Konten dari Pengguna

Ethiopia, Negeri asal Bilal yang juga Negeri Penjual Handal

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zidny Taqiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Istimewa. Visit Ethiopia
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Istimewa. Visit Ethiopia

Izinkan penulis untuk bertanya, apa yang terlintas dikepala pembaca ketika mendengar kata Afrika? Kebanyakan dari kita pasti memikirkan kemiskinan, kemunduran atau bahkan keterbelakangan dari sebuah benua, tidak mengherankan karena selama ini masyarakat Indonesia tidak banyak mengetahui informasi tentang Afrika, informasi yang kita dapat hanya lewat media, film dan gambar-gambar yang memperlihatkan seolah benua Afrika adalah negeri yang tertinggal.

Begitupun dengan penulis, tidak pernah terfikir sedikitpun bahwa penulis akan menginjakan kaki di bumi Afrika, Mesir mungkin terlintas karena Piramida atau Kampus Al Azhar, tetapi negara lain, terlebih Ethiopia adalah negara yang tak terpernah terbayangkan sebelumnya, maka ketika terdapat penawaran untuk umroh dengan transit melalui Ethiopa, keraguan hadir di benak penulis.

Penulis mendapatkan kesempatan (atau mungkin lebih tepatnya panggilan) untuk melaksanakan Ibadah Umrah melalui Program Umroh Guru yang diselenggarakan oleh Travel Safaroh, Travel ini memberikan promo khusus untuk Guru dan Dosen untuk melaksanakan Umrah dengan biaya yang terjangkau, sebagai gambaran biaya Umrah ini lebih murah bahkan dibandingkan dengan Umrah Mandiri sekalipun.

Pada awalnya keberangkatan ini akan menggunakan maskapai asal Indonesia yang berlogo singa, Namun, menjelang keberangkatan terdapat kenaikan harga yang cukup besar bagi para Jamaah, akhirnya pihak Safaroh Travel memutar otak untuk mencari penerbangan dengan Alternatif lain yang lebih murah, dan setelah mencari dan mengkomparasi harga pilihan jatuh pada Ethiopian Airlines dengan Transit di Addis Ababa yang menyediakan City Tour secara gratis pada penumpangnya sebelum berangkat ke tanah suci.

Pilihannya hanya dua, berangkat melalui Ethiopia atau refund, banyak pertimbangan yang awalnya meragukan, mulai dari penerbangan yang lebih lama sampai 12 Jam, Hanta Virus yang dirumorkan mulai menyebar di Afrika sampai yang paling mengkhawatirkan adalah apakah keselamatan para penumpang terjamin. Tak mengherankan dari 100 Jamaah yang seharusnya berangkat hanya 24 orang yang menyatakan kesediannya.

Namun, disisi lain penerbangan melalui Ethiopia ini sangat menantang adrenalin, petualangan baru, terlebih Ethiopia adalah negara dari salah satu sahabat nabi Bilal Bin Rabah yang terkenal memiliki suara yang merdu dan merupakan Muadzin pertama bagi kaum muslimin, belakangan juga diketahui bahwa Ethiopia adalah salah satu penghasil biji kopi terbaik di dunia, akhirnya penulis dan keluarga memutuskan untuk memilih berangkat melalui Ethiopia sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Dok. Istimewa Penulis di Bandara Addis Ababa Internasional Airport

Sesampainya di Addis Ababa, suasana Afrika yang seperti gurun dan gersang jauh dari bayangan penulis, mendarat di Addis Ababa pada dini hari, suasana yang hadir justru dingin. bahkan sampai jam 7 pagi hari, udaranya masih terasa dingin, kami satu rombongan kemudian diarahkan menuju hotel yang disebutnya Hotel Bintang 4, meskipun harus diakui pelayanan hotelnya tak ubahnya bintang 2 atau bintang 3 di Indonesia.

