-orang yang mengubah dunia. - Paulo Freire -

Sekarang, lanjutkan sekolahmu. Tapi kali ini, dengan pertanyaan yang berbeda: "Untuk apa aku belajar hari ini?" Bukan hanya untuk nilai, bukan hanya untuk ijazah. Namun untuk menjadi lebih merdeka dari kemarin.

Selamat merdeka.