Konten dari Pengguna

Identitas Bangsa di Era Digital: Masihkah Generasi Muda Mengenal Budayanya?

Zaky Firmansyah

Zaky Firmansyah

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaky Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah arus globalisasi dan media sosial, mengenal bahasa, budaya, dan nilai lokal menjadi bagian penting dalam menjaga identitas bangsa.

Identitas Bangsa di Tengah Arus Global

Perkembangan teknologi membuat generasi muda semakin mudah mengenal berbagai budaya dari seluruh dunia. Melalui media sosial, musik, film, pakaian, makanan, hingga gaya hidup dari berbagai negara dapat ditemukan hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini membuat hubungan antarmasyarakat semakin terbuka, tetapi pada saat yang sama menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana identitas bangsa tetap dikenali dan diwariskan.

Budaya Indonesia sebagai bagian dari identitas bangsa | Noval Gani / Pexels (https://www.pexels.com/photo/indonesian-cultural-dance-performance-in-jakarta-32061545/) License: Free

Identitas bangsa Indonesia tidak hanya terlihat dari simbol-simbol kenegaraan. Identitas juga hidup dalam bahasa, kesenian, adat istiadat, nilai sosial, cerita rakyat, makanan tradisional, dan berbagai kebiasaan masyarakat. Karena itu, mengenal budaya lokal bukan sekadar mengingat warisan masa lalu, tetapi juga memahami bagian dari kehidupan masyarakat yang membentuk Indonesia.

Generasi Muda Berada di Tengah Perubahan Budaya

Generasi muda memiliki posisi penting karena mereka tumbuh ketika teknologi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perubahan ini membuat mereka dapat mengenal budaya lokal sekaligus budaya global dalam waktu yang bersamaan. Kumparan pada Juli 2026 menyoroti bahwa budaya Indonesia kembali ramai di media sosial melalui konten tari tradisional, lagu daerah, dan pakaian adat. Artikel tersebut juga mengangkat pertanyaan apakah perhatian tersebut menunjukkan pemahaman budaya atau hanya mengikuti tren.

Pertanyaan tersebut tidak berarti bahwa mengikuti tren budaya merupakan sesuatu yang keliru. Yang menjadi penting adalah adanya pemahaman terhadap makna budaya yang diperkenalkan. Ketika generasi muda mengenal asal-usul, nilai, dan konteks suatu budaya, penggunaan media sosial dapat menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan, bukan sekadar mengikuti sesuatu yang sedang populer.

Media Sosial Juga Bisa Menjadi Ruang Pelestarian

Perkembangan digital tidak selalu menjadi tantangan bagi identitas bangsa. Teknologi juga dapat menjadi ruang untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan budaya lokal. Konten tentang bahasa daerah, tarian, musik tradisional, kerajinan, kuliner, atau cerita rakyat dapat dibuat dengan format yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda.

Identitas bangsa Indonesia dan keberagaman budaya lokal | Nasirun Khan / Pexels (https://www.pexels.com/photo/traditional-indonesian-dance-performance-preparation-32629657/) License: Free

Kumparan dalam artikel mengenai pelestarian budaya Indonesia di era digital menempatkan generasi Z sebagai kelompok yang memiliki peran karena mereka hidup berdampingan dengan teknologi. Artikel tersebut membahas pentingnya memanfaatkan ruang digital untuk tetap mengenalkan budaya Indonesia di tengah mudahnya akses terhadap budaya asing.

Dengan demikian, ruang digital dapat digunakan bukan hanya sebagai tempat menerima tren, tetapi juga sebagai tempat memperkenalkan identitas bangsa. Kreativitas generasi muda dapat membuat budaya lokal hadir dalam bentuk video pendek, podcast, ilustrasi, tulisan, musik, maupun konten edukasi.

