Kumparan Logo

3 Smelter Nikel Bakal Beroperasi Tahun Ini

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tambang nikel. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tambang nikel. Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Sebanyak 3 pabrik pemurnian atau smelter nikel ditargetkan bakal beroperasi tahun ini. Ketiga smelter tersebut saat ini masih dalam tahap pembangunan dengan progres beragam, 76 persen sampai mendekati 100 persen.

Direktur Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak, mengatakan ketiga smelter nikel tersebut salah satunya adalah smelter PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Tanjung Buli, Halmahera Timur.

Di smelter tersebut, Antam memproses bijih (ore) nikel menjadi feronikel (FeNi) dengan kapasitas ore nikel 1 juta. Yunus mengatakan, smelter nikel tersebut seharusnya beroperasi pada Juli 2019 tapi mundur satu bulan jadi Agustus 2019.

"Itu akan beroperasi mundur karena source power-nya, mundur jadi Agustus," kata Yunus saat ditemui di Gedung Komisi VII, DPR RI, Jakarta, Senin (8/7).

Berdasarkan data dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, dengan kapasitas 1 juta bijih nikel bisa menghasilkan 13.500 feronikel. Smelter ini sepenuhnya milik Antam yang Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dilakukan kontraktor Jepang.

Smelter nikel kedua adalah dari PT Wanatiara Persada. Lokasinya terletak di daerah Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Kata Yunus, kapasitasnya 2 juta ton per tahun. Untuk jadwal operasinya diperkirakan mulai Agustus 2019.

Smelter nikel ketiga yang bakal beroperasi adalah PT Bintang Smelter Indonesia. Lokasinya di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

"Kapasitas 900.000 ton per tahun. NPI produknya. Ini sudah beroperasi di awal tahun ini," kata dia.

Secara keseluruhan, ada 22 smelter nikel yang bakal dibangun hingga 2022 dengan total input bijih nikel yang bisa diolah mencapai 46,3 juta ton. Dari 22 smelter nikel yang dibangun, 17 smelter di antaranya pembangunannya baru 0-25 persen, 1 smelter baru 25-51 persen, dan 1 smelter lagi 51-75 persen.

Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin, yang hadir di Komisi VII mengatakan selain smelter nikel Antam di Tanjung Buli, perusahaan juga tengah melakukan hilirisasi di sektor minerba yang lain, yaitu hilirisasi batu bara menjadi listrik di Tanjung Enim yang dikerjakan PT Bukit Asam Tbk bersama dengan kontraktor China Huadian Power.

"Sudah dua tahun lalu jalan, itu bakal hidup (beroperasi) di 2022," kata dia.

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Lalu, ada proyek Smelter Grade Alumina. Dalam proyek ini, Inalum punya kendali 60 persen dan Antam 40 persen. Saat ini, perusahaan tengah melakukan proses finalisasi EPC antara BUMN Karya dan kontraktor China. Smelter ini berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, yang ditargetkan beroperasi pada 2022.

Selain itu, ada proyek hilirisasi gasifikasi batu bara menjadi DME yang dilakukan PTBA, Pertamina, dan perusahaan gasifikasi asal Amerika Serikat, Air Product. Lokasinya di Peranap dan ditargetkan operasi pada 2022.

Budi mengatakan, hilirisasi yang digarap Inalum bersama anggota dalam holding pertambangan di masa depan bisa mendatangkan untung besar bagi Indonesia, yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memangkas defisit neraca perdagangan (CAD).

Dia mencontohkan dengan harga jual ekspor nikel sejauh ini USD 3.500 per ton, sementara setelah diproses menjadi feronikel harganya bisa USD 12.680 per ton. Dengan asumsi nilai tambah seperti itu, dampak ekonomi dalam negeri akan semakin terasa.

"Berkaca dari Amerika Serikat, kalau ekspor seluruh produk tambang mentah kontribusi (hanya) 0,6 persen dari GDP-nya mereka. Kalau penghiliran nilai tambah tujuh kali lebih besar," katanya.