Konten dari Pengguna

Dunia di Balik Mata Tertutup: Sains dan Psikologi Mimpi

Zhafirah Nur R

Zhafirah Nur R

Mahasiswi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Β·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zhafirah Nur R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mimpi Saat Tidur (canva.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mimpi Saat Tidur (canva.com)

Tahukah Anda bahwa manusia menghabiskan sepertiga hidupnya untuk tidur? Namun, apa yang terjadi pada otak kita selama tidur tetap menjadi misteri bagi banyak orang.

Sebagai makhluk hidup, tidur merupakan sebuah kegiatan yang sudah tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidur merupakan bagian yang esensial dari keseharian manusia yang sering kali dianggap sebagai waktu istirahat sederhana. Namun ternyata, dibalik momen yang tenang tersebut otak kita tetap bekerja secara aktif untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental kita.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi selama kita tidur? Secara ilmiah, tidur adalah keadaan yang diproduksi oleh otak secara aktif, ditandai dengan penurunan aktivitas dan penurunan respons terhadap rangsangan. Secara umum, tidur bergantung pada penurunan input sensorik ke korteks serebral. Selama kita tidur, neuron di talamus menjadi ter hiperpolarisasi, mengurangi kesiapannya untuk menanggapi rangsangan dan mengurangi informasi yang dikirimkan ke korteks (Coenen, 1995). Tidur berfungsi untuk mengistirahatkan otot-otot, mengurangi metabolisme dan melakukan pemeliharaan sel dalam neuron (Vladyslav dan Haris, 2013). Oleh karena itu, orang-orang yang tidak cukup tidur dapat mengembangkan gejala penyakit mental atau dapat memperburuk gejala yang sudah mereka miliki (van der Kloet, Merckelbach, Giesbrecht, dan Lynn, 2012).

Proses ini melibatkan mekanisme kompleks yang hingga kini masih menjadi subjek penelitian para ilmuwan. Tidur tidak hanya berfungsi untuk memulihkan energi, tetapi juga memainkan peran penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk konsolidasi memori, pengolahan emosi, dan pemulihan sel.

Tidur bukan sekadar menutup mata dan beristirahat. Di baliknya, terdapat proses kompleks yang melibatkan aktivitas otak, tahapan tidur yang beragam, hingga fenomena mimpi yang penuh teka-teki. Mari kita telusuri lebih jauh berbagai sudut pandang menarik tentang tidur dan mimpi.

Proses Tidur Menurut Kacamata Sains

Dalam kacamata sains, proses tidur adalah fenomena biologis yang melibatkan perubahan aktivitas otak, fungsi fisiologis tubuh, serta regulasi oleh sistem saraf pusat dan hormon. Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang penting untuk pemulihan tenaga, konsolidasi memori, pemulihan jaringan, dan regulasi emosi.

Dalam sudut pandang sains, ketika kita tertidur setidaknya kita akan melewati dua fase tidur yang teratur antara tidur Non-REM (NREM) dan REM (Rapid Eye Movement), yang masing-masing memiliki tahapan yang berbeda. Kedua siklus ini terjadi secara berulang selama 90 – 120 menit sepanjang malam, dengan setiap tahapannya memiliki karakteristik yang unik.

Tahapan Non-REM (NREM)

1. Tahap 1 (Tidur Ringan) Tahap pertama tidur adalah transisi dari sadar ke tidur. Aktivitas otak mulai melambat, tetapi masih responsif terhadap lingkungan, sehingga mudah terbangun. Tahap ini berlangsung 5–10 menit dan menjadi awal menuju tidur lebih dalam. 2. Tahap 2 (Tidur Nyenyak Ringan) Memasuki tahap kedua, aktivitas otak melambat, disertai penurunan ritme jantung dan suhu tubuh. Pola gelombang otak seperti β€œspindle tidur” dan β€œkompleks K” muncul untuk memblokir gangguan eksternal, memungkinkan tidur lebih nyenyak. Tahap ini berlangsung sekitar 20 menit dan mendominasi siklus tidur malam. 3. Tahap 3 (Tidur Nyenyak atau Slow-Wave Sleep) Tahap ketiga merupakan tahap terakhir dalam proses ini, sekaligus menjadi fase tidur terdalam dalam siklus Non-REM, di mana otak menghasilkan gelombang delta yang lambat dan besar. Pada tahap ini, tubuh memulai proses pemulihan, seperti perbaikan jaringan, penguatan sistem kekebalan, dan pelepasan hormon pertumbuhan. Tidur nyenyak ini sangat penting untuk regenerasi dan kesehatan fisik.

