Inggris: Menanggalkan Sayap, Menyongsong Masa Depan

"Dalam berbagai kesempatan, obsesi orang-orang Inggris pada pemain sayap terlihat seperti hal yang bersifat patologis: ia merupakan kekuatan sekaligus kelemahan (persepakbolaan) Inggris."
Kata-kata tersebut dituliskan Jonathan Wilson dalam bukunya yang berjudul 'The Anatomy of England: A History in Ten Matches'. Dalam buku Wilson tersebut, kata-kata tadi muncul saat dirinya tengah menjelaskan bagaimana Stanley Matthews dan Tom Finney, dua pesepak bola yang mendapat gelar bangsawan itu, sedang berada dalam masa jayanya di dekade 1950-an.
Matthews dan Finney memang spesial. Untuk bisa mendapat gelar kebangsawanan seperti mereka, seorang pesepak bola jelas harus punya kemampuan lebih dari yang lain. Tak cuma itu, pengaruh mereka di masyarakat juga harus benar-benar terasa.
Memang bukan cuma Matthews dan Finney pesepak bola yang mendapat gelar demikian. Selain mereka, ada pula Bobby Charlton dan Trevor Brooking yang mendapat gelar kebangsawanan atas penampilan eksepsional mereka di lapangan hijau. Bahkan, kalau mau dihitung ada juga Walter Winterbottom, Alf Ramsey, Matt Busby, dan Alex Ferguson yang juga punya gelar serupa, meski empat nama ini mendapat gelar lantaran kiprahnya di dunia manajerial; bukan sebagai pemain.
Akan tetapi, ada yang spesial dari Matthews dan Finney. Mereka berdua adalah epitome dari identitas bermain Inggris itu sendiri. Matthews bahkan mendapat gelar Sir ketika dirinya masih aktif bermain.
Ya, baik Matthews maupun Finney adalah pemain sayap. Di klubnya masing-masing, kedua pemain itu dipuja bak dewa. Di depan stadion milik Stoke City, ada patung untuk mengabadikan Sir Stanley dan di depan markas Preston North End, Deepdale, sosok Sir Tom masih bisa dilihat, diraba, dan dijamah dari dekat, juga dalam wujud patung.
Artinya, pemain sayap memang punya porsi spesial dalam genealogi sepak bola Inggris. Wabil khusus Matthews dan Finney, mereka punya peran krusial dalam salah satu bagian terpenting dari perjalanan sejarah sepak bola Inggris. Mereka bermain di dekade 1940-an s/d 1950-an yang sebenarnya bukan merupakan era keemasan sepak bola Inggris, tetapi merupakan salah satu era yang paling romantis.
Era tersebut menjadi romantis karena pada dasarnya, kronologi sejarah sepak bola Inggris dibagi dua: sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Sebelum Perang Dunia II, sepak bola Inggris masih begitu insular sampai-sampai mereka tidak sudi turut serta di Piala Dunia lantaran merasa superior. Namun, selepas Perang Dunia II, situasinya berubah. Konstelasi geopolitik berubah dan mau tak mau, Inggris --termasuk sepak bolanya-- harus membuka diri.
Boleh dibilang, era saat Matthews dan Finney itu bermain merupakan awal dari sejarah sepak bola Inggris modern. Di era tersebut, Inggris disadarkan bahwa ternyata ada cara bermain sepak bola selain dari yang selama itu mereka anut. Contoh paling gamblangnya adalah tatkala mereka dihajar Hongaria 3-6 di Wembley pada 1954.
Pertandingan tersebut membuka mata banyak insan sepak bola Inggris. Dari sana mereka kemudian tahu bahwa man-to-man marking bukanlah satu-satunya cara bertahan dan sebagainya. Sampai akhirnya, pengaruh laga ini sampai ke otak Ramsey.

