Less Sugar, Please: Tren Sesaat atau Kesadaran yang Lama Tertunda?

Mahasiswa Prodi Statistika Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dwi Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu memperhatikan betapa berbedanya antrian di kedai kopi sekarang dibanding lima tahun lalu? Orang yang memesan dengan level gula penuh terasa seperti minoritas, sementara "less sugar," "gak pakai gula," atau "gulanya setengah aja" meluncur begitu saja dari mulut orang-orang sebelum kamu. Sesuatu yang dulu terasa seperti pilihan orang yang terlalu rewel kini menjadi hal yang sangat biasa diucapkan, bahkan oleh orang yang sama sekali tidak sedang diet atau punya kondisi kesehatan tertentu. Yang lebih menarik, perubahan ini tidak terjadi karena ada kampanye besar-besaran dari pemerintah atau iklan yang masif dari brand tertentu, melainkan tumbuh secara organik dari kesadaran yang perlahan menyebar dari satu orang ke orang lain.

Di TikTok, X, dan Threads, percakapan soal gula berlangsung setiap hari dengan intensitas yang tidak pernah surut. Orang-orang berbagi cerita tentang bagaimana mereka mengurangi gula dan merasakan perbedaannya sendiri, pada energi yang lebih stabil, tidur yang lebih nyenyak, sampai kulit yang katanya ikut membaik. Yang menarik, konten semacam itu tidak lagi hanya datang dari dokter atau ahli gizi, tapi dari orang-orang biasa yang berbagi pengalaman pribadinya dengan bahasa yang mudah dicerna. Ketika seseorang yang tampilannya sama seperti kamu bercerita bahwa ia berhenti minum minuman manis selama sebulan dan badannya terasa lebih ringan, itu jauh lebih meyakinkan daripada infografis dari instansi kesehatan mana pun.
Bukan Hanya Soal Kopi
Perubahan ini tidak berhenti di meja kasir coffee shop pusat kota saja. Ibu-ibu yang membeli susu kotak untuk anaknya sekarang lebih sering membalik kemasan dan membaca komposisi sebelum menaruhnya di keranjang belanja, sesuatu yang sepuluh tahun lalu hampir tidak pernah dilakukan. Pilihan antara dua produk serupa tidak lagi melulu soal harga atau merek, tapi juga mulai mempertimbangkan berapa gram gula yang ada di dalamnya. Pergeseran di rak minimarket itu, sekecil apa pun terlihatnya, adalah bukti bahwa kesadaran konsumen akhirnya bisa menggerakkan industri.
Pergeseran lain yang tidak kalah nyata terlihat dari bagaimana orang sekarang memperlakukan air putih. Tumbler dan botol minum stainless yang dulu identik dengan orang yang terlalu serius soal gaya hidup sehat kini ada di hampir setiap meja kantor, bangku kuliah, bahkan di tangan siswa sekolah menengah. Orang mulai menyadari bahwa salah satu sumber gula tersembunyi terbesar dalam keseharian mereka adalah kebiasaan mengganti air putih dengan minuman manis yang sudah dianggap normal bertahun-tahun. Kesadaran sekecil itu, jika dikalikan jutaan orang, adalah perubahan yang tidak bisa dianggap remeh.
Angka yang Tidak Bisa Terus Diabaikan
Tentu ada alasan mengapa kesadaran ini mulai tumbuh justru sekarang, dan sebagian besar jawabannya ada pada angka yang semakin sulit diabaikan. Indonesia saat ini berada di peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak, lebih dari 20 juta orang berdasarkan data International Diabetes Federation 2024. Prevalensi diabetes di Indonesia melonjak dari 6,9 persen pada 2013 menjadi 10,9 persen pada 2018, dan angkanya terus bergerak naik hingga hari ini. Statistik itu bukan lagi sekadar angka di laporan kesehatan, melainkan sesuatu yang terasa personal ketika orang-orang di sekitar kita mulai berjuang dengan penyakit yang seharusnya bisa dicegah jauh lebih awal.
Kesadaran yang Belum Merata
Namun perlu diketahui bahwa perubahan ini masih jauh dari merata. Polling Populix pada Juli 2024 menunjukkan baru 28 persen responden yang secara aktif memilih produk berlabel rendah gula, sementara mayoritas masih bergerak atas dasar kebiasaan lama. Ironisnya, kelompok yang paling vokal bicara soal gaya hidup rendah gula di media sosial justru bukan selalu yang paling konsisten mempraktikkannya. Ada juga kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi bahwa produk rendah gula hampir selalu dibanderol lebih mahal, sehingga pilihan untuk lebih sehat tidak selalu bisa diakses semua kalangan.
Less Sugar: Tren Sesaat atau Tidak?
Pertanyaan apakah ini hanya tren sesaat memang belum bisa dijawab dengan pasti hari ini. Tren datang dan pergi, dan tidak sedikit gelombang gaya hidup sehat yang ramai di media sosial lalu menghilang begitu saja ketika topik berikutnya datang. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda kali ini, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar estetika gaya hidup atau keinginan untuk terlihat sehat di mata orang lain. Kesadaran yang tumbuh dari pengalaman personal, dari melihat orang tua berjuang dengan diabetes atau merasakan sendiri efek buruk konsumsi gula berlebih, jauh lebih sulit untuk dilupakan begitu saja.
Yang perlu dijaga sekarang adalah agar momentum ini tidak berhenti menjadi percakapan di kolom komentar saja. Industri perlu didorong untuk benar-benar membuat pilihan sehat terjangkau oleh semua kalangan, bukan hanya mereka yang punya cukup uang untuk memilih. Pemerintah perlu memastikan regulasi pelabelan gizi berjalan serius dan mudah dibaca konsumen biasa. Karena kesadaran tanpa perubahan nyata, pada akhirnya, hanya akan menjadi konten yang ditonton hari ini dan dilupakan esok hari.
