Kumparan Logo

Genoa vs AC Milan: Momentum Ideal Reparasi Performa

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eskpresi kecewa para pemain Milan usai dikalahkan Udinese. Foto: AFP/Miguel Medina
zoom-in-whitePerbesar
Eskpresi kecewa para pemain Milan usai dikalahkan Udinese. Foto: AFP/Miguel Medina

Sudah tiga kekalahan beruntun ditelan AC Milan. Di laga derbi --versus Inter Milan, lalu Torino, dan yang terakhir Fiorentina. Rentetan hasil negatif itu membuat Milan kini terdampar di posisi 13 klasemen sementara dengan torehan 6 angka, cuma berjarak satu angka dari Genoa yang berada di tabel teratas zona degradasi.

Kebetulan, keduanya bakal bentrok pada giornata tujuh, Minggu (6/10/2019) dini hari WIB. Milan punya kans untuk meraup poin penuh meski bakal tampil di markas Genoa. Mereka selalu sukses memenangi dua lawatan terakhir di Stadio Luigi Ferraris.

Lagipula, Genoa juga sedang amburadul. Mereka kebobolan 9 gol dalam 4 laga termutakhir. Parahnya lagi, Rossoblu hanya mampu menyarangkan sepasang gol dalam rentang waktu tersebut.

X post embed

Tapi, jangan salah. Milan juga lemah soal urusan mencetak gol. Ya, produktivitas jadi salah satu biang dari jebloknya performa Rossoneri di musim ini. Rata-rata gol mereka cuma 0,7 per laga --terendah kedua setelah Hellas Verona dan Udinese.

Jika boleh menunjuk kambing hitam, Krzysztof Piatek adalah nomine terdepan. Bayangkan saja, cuma 2 gol dari enam pertandingan di Serie A. Ini start yang buruk untuk seorang striker yang sukses mengemas 30 gol di musim lalu.

Meski terjangkit kemandulan, Marco Giampaolo emoh berpaling dari Piatek. Pelatih berusia 52 tahun itu tetap memercayai Piatek dalam duel dini hari nanti.

“Milan tidak bisa mengabaikan striker paling produktif mereka. Jika Piatek tidak mencetak gol, siapa yang melakukannya? Saya?" kata Giampaolo dilansir Football Italia.

Piatek di laga Milan vs Inter. Foto: Marco Bertorello / AFP

Milan memang masih punya Rafael Leao sebagai ujung tombak. Akan tetapi, penyerang asal Portugal itu tak lebih baik dari Piatek. Baru sebiji gol yang dibuatnya dari 4 pertandingan.

Rekrutan anyar Milan lainnya, Ante Rebic, juga masih kesulitan beradaptasi. Kontribusinya masih nihil usai turun sebagai pemain pengganti dalam tiga pertandingan.

“Saya bisa meninggalkannya (Piatek) untuk satu, dua, atau maksimal tiga pertandingan per musim, tetapi Anda harusnya tidak kehilangan kepercayaan kepada mesin gol tim," lanjut Giampaolo.

Seretnya keran gol Piatek tak terlepas dari minimnya kreativitas lini kedua. Menurut data Whoscored, hanya Suso, pemain Milan yang aktif dalam menciptakan umpan kunci dengan rata-rata 2,7 per laga.

Pemain Milan, Paqueta dan Suso, di laga melawan Verona. Foto: Twitter: AC Milan

Torehan eks pemain Liverpool itu unggul jauh dari Leao dengan 1,5. Ironisnya, penghuni peringkat ketiga dan keempat soal kuantitas umpan kunci justru diisi oleh barisan belakang, Mateo Musacchio dan Theo Hernandez.

Sementara torehan key pass gelandang macam Hakan Calhanoglu, Samu Castillejo, dan Lucas Paqueta tak genap mencapai rata-rata 1 di tiap pertandingannya.

"Jika kami pada titik ini, itu karena kami mungkin melakukan sesuatu yang salah. Bukan karena satu pemain saja, melainkan kami semua," imbuh Giampaolo.

Demi mengatasi masalah tersebut, sudah sebaiknya Giampaolo untuk memaksimalkan Giacomo Bonaventura. Eks gelandang Atalanta itu bisa menjadi alternatif dari lini kedua Milan.

Perlu diingat, ia mencetak rata-rata 5 gol dan 3,6 assist per musim sejak bergabung dengan Milan di edisi 2014/15. Masih ada juga Ismael Bennacer. Meski belum berkontribusi atas gol-gol Milan, gelandang bertahan asal Aljazair itu cukup aktif dalam proses serangan Milan.

Giacomo Bonaventura Foto: AK Bijuraj/Getty Images

So, dengan rapuhnya pertahanan Genoa, sih, sudah seharusnya Milan mencetak banyak gol dan membawa pulang tiga angka nanti. Sekaligus jadi kemenangan pertama sejak pertengahan September.