Terdapat hal menarik dalam pelayanan hotel di Addis Ababa ini, disetiap kamar, hanya disediakan 1 botol air mineral, meskipun didalam terdiri dari 2 sampai 3 orang, saat makan siangpun mereka menanyakan berapa orang dalam satu kamar, sehingga mereka memberikan satu orang satu botol air minum, fakta yang kemudian penulis ketahui bahwa air mineral adalah barang yang terbilang mewah disini, sepanjang city tour sampai kembali ke Bandara kami tidak disediakan air minum, termasuk tidak ada dispenser air di lobby hotel, karenanya jikalau habis mau tidak mau harus beli.

Perjalanan city tour kami juga menarik perhatian penulis, sepanjang jalan Tour Leader yang memimpin tour kami, menjelaskan dengan Bahasa Inggris, Rombongan ini terbilang beruntung karena terdiri atas guru dan dosen sehingga beberapa Jamaah mengerti akan bahasa Inggris, karena sejatinya hal ini akan menyulitkan ketika Tour Leader tidak bisa bahasa rombongan, sepengalaman penulis mengunjungi Asia Timur dan Vietnam kebanyakan Tour Leader bisa bahasa wisatawan yang hadir tak sedikit yang pernah tinggal atau menjadi Mahasiswa di Indonesia.

Saat mengunjung Museum Bilalul Habeshi di Addis Ababa Tour Leader museum yang menjelaskan Full menggunakan Bahasa Inggris dengan campuran Bahasa Arab, beruntung penulis pernah mengeyam pendidikan di Pesantren sehingga tidak asing dengan Bahasa Arab, karenanya penulis juga membantu menterjemahkan apa yang disampaikan oleh Pihak Meseum bahkan sempat memberikan testimoni dalam Bahasa Inggris dan Arab.

Museum Bilalul Habeshi sejatinya adalah museum yang menarik, dia menjelaskan asal usul Bilal Bin Rabah saat di Ethiopia dan menuju ke Mekkah, Surat yang dikirim oleh Rasullullah S.A.W kepada Raja Habasyah (Nama Ethiopia di zaman kerajaan dulu) termasuk perjalanan Hijrah Utsman bin Affan ke Habasyah pada zaman dahulu.

Mereka juga menampilkan banyak orang Ethiopia yang menjadi Pengajar di Masjid Nabawi maupun masjidil Haram seperti Syekh Muhammad al-Amin al-Habashi juga Syekh Muhammad Tsani al-Habashi meskipun untuk hal ini penulis memiliki catatan tersendiri.

Menurut penulusuran sejarah, Indonesia justru lebih hebat lagi jika dibandingkan dengan Ethiopia, karena sejarah mencatat terdapat ulama kita yang tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga menjadi Imam masjidil haram yakni Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, bahkan beberapa Pengajar yang terkenal seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Abdul Hamid al-Qudsi sampai Syekh Mahfudz al-Tarmasi juga turut mengharumkan nama Indonesia di Tanah Haram. Mereka bahkan mengakui bahwa orang Ethiopia kebanyak merupakan Khadimah (abdi dalem) yang kemudiaan menuntut Ilmu dan menjadi pengajar, sedangkan orang Indonesia kebanyakan adalah para ulama di negeri asalnya dan menjadi ulama di Tanah yang begitu mulia di Mekkah dan Madinah.

Dok. Istimewa. Penjelasan Para Ulama Ethiopia di Museum Bilalul Habeshi

Setelah mengunjungi Meseum Bilalul Habeshi, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat Kopi di Ethiopia, Ethiopia terkenal akan Kopinya yang begitu luar biasa, mereka mengklaim bahwa Kopi Arabika yang terkenal diseluruh dunia itu awalnya ditemukan di Ethiopia, disamping itu mereka memiliki Kopi Ethiopia yang terkenal akan rasa dan aroma yang khas, salah satu yang menarik perhatian penulis adalah mereka meyakini kopi mereka adalah yang terbaik didunia, itu terlihat dari Kopi mereka yang dijual di Caffe estetik di Mekkah yang bernama 1/2M dimana Kopi mereka bersanding dengan Kopi Brazil dan kopi terkenal lainnya di seluruh dunia.

Melihat Fenomena ini penulis justru tertarik dengan cara mereka menyajikan, mereka menyajikan kopi dengan popcorn sebagai pendampingnya, dan saat dinikmati harus diakui meskipun bukan pencinta kopi, tetapi kopi yang disajikan begitu nikmat dan cocok dimakan dengan popocorn. Kopi Ethiopia memiliki rasa unik yang sedikit asam dan dicampur dengan popocorn yang manis rasanya begitu pas dimulut.

Dok. Istimewa. Menikmati kopi dengan Popcorn di Ethiopia

Penulis bukanlah penikmat kopi, tetapi Tuhan yang Maha Pengasih memberikan kesempatan untuk menikmati banyak sekali kopi, mulai dari Kopi Ginseng di Korea, Kopi Vietnam, sampai Kopi Ethiopia, secara jujur kopi-kopi yang disajikan tidak terlalu jauh berbeda dengan kopi-kopi yang ada di Negeri sendiri, bahkan jika negara-negara yang penulis sebutkan diatas menjualnya atas nama Kopi dari sebuah negara, sedangkan kita menjualnya dengan Kopi atas nama daerah misalnya Kopi Gayo, Kopi Toraja sampai Kopi Sidikalang seluruhnya membawa nama daerah asal.

Namun, yang membedakan antara Kopi Ethiopia dengan kopi yang lain adalah mereka mengetahui dan paham cara menjualnya keseluruh dunia, bahkan kami sebagai turis yang hanya singgah sebentar di Ethiopia diperkenalkan Kopi mereka, sehingga kami memutuskan untuk membeli dan membawanya sebagai buah tangan.

Fakta yang tak kalah mengejutkan untuk penulis adalah bahwa Muslim yang ada di Ethiopia hanya berkisar sekitar 30% dari jumlah penduduknya, tetapi mereka menyediakan paket perjalanan umrah murah melalui Ethiopia dan diarahkan ke Hotel serta citytour secara gratis sehingga wisatawan yang datang bisa mengenal dan mengetahui betapa indah dan menariknya Ethiopia yang jauh dari khayalan kita semua.

Pada Akhirnya, penulis menulis catatan ini sebagai pembelajaran untuk negara kita, bahwa Ethiopia bukanlah negeri yang kaya akan sumber daya alam ataupun mineral, untuk air saja mereka terbatas sekali dalam memberikannya, tetapi mereka adalah pedagang handal yang tau cara 'menjual negaranya' kepada dunia, mereka memperkenalkan Museum Bilal meskipun bukan mayoritas islam, mereka menjual kopi meskipun hanya memiliki satu kopi bahkan mereka berani memperkenalkan negerinya ke wisatawan dengan bahasa inggris dan bahasa arab seadanya, mungkin yang mereka tawarkan bukanlah yang terbaik, tetapi mereka tau cara menjual yang baik, karena barang yang bagus dan barang yang laku dijual adalah dua hal yang berbeda bukan, karena tidak ada barang yang tidak laku dijual yang ada hanya barang yang dipasarkan salah.

Sebagai Wisatawan yang datang tanpa ekspektasi, Penulis harus mengakui Ethiopia adalah negeri penjual yang handal dalam mempromosikan negaranya, setidaknya bagi penulis kesan positif ini akan membekas, bahkan saat penulis bercerita tentang Ethiopia kepada salah seorang rekan penulis, yang bersangkutan kemudian bertanya: 'Kapan akan ada lagi Umrah via Ethiopia, jikalau ada tolong kabari ya, saya mau ikut'. Penulis akhirnya menyadari bahwa Impresi yang positif adalah senjata promosi yang ampuh dan Ethiopia berhasil melakukannya. Terima kasih/ Amesegenallo, Ethiopia (አመሰግናለሁ፣ ኢትዮጵያ)