Tahapan REM (Rapid Eye Movement)

Setelah melewati tahapan Non-REM, individu akan memasuki tahap REM, yang ditandai dengan gerakan mata yang cepat di balik kelopak mata dan peningkatan aktivitas otak. Pada fase ini, tubuh mengalami atonia otot, yaitu kelumpuhan sementara pada otot-otot besar, yang bertujuan untuk mencegah gerakan tubuh yang sesuai dengan mimpi yang sedang dialami. Sementara itu, otak berfungsi dengan cara yang mirip saat terjaga, memproses emosi, menyusun memori, dan memperkuat koneksi saraf.

Proses Terjadinya Mimpi: Dari Otak ke Alam Bawah Sadar

Proses terjadinya mimpi melibatkan aktivitas otak yang sangat kompleks selama kita tidur, terutama dalam tahap REM (Rapid Eye Movement). Tahap REM Merupakan periode di mana mimpi paling intens terjadi, otak berfungsi seolah-olah sedang menyusun cerita simbolis dan naratif yang muncul dalam bentuk mimpi. Penelitian menunjukkan bahwa mimpi selama fase REM tidak hanya berfungsi sebagai sarana bagi otak untuk memproses emosi, tetapi juga membantu dalam memahami dan mengintegrasikan pengalaman baru.

Menurut Walker dan van Der Helm (2009), fase ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan emosi dan kognisi. Secara keseluruhan, tahapan tidur mencerminkan kerja otak yang luar biasa dalam mengatur fungsi tubuh, memulihkan energi, dan mendukung kesehatan mental. Penelitian lebih lanjut terus dilakukan untuk memperdalam pemahaman tentang hubungan kompleks antara tidur, mimpi, dan kesejahteraan manusia.

Mimpi Menurut Pandangan Neurosains

Mimpi dimulai dengan aktivitas otak spontan yang terkait dengan ingatan baru-baru ini (Solms, 1997, 2000). Mimpi biasanya berasal dari motivasi, ingatan, dan arousal otak sendiri. Antara 75% dan 95% mimpi mengandung konteks emosional dan sebagian besar muncul dari tidur REM (Hobson, et al., 2000; Hobson, Stickgold, & Pace-Schott, 1998). Saat tidur, otak memperoleh informasi yang relatif sedikit dari organ-organ indra, juga area visual dan auditori primer korteks memiliki aktivitas yang lebih rendah daripada biasanya. Oleh karena itu, area otak lainnya bebas menghasilkan gambar tanpa kendala atau gangguan.

Selain itu, korteks motorik primer, primer pun ditekan, seperti juga neuron motorik sumsum tulang belakang, sehingga arousal tidak dapat menyebabkan aksi. Aktivitas ditekan di korteks prefrontal, yang penting untuk memori kerja. Hal ini mengakibatkan kita tidak hanya melupakan sebagian besar mimpi setelah bangun, tetapi kita juga kehilangan jejak tentang apa yang terjadi dalam mimpi, dan perubahan adegan mendadak adalah hal yang biasa (Kalat, 2020). Selain itu, kita juga kehilangan kemauan yaitu perencanaan (Hobson, 2009). Jadi peristiwa yang terjadi dalam mimpi terjadi begitu saja tanpa niat dari kita.

Secara neurologis, mimpi melibatkan struktur penting seperti hippocampus, yang mengintegrasikan memori jangka pendek sehingga pengalaman harian muncul dalam mimpi, dan amigdala, yang memproses emosi, terutama ketakutan, menjelaskan munculnya mimpi buruk. Korteks visual menghasilkan gambar vivid meski mata tertutup, sementara penonaktifan lobus frontal membuat mimpi terasa tidak logis.

Aktivasi acak neuron batang otak selama REM diolah otak menjadi "cerita" (hipotesis aktivasi-sintesis), sedangkan hippocampus membantu konsolidasi memori dan amigdala bekerja dengan korteks prefrontal untuk mengurangi intensitas emosi negatif. Teori seperti kontinuitas harian dan simulasi ancaman menjelaskan fungsi mimpi sebagai refleksi aktivitas sehari-hari atau latihan menghadapi bahaya, sementara mimpi juga membantu pemecahan masalah kreatif.

Faktor seperti kualitas tidur REM, obat-obatan, serta stres memengaruhi mimpi, yang sering dilupakan akibat rendahnya kadar neurotransmitter selama REM. Mimpi mencerminkan dinamika kompleks otak dalam memproses memori, regulasi emosi, dan adaptasi psikologis.

Mimpi dalam Kacamata Psikoanalisis Freud

Dalam teori psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, mimpi dianggap sebagai jalan utama untuk memahami alam bawah sadar. Freud meyakini bahwa mimpi merupakan ekspresi dari keinginan, konflik, dan pikiran yang tertekan, yang tidak dapat diungkapkan secara langsung dalam keadaan sadar. Pandangan ini dituangkan dalam karyanya yang terkenal, The Interpretation of Dreams (1900).

Menurut Freud, mimpi adalah cara untuk memenuhi keinginan bawah sadar yang tidak dapat terwujud dalam kehidupan nyata, sering kali berupa dorongan primitif seperti seksual atau agresif. Mimpi terdiri dari dua lapisan: isi manifest, yang terlihat dan sering simbolis, serta isi laten, yang mencerminkan keinginan atau konflik tersembunyi.

Proses mimpi melibatkan distorsi isi laten melalui simbolisasi atau displacement, dengan banyak elemen mimpi memiliki makna simbolis universal, seperti benda panjang mewakili falus atau wadah mencerminkan aspek feminin. Selain itu, mimpi berfungsi melindungi tidur dengan menyamar konflik yang mengganggu menjadi simbol-simbol yang memuaskan keinginan bawah sadar. Dalam terapi psikoanalisis, analisis mimpi digunakan untuk menggali konflik psikologis melalui teknik asosiasi bebas, menghubungkan elemen mimpi dengan pikiran spontan pasien.

Pandangan Freud tentang mimpi menekankan peran penting alam bawah sadar dalam kehidupan mental manusia. Meskipun teori ini telah menerima banyak kritik, gagasan Freud mengenai mimpi tetap menjadi landasan penting dalam studi psikologi dan terus memengaruhi pendekatan modern terhadap analisis mimpi.

Mimpi dalam Perspektif Kognitif

Menurut Calvin S. Hall (1953) mimpi adalah perwujudan dari proses kognitif. Mimpi adalah media dimana proses psikologis & kognisi diubah menjadi bentuk yang dapat dirasakan, karena mimpi adalah produk dari proses berpikir selama tidur, dan jika berpikir pada dasarnya terdiri dari menghasilkan ide-ide, maka bermimpi juga merupakan proses membayangkan dan gambar mimpi yang dihasilkan dapat dilihat sebagai perwujudan dari konsepsi.

Selanjutnya dalam teori neurokognitif Solms memiliki tiga hipotesis tentang mimpi. Pertama, ia berhipotesis bahwa mekanisme pemicu jaringan saraf untuk pembangkitan mimpi mungkin terletak di wilayah temporal-limbik karena meningkatnya frekuensi mimpi buruk pada pasien dengan kejang lobus temporal. Area ini menyediakan "gairah afektif" (Solms, 1997, hlm. 243).

Kedua, ia melihat materi putih bifrontal sebagai penghubung penting antara korteks frontal dan sirkuit dopaminergik yang menyediakan "minat nafsu" yang diperlukan untuk bermimpi. Hal ini didasarkan pada hilangnya inisiatif, rasa ingin tahu, dan minat eksplorasi pada penderita skizofrenia yang menjalani leukotomi, tetapi sindrom terjaga serupa juga terlihat pada beberapa kasus bifrontalnya. Ketiga, ia percaya bahwa area frontal-limbik merupakan komponen penting dari sistem pembangkitan mimpi karena menyediakan unsur "selektivitas" pada isi mimpi.

Daftar Pustaka

Atmadja, B. (2013). Fisiologi tidur. Maranatha Journal of Medicine and Health, 1(2), 147871. Baranwal, N., Yu, P. K., & Siegel, N. S. (2023). Sleep physiology, pathophysiology, and sleep hygiene. Progress in Cardiovascular Diseases, 77, 59–69. https://doi.org/10.1016/j.pcad.2023.02.005 Domhoff, G. W. (2001). Teori neurokognitif baru tentang mimpi. Dreaming, 11, 13–33. https://dreams.ucsc.edu/Library/domhoff_2001a.html Fischmann, T., Russ, M. O., & Leuzinger-Bohleber, M. (2013). Trauma, dream, and psychic change in psychoanalyses: A dialog between psychoanalysis and the neurosciences. Frontiers in Human Neuroscience, 7, 877. https://doi.org/10.3389/fnhum.2013.00877 Kalat, J. W. (2020). Biopsikologi. (F. Nurjanti, Terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika. Rahmat, M. S. (2022). Analisis mimpi dalam perspektif Ibnu Qutaibah dan Calvin S. Hall (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim). Roesler, C., & Widmer, D. (2023). Amalia revisited: A reanalysis of Amalia's dreams with the method structural dream analysis. Brain Sciences, 13(5), 796. https://doi.org/10.3390/brainsci13050796 Walker, M. P., & van Der Helm, E. (2009). Overnight therapy? The role of sleep in emotional brain processing. Psychological Bulletin, 135(5), 731.