Giant Tutup Gerai, Benarkah Bisnis Ritel Lesu dan Daya Beli Turun?

Sejumlah gerai ritel atau pusat perbelanjaan modern berguguran dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dari mulai gerai 7-Eleven hingga yang terakhir PT Hero Supermarket Tbk juga akan menutup 6 gerai Giant mulai Juli 2019.
Banyak pihak menilai kondisi tersebut disebabkan bisnis ritel yang tengah lesu dan daya beli masyarakat yang melemah. Selain itu, disrupsi juga turut menyebabkan sektor ritel banyak yang gulung tikar.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Faisal, memiliki pandangan lain soal bergugurannya ritel. Menurut dia, banyaknya ritel yang gulung tikar bukan disebabkan tengah lesunya bisnis di sektor tersebut.
Sebab, berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia pada April 2019, penjualan eceran malah tetap tumbuh positif. Indeks Penjualan Riil tercatat sebesar 229,3 atau tumbuh 6,7 persen secara year on year (yoy).
"Sebenarnya ritel tidak lesu. Indikator di BI itu kuartal I naik kok. Setelah mengalami kontraksi pada 2018, mulai awal tahun ini sebenarnya sudah membaik," kata Faisal kepada kumparan, Senin (24/6).
Menurut Faisal, tutupnya gerai Giant juga tidak dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang melemah. Namun, hal tersebut diakibatkan oleh persaingan usaha yang semakin ketat serta pola belanja masyarakat yang berubah.
Saat ini, kata dia, pola belanja masyarakat bergeser dari yang awalnya berbelanja di gerai besar seperti Giant, berubah menjadi berbelanja di gerai menengah seperti Alfamart dan Indomaret.
Ritel besar tersebut menurut Faisal kalah inovasi jika dibandingkan dengan ritel menengah. Menurut dia, ritel menengah menawarkan variasi produk yang semakin lengkap. Ditambah posisi ritel menengah lebih dekat dengan penduduk.
"Seperti Alfamart dan Indomaret itu dekat dengan penduduk, makin inovatif," ujarnya.
Terlebih juga dari segi harga, kini ritel menengah juga semakin mampu bersaing dengan ritel besar. Dulu, menurut Faisal, masyarakat lebih cenderung memilih untuk belanja bulanan alias dalam skala banyak karena harganya jauh lebih murah.
Namun budaya tersebut kini mulai pudar. Sebab ritel menengah pun menawarkan promo alias harga yang lebih terjangkau, tanpa harus berbelanja dalam skala besar.
"Sekarang harga enggak banyak beda. Artinya kebutuhan untuk belanja bulanan berkurang. Sama saja, masyarakat akhirnya belanja mingguan atau harian," katanya.
Selain harga, customer experience yang ditawarkan antara ritel besar seperti Giant dengan ritel menengah sekelas Alfamart pun tidak jauh berbeda. Menurut Faisal, kebanyakan gerai Giant merupakan bangunan yang berdiri sendiri, tidak menyatu misalnya dengan pusat perbelanjaan.
Sedangkan masyarakat, kata dia, sekarang cenderung mencari ritel besar yang juga menawarkan customer experience yang inovatif. "Yang dicari biasanya lokasinya di pusat perbelanjaan, karena sekalian refreshing," ujarnya.
Kombinasi kondisi tersebut menurut Faisal akhirnya berhasil menekan eksistensi ritel skala besar. Faisal menyarankan, perusahaan ritel di era saat ini harus berani berinovasi dan memahami kecenderungan perilaku konsumen.
"Retail harus lebih responsif terhadap kebutuhan konsumen yang berubah dinamis. Harus bisa melihat selera masyarakat," katanya.