Bahasa Daerah Adalah Bagian dari Identitas

Salah satu bagian penting dari identitas bangsa adalah keberagaman bahasa daerah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen mencatat terdapat 718 bahasa daerah di Indonesia. Hingga 2025, program revitalisasi bahasa daerah telah dilakukan terhadap 120 bahasa di 38 provinsi dengan fokus yang melibatkan generasi muda.

Data tersebut menunjukkan bahwa kekayaan bahasa Indonesia sangat besar, tetapi keberagaman tersebut juga membutuhkan pewarisan. Bahasa daerah tidak cukup hanya dikenal sebagai materi pembelajaran atau ditampilkan pada kegiatan budaya. Bahasa perlu tetap digunakan dalam keluarga, komunitas, pendidikan, karya seni, dan ruang digital agar memiliki ruang hidup di tengah perubahan zaman.

Pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026, Kemendikdasmen juga menekankan keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah. Festival tersebut menjadi ruang bagi anak muda dari berbagai daerah untuk menampilkan bahasa dan budaya masing-masing sekaligus mengenal keberagaman Indonesia.

Pendidikan Kewarganegaraan dan Kesadaran terhadap Identitas Bangsa

Pendidikan Kewarganegaraan dapat menjadi salah satu ruang untuk membantu generasi muda memahami hubungan antara kehidupan sebagai warga negara dengan keberagaman budaya Indonesia. Pembelajaran tentang identitas, nilai kebersamaan, keberagaman, tanggung jawab, dan kehidupan bermasyarakat dapat membantu mahasiswa maupun pelajar melihat budaya bukan hanya sebagai sesuatu yang ditampilkan pada acara tertentu.

Kesadaran terhadap identitas bangsa juga tidak berarti menutup diri dari perkembangan dunia. Generasi muda tetap dapat mempelajari bahasa asing, menikmati musik dari negara lain, mengikuti perkembangan teknologi, dan berinteraksi dengan masyarakat global. Yang penting adalah kemampuan untuk tetap mengenali akar budaya sendiri serta menghargai keberagaman yang ada di Indonesia.

Menjaga Identitas Tanpa Menolak Perubahan

Menjaga identitas bangsa tidak harus dilakukan dengan cara menjauh dari teknologi atau menolak budaya dari luar. Cara yang lebih relevan adalah membangun kemampuan untuk memilih, memahami, dan mengolah berbagai pengaruh secara bijak. Budaya lokal dapat diperkenalkan menggunakan media yang disukai generasi muda tanpa menghilangkan konteks dan maknanya.

Generasi muda mengenal budaya Indonesia di era digital | Bezalens JGP / Pexels (https://www.pexels.com/photo/traditional-gathering-of-local-youths-in-banten-37829309/) License: Free

Pelestarian juga dapat dimulai dari hal sederhana. Menggunakan bahasa daerah dalam percakapan dengan keluarga, mengenal makanan dan kesenian daerah, mempelajari cerita rakyat, mengunjungi kegiatan budaya, serta membuat konten yang memperkenalkan budaya lokal merupakan contoh ruang partisipasi yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, identitas bangsa bukan sesuatu yang hanya berada di masa lalu. Identitas terus hidup melalui cara masyarakat menggunakan bahasa, menjaga tradisi, mengenalkan budaya, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Di era digital, generasi muda memiliki kesempatan untuk membawa budaya Indonesia ke ruang yang lebih luas sekaligus tetap memahami akar budaya yang dimilikinya.

Kesimpulan

Identitas bangsa Indonesia menghadapi perubahan seiring berkembangnya globalisasi dan teknologi digital. Namun, perkembangan tersebut juga membuka kesempatan baru untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Indonesia. Generasi muda dapat mengambil peran melalui penggunaan bahasa daerah, pengenalan budaya lokal, pembuatan konten digital, serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan budaya.

Dengan pemahaman yang baik, teknologi tidak hanya menjadi pintu masuk budaya global, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membuat identitas bangsa tetap dikenal dan relevan bagi generasi muda.