Pencarian populer

Waspada Investasi Bodong dengan Imbal Hasil Menggiurkan

Ilustrasi investasi properti Foto: nattanan23/Pixabay

Baru-baru ini, mencuat kabar soal sejumlah warga yang mendatangi sebuah rumah di Kompleks Alam Asri Residence, Kota Cimahi, Jawa Barat pada Kamis (13/6) kemarin. Mereka datang untuk menagih uang imbal hasil investasi bodong dengan nominal menggiurkan yang dijanjikan MS, sang pemilik rumah. Total dana yang dihimpun MS mencapai Rp 82 miliar, dengan kedok budidaya kesemek hingga deposito berjangka.

Korban yang tertipu oleh perbuatannya mencapai lebih dari 300 orang dan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa di antaranya, tergiur dengan tawaran MS melalui siaran radio Mora.

Head of Expertise Group Finance PPM Manajemen, Yanuar Andrianto mengatakan fenomena investasi bodong yang terjadi itu memang bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti psikologi seseorang yang irasional yang tak lepas dari persuasi dari lingkungan.

"Biasanya sangat bergantung dengan investor lain, dari mulut ke mulut, perkumpulan-perkumpulan karena based on trust biasanya ikut-ikutan, yang dinamakan herding," ujarnya kepada kumparan, Sabtu (15/6).

Di sisi lain, Yanuar menyebut masyarakat bisa juga karena termakan oleh informasi-informasi hoaks yang beredar di sekitarnya.

"Akhirnya mereka, investasi Cimahi itu kan konteksnya informasi yang dari radio, padahal informasinya tidak akurat," imbuh dia.

Faktor lainnya, kata dia, investasi bodong itu bisa merebak juga bisa karena sikap masyarakat sendiri yang cenderung memiliki ego individualis untuk dalam mengeruk untung sebanyak-banyaknya.

"Mereka sebenarnya orang yang smart, tapi biasanya individualis, mereka merasa sok jago, merasa tahu segalanya, diam-diam invest lalu jebol," ujarnya.

Ditambah lagi, menurutnya jerat investasi bodong ini juga bisa menyasar pada orang-orang yang berani mengambil risiko atau risk taker.

"Jadi karena dorongan psikologis ini mereka kadang jadi irasional decision maker," lanjutnya.

Lalu, bagaimana agar bisa lepas dari jerat investasi bodong dengan iming-iming imbal hasil yang besar itu?

Yanuar mewanti-wanti agar masyarakat bisa berpikir logis dan waspada terhadap tawaran-tawaran investasi yang beredar di tengah masyarakat.

"Pahami dulu instrumen investasi yang akan dipilih. Sekarang informasi sangat mudah, jejak digital," ucapnya.

Tak kalah penting, menurutnya pemahaman atas skema investasi juga mesti dikuasai.

"Jangan asal comot informasi, tapi tidak paham mata rantai dari investasi. Perkebunan itu mereka hanya tahu oh perkebunan, tapi tidak tahu mata rantainya seperti apa, penanamannya, dijual seperti apa," terangnya.

Masyarakat pun perlu paham juga soal mitigasi atas kemungkinan buruk jika investasi itu ternyata bodong. Maka mesti tahu harus melapor ke mana dan bagaimana prosedur pelaporannya.

"Kalau melihat persoalan investasi di sosial masyarakat saat ini, jadi bisa juga melibatkan tripartit-nya itu ada tokoh dan masyarakat perwakilan yang ikut turun meredam, juga untuk memberikan edukasi produk-produk layanan investasi (yang benar)," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60