Ramsey sendiri merupakan bagian dari skuat Inggris yang dihajar Hongaria itu. Saat itu dia bermain sebagai bek di bawah asuhan Winterbottom. Pada 1966, Ramsey membawa Inggris menjadi juara Piala Dunia dan mantan penggawa Preston North End itu melakukannya tanpa satu pemain sayap pun di tim intinya.
Dalam turnamen itu Ramsey menggunakan formasi 4-3-1-2 dengan Charlton sebagai fulcrum serangan. Menariknya, capaian Ramsey tersebut justru tidak menjadi tonggak baru perkembangan sejarah sepak bola Inggris, melainkan anakronisme semata. Masalahnya, sampai puluhan tahun ke depan, Inggris justru masih setia dengan penggunaan pemain sayap yang bersifat patologis itu tadi.
Ketika kita bicara soal patologi, kita bicara soal penyakit. Dengan kata lain, obsesi Inggris pada pemain sayap adalah sebuah penyakit. Celakanya, penyakit ini adalah penyakit kronis yang kalau boleh dibilang, diturunkan secara genetis.
Maksudnya begini. Penggunaan pemain sayap tentunya tidak bisa dipisahkan dari kesukaan para pemain Inggris untuk mengirim umpan silang ke kotak penalti dan hal ini sudah bisa dilacak sejak abad ke-19 silam. Pada final Piala FA 1888, West Bromwich Albion mengejutkan Preston North End lewat umpan-umpan silang yang mereka terapkan.
Pertimbangannya kala itu sederhana. Awalnya sepak bola Inggris tidak mengenal umpan silang sebagai senjata utama. Dulu, mereka lebih doyan bermain dengan umpan-umpan lateral mendatar. Namun, menurut pemain sayap West Brom kala itu, W. I. Bassett, umpan silang jadi lebih 'mematikan' karena lebih sulit diantisipasi bek lawan lantaran ada semacam efek kejut di sana.

Namun, yang namanya efek kejut, semuanya bakal sirna dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Sekali dua kali, mungkin bisa berjalan. Akan tetapi, setelah puluhan, ratusan, ribuan kali dicoba, tentunya antisipasi dari pihak lawan juga akan semakin canggih. Logikanya demikian. Ini terbukti dari fakta bahwa di Premier League musim 2015/16 lalu hanya ada satu gol dari tiap 92 umpan silang.
Celakanya, logika itu tidak dianggap sebagai sebuah bahan pembelajaran. Para pelaku sepak bola Inggris sudah telanjur nyaman dengan ini. Bahkan, sampai ada frasa khusus di persepakbolaan Inggris untuk mendeskripsikan cara bermain seperti ini: 'Get it in the mixer'. Nah, siapa lagi yang paling kerap mengirim umpan silang kalau bukan pemain sayap?
Obsesi Inggris terhadap pemain sayap ini memang pada akhirnya berlanjut sampai abad ke-21. Bayangkan, saking terobsesinya, sampai-sampai pelatih kontinental macam Fabio Capello dan Sven-Goeran Eriksson saja sampai dipaksa mengikuti keinginan ini.
Hasilnya, mereka pun kesulitan meramu komposisi pemain di Tim Nasional, khususnya di lini tengah. Kegagalan inilah yang bahkan sampai membuat pemain sekelas Paul Scholes pensiun dini (dari level internasional) lantaran terus-terusan ditempatkan di sayap kiri. Di posisi tersebut, tentu saja, Scholes tidak mampu bermain efektif dan Inggris sebagai sebuah tim juga tidak bisa tampil optimal.
Namun, di bawah arahan Gareth Southgate, obsesi itu mulai ditanggalkan. Dengan preferensi taktikal yang lebih kaya dibanding para pelatih terdahulu, Southgate mencoba memainkan sepak bola yang 'tidak Inggris'. Yakni, lewat build-up terstruktur dari lini belakang yang dieksekusi lewat umpan-umpan pendek.

Apa yang dilakukan Southgate ini memang tidak terjadi dalam semalam. Perkembangan taktikal yang pesat di Premier League membuat sang manajer jadi punya opsi untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Keberhasilan Antonio Conte menjuarai liga dengan formasi 3-4-3 adalah salah satunya.
Formasi itulah yang kini coba dijadikan rujukan oleh Southgate. Di sini, Southgate memang menginginkan perubahan total, terbukti dengan syarat-syarat yang dia terapkan untuk bisa jadi anggota timnya. Dari lini belakang saja, Southgate sudah jauh-jauh hari menegaskan bahwa dia hanya akan memilih bek yang mampu mengalirkan bola. Itulah mengapa dia tidak menyertakan Chris Smalling di skuatnya.
Nah, dengan pakem tiga bek ini, Southgate secara tidak langsung juga meniadakan pemain sayap klasik yang biasanya sudah jadi furnitur di Timnas Inggris. Alih-alih begitu, Southgate lebih memercayakan area tepi lapangan pada para full-back yang disulap menjadi wing-back. Kieran Trippier, Kyle Walker, Danny Rose, dan Ashley Young. Itulah pilihan Southgate untuk mengisi pos sayap.
Dengan demikian, misi Southgate sekarang adalah menentukan pilihan di lini tengah. Pada laga melawan Belanda, Southgate menerapkan pakem 3-4-3. Maka dari itu, hanya ada dua spot di tengah yang harus diperebutkan oleh tujuh pemain, Eric Dier, Adam Lallana, Dele Alli, Lewis Cook, Jake Livermore, Jordan Henderson, dan Alex Oxlade-Chamberlain.
Ya, memