Francesco Totti Mundur sebagai Direktur AS Roma

Cerita Francesco Totti dan AS Roma benar-benar sampai pada penutup. Per Senin (17/6/2019), Totti mengonfirmasi bahwa ia melepaskan jabatannya sebagai direktur dan benar-benar angkat kaki dari Roma.
"Saya mengundurkan diri dari jajaran eksekutif Roma. Saya berharap hari ini tidak pernah datang. Meski demikian, hari yang buruk dan berat ini akhirnya tiba juga," ucap Totti dalam konferensi persnya, dilansir BBC.
"Keputusan ini bukan salah saya. Mereka tahu hasrat saya untuk memberikan yang terbaik untuk tim. Tapi, mereka tak pernah menginginkannya. Mereka seperti menjauhkan saya dari segalanya," jelas Totti.
Konflik dengan Presiden Roma, James Pallotta, disinyalir sebagai penyebab hengkangnya Totti setelah 30 tahun mengabdi untuk Roma. Sebagai orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama Serigala Ibu Kota, Totti meyakini bahwa ia paham benar apa yang dibutuhkan klub.
Itulah mengapa ia percaya jabatan direktur teknik sesuai untuknya. Menariknya, Pallotta menyebut bahwa jabatan itu sudah ditawarkan kepada Totti. Namun, Totti membantah pernyataan sang presiden lewat konferensi pers perpisahan ini.
"Saya tidak membicarakan atau meminta uang. Yang saya minta adalah jabatan direktur teknik karena saya pikir, saya kompeten dalam menemukan pemain-pemain yang mumpuni. Saya tidak pernah meminta untuk mengendalikan klub," jelas Totti, dikutip dari Football Italia.
"Saya meminta untuk mengambil keputusan serupa direktur teknik lainnya. Tapi, jika mereka mendapatkan pelatih dan pemain baru serta menjual para pemain tanpa bertanya kepadamu, lantas direktur teknik seperti apa pula saya?"
Bicara soal Roma, mereka menutup Serie 2018/19 dengan situasi gonjang-ganjing. Roma tak cuma kehilangan Monchi, tapi juga Daniele De Rossi dan Claudio Ranieri. Kekosongan posisi pelatih tentu melahirkan teka-teki.
Roma mengumumkan bahwa Paulo Fonseca yang mengemban jabatan tersebut per 11 Juni 2019. Mantan pelatih Shakhtar Donetsk ini bukannya tak memiliki rekam jejak yang menjanjikan. Hanya, Totti juga memiliki analisisnya sendiri.
"Satu-satunya pelatih yang pernah saya hubungi adalah Antonio Conte. Spekulasi yang berbicara bahwa saya menghubungi Gian Piero Gasperini, Gennaro Gattuso, hingga Sinisa Mihajlovic tidak benar. Semuanya fantasi belaka."
"Jadi jika klub berlagak sudah menghubungi dan ditolak oleh mereka sehingga mengontak Fonseca dan langsung diterima, tidak seperti itu yang terjadi. Saya tidak bisa dibodoh-bodohi. Tak ada satu kebenaran di cerita tadi," ujar Totti.
Ini bukan pertama kalinya para petinggi Roma melahirkan kontroversi. Yang terbaru, tentu kepergian De Rossi setelah mengabdi 18 tahun untuk Roma. Isu yang berkembang, keputusan klub untuk tak memperpanjang masa bakti De Rossi berasal dari Pallotta.
Argumen itu tak cuma lahir dari omongan tersirat mantan pelatih Roma, Claudio Ranieri, tapi juga aksi protes para suporter. Keputusan orang yang sama pulalah yang kabarnya juga mendesak Totti pensiun sebagai pemain.
Jika bicara soal Pallotta, ujungnya dapat ditebak: Campur tangan Franco Baldini.
Sosok yang dimaksud tadinya memang menjabat sebagai direktur klub. Secara administratif Baldini kini bukan lagi bagian dari Roma.
Tapi, bukan berarti tangannya yang ada di London itu tak sampai menjangkau Roma. Menurut laporan Football Italia, kini ia berstatus sebagai konsultan Pallotta meski tak lagi ada di jajaran direktur.
"Kamu dapat bicara apa pun dari Trigoria (pusat latihan Roma). Tapi, keputusan akhir tetap datang dari London. Tidak ada gunanya menjelaskan apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki. Itu cuma bakal buang-buang waktu. Tidak ada satu pun yang mendengar, semuanya cuma mendengar kata-kata dari London," jelas Totti.
