Konten dari Pengguna

Pentingnya Upskilling dan Reskilling untuk Menghadapi Disrupsi Teknologi

Zilha Nurmaliza

Zilha Nurmaliza

Institusi: S1 Manajemen - Mahasiswa, Profesi: Audience/Reader.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zilha Nurmaliza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi keterampilan tenaga kerja muncul sebagai respons terhadap meningkatnya otomatisasi yang mengancam pekerjaan konvensional. Ide meningkatkan keterampilan dan mengubah keterampilan ini menjadi semakin penting di zaman perubahan teknologi, seiring dengan pergeseran kebutuhan kompetensi di dunia kerja.

Penulis: Zilha Nurmaliza

sumber: https://www.canva.com/design/DAGoJnQfFqI/Mv1dN1jX1gwS9wQOyOYzGA/edit?utm_content=DAGoJnQfFqI&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton
zoom-in-whitePerbesar
sumber: https://www.canva.com/design/DAGoJnQfFqI/Mv1dN1jX1gwS9wQOyOYzGA/edit?utm_content=DAGoJnQfFqI&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

kumparan.id-Dunia kerja yang kita ketahui sepuluh tahun lalu telah mengalami perubahan yang signifikan. Perkembangan teknologi yang berkembang sangat cepat telah menghasilkan lingkungan baru yang dipenuhi dengan berbagai kesempatan dan juga tantangan.

Kecerdasan buatan yang semakin maju, otomatisasi dalam berbagai proses bisnis, serta transformasi digital yang besar bukan hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga secara mendasar mengubah kebutuhan terkait keterampilan tenaga kerja. Dalam menghadapi kondisi baru ini, peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang telah beralih dari sekadar program pengembangan sumber daya manusia menjadi kebutuhan strategis untuk dapat bertahan dan tumbuh di tengah disrupsi teknologi.

Laporan World Economic Forum tahun 2023 memberikan wawasan yang jelas mengenai besar perubahan yang sedang berlangsung. Diperkirakan dalam lima tahun ke depan, sekitar 85 juta pekerjaan akan lenyap karena otomatisasi, sementara 97 juta posisi baru akan muncul dengan kebutuhan keterampilan yang sangat berbeda.

Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 60% tenaga kerja saat ini belum memiliki kemampuan digital yang cukup untuk menghadapi perubahan ini. Data ini menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan yang memprihatinkan antara kapasitas tenaga kerja sekarang dan apa yang akan dibutuhkan oleh pasar kerja di masa mendatang.

sumber: https://www.canva.com/design/DAGoJnQfFqI/Mv1dN1jX1gwS9wQOyOYzGA/edit?utm_content=DAGoJnQfFqI&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Disrupsi teknologi yang sedang kita hadapi saat ini berbeda dengan revolusi industri yang telah terjadi sebelumnya dalam tiga hal utama: kecepatan transformasi, ukuran pengaruhnya, dan sifatnya yang mendunia. Jika pada revolusi industri sebelumnya perubahan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk merombak dunia kerja, kini transformasi ini berlangsung dalam beberapa tahun, dan bulan.

Munculnya teknologi AI generatif seperti ChatGPT, misalnya, dalam waktu yang relatif singkat telah mengubah cara orang bekerja di berbagai sektor, mulai dari penulisan konten hingga pengembangan perangkat lunak. Tidak hanya pekerjaan manual yang berada dalam risiko, tetapi juga posisi berbasis pengetahuan yang sebelumnya dianggap aman dari pengaruh otomatisasi.

Upskilling dan Reskilling: Apa Perbedaannya dan Mengapa Keduanya Penting?

Upskilling merujuk pada usaha untuk memperdalam atau memperbarui keterampilan yang telah dimiliki agar sesuai dengan kemajuan teknologi. Contohnya, seorang akuntan yang mempelajari cara menggunakan perangkat lunak analisis keuangan yang didukung AI untuk mempercepat proses audit.

Reskilling adalah proses pembelajaran kembali untuk mempelajari keterampilan baru yang berbeda dari bidang sebelumnya, umumnya karena pekerjaan lama mulai tergantikan oleh teknologi. Sebagai contoh, seorang kasir di toko ritel yang beralih menjadi spesialis pembayaran digital setelah penerapan sistem kasir otomatis.

Keduanya sangat penting karena (1) Perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi akan tertinggal dari rivalnya. Contoh yang jelas adalah bagaimana layanan taksi konvensional tergantikan oleh aplikasi ride-hailing seperti Gojek dan Grab. (2) Menghindari pengangguran massal: Tanpa pelatihan ulang, pekerja yang terpengaruh oleh otomatisasi tidak akan memiliki alternatif karier. (3) Mendorong kreativitas: Karyawan yang senantiasa belajar akan menghadirkan pandangan baru dan gagasan inovatif.

Langkah Praktis Memulai Upskilling/Reskilling

sumber: https://www.canva.com/design/DAGoJnQfFqI/Mv1dN1jX1gwS9wQOyOYzGA/edit?utm_content=DAGoJnQfFqI&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Memulai proses peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang sebenarnya tidak sesulit yang dipikirkan, asalkan dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Langkah awal adalah melakukan penilaian diri untuk mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki dan menemukan kekurangan kompetensi yang perlu diperbaiki. Berbagai platform seperti SkillScan atau tes kompetensi di LinkedIn Learning dapat membantu dalam tahap ini.

Setelah mengidentifikasi area yang perlu dikembangkan, carilah sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan-bisa melalui kursus online di situs seperti Coursera atau Dicoding, mengikuti webinar dari industri, atau bergabung dengan komunitas profesional di bidang yang diinginkan.

Kuncinya adalah memulai dari dasar sebelum melangkah ke materi yang lebih rumit, sambil langsung menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui proyek nyata atau pekerjaan sehari-hari. Jangan lupa untuk memanfaatkan berbagai dukungan yang ada misalnya program Kartu Prakerja atau subsidi pelatihan dari perusahaan.

Yang paling penting adalah konsistensi-sediakan waktu khusus setiap minggu untuk belajar, meskipun hanya 30 menit sehari, karena akumulasi pembelajaran kecil secara rutin jauh lebih efektif daripada usaha maraton yang tidak teratur.

Bagi organisasi, penanaman modal dalam peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang karyawan telah berevolusi dari hanya sekadar aktivitas CSR menjadi strategi utama bisnis yang penting. Perusahaan yang berhasil menciptakan budaya pembelajaran yang terus-menerus akan memperoleh sejumlah keuntungan kompetitif.

Pertama, mereka akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi. Kedua, biaya untuk merekrut dan melatih karyawan baru bisa berkurang secara drastis karena mampu mengembangkan bakat dari dalam. Ketiga, tingkat retensi karyawan akan mengalami peningkatan karena para pekerja cenderung lebih setia pada perusahaan yang memperhatikan kemajuan karier mereka. Sebuah riset yang dilakukan oleh LinkedIn di tahun 2023 menunjukkan bahwa 94% karyawan akan bertahan lebih lama di organisasi yang secara aktif mendukung pengembangan keterampilan mereka.

sumber: https://www.canva.com/design/DAGoLNXeZvY/p7q328KhDZ6f71nf0nW80A/edit?utm_content=DAGoLNXeZvY&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Namun, pelaksanaan program pengembangan keterampilan ini menghadapi berbagai kendala. Salah satu rintangan utama adalah ketidakpastian dari beberapa karyawan yang telah terbiasa dengan metode kerja tradisional.

Selain itu, ada juga masalah kesenjangan digital yang masih cukup signifikan di Indonesia, di mana tidak semua pekerja memiliki akses atau kemampuan dasar yang cukup untuk berpartisipasi dalam pelatihan yang berbasis teknologi. Di samping itu, desain program yang tidak sesuai dengan kebutuhan nyata perusahaan juga sering kali menjadi faktor penyebab kegagalan.

Di tingkat nasional, pemerintah telah mengambil beberapa langkah positif melalui program seperti Kartu Prakerja dan Digital Talent Scholarship. Namun, upaya ini perlu diperluas dan diperdalam, terutama dalam hal menjangkau pekerja di sektor informal yang justru paling rentan terhadap dampak disrupsi teknologi.

Pada akhirnya, di zaman di mana perubahan adalah satu-satunya hal yang tetap, kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan berkembang menjadi keterampilan yang paling berharga yang dapat dimiliki seseorang. Seperti yang diungkapkan oleh futuris Alvin Toffler, "Orang yang tidak berpendidikan di abad 21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak mampu belajar, menghapus, dan belajar kembali."

Meningkatkan keterampilan dan mengubah keterampilan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan mendasar bagi individu yang ingin tetap relevan, perusahaan yang ingin bertahan dalam persaingan, dan negara yang ingin maju di era digital. Di dunia yang terus berubah dengan cepat ini, satu hal yang pasti: masa depan bukanlah sesuatu yang kita tuju, tetapi sesuatu yang harus kita ciptakan. Dan upskilling serta reskilling adalah senjata utama kita dalam menciptakan masa depan tersebut.

Dampak Nyata bagi Perusahaan dan Karyawan

Bagi Karyawan:

  1. Memperluas kesempatan kerja: Salah satu contoh yang jelas adalah seorang pendidik yang mempelajari pembuatan konten untuk e-learning dapat bertransisi menjadi perancang pembelajaran.

  2. Meningkatkan daya saing di pasar pekerjaan: Kemampuan digital seperti pemrograman atau analisis data sangat dicari, dengan imbalan gaji yang menarik.

  3. Melindungi masa depan: Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, karyawan dengan berbagai keterampilan lebih kebal terhadap pemutusan hubungan kerja.

Bagi Perusahaan:

  1. Mengurangi pengeluaran untuk rekrutmen: lebih hemat untuk melatih karyawan yang sudah ada daripada mencari talenta baru.

  2. Meningkatkan retensi karyawan: Para pegawai biasanya lebih loyal dan setia jika perusahaan memperhatikan kemajuan mereka. Menurut survei LinkedIn, 94% pekerja lebih cenderung bertahan di perusahaan yang mendukung pelatihan.

  3. Mempercepat penerapan teknologi: Tim yang telah familiar dengan alat digital akan lebih sigap dalam mengadopsi inovasi baru.

Meski manfaatnya jelas, pelaksanaan upskilling dan reskilling sering terkendala oleh:

Karyawan yang tidak mau beradaptasi

Solusi: Tingkatkan pemahaman melalui cerita sukses, contohnya menampilkan bagaimana rekan kerja berhasil berpindah karier setelah mengikuti pelatihan.

Kendala anggaran

Solusi: Gunakan platform daring seperti Skill Academy, Coursera, atau inisiatif pemerintah seperti Kartu Prakerja. Pelatihan secara digital seringkali lebih terjangkau dibandingkan dengan workshop tatap muka.

Waktu pelatihan yang mengganggu tugas pekerjaan

Solusi: Terapkan microlearning (sesi pembelajaran singkat 15-30 menit per hari) atau sistem belajar di tempat kerja.

Beberapa perusahaan besar di Indonesia telah menjadi pionir dalam melakukan program peningkatan keterampilan dan pengalihan keterampilan dengan hasil yang signifikan.

Bank Central Asia (BCA) melalui BCA Learning Institute telah berhasil memberikan pelatihan kepada ribuan pegawainya dalam bidang-bidang utama seperti perbankan digital, keamanan siber, dan ilmu data, mempersiapkan mereka untuk menghadapi perubahan besar dalam sektor keuangan.

Selain itu, Telkom Indonesia menunjukkan tekadnya dengan meluncurkan program Digital Talent Scholarship yang bekerja sama dengan Kominfo, menawarkan pelatihan gratis dalam teknologi terkini seperti komputasi awan, kecerdasan buatan, dan big data - tidak hanya untuk pegawai internal tetapi juga untuk masyarakat umum.

Contoh tersebut menunjukkan bagaimana investasi dalam pengembangan keterampilan dapat menghasilkan tenaga kerja yang lebih fleksibel dan bersaing di era digital.

sumber: https://www.canva.com/design/DAGoJnQfFqI/Mv1dN1jX1gwS9wQOyOYzGA/edit?utm_content=DAGoJnQfFqI&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Artikel ini bisa diperkaya dengan infografik tentang "Top 10 Skills Paling Dicari di 2025" atau wawancara dengan praktisi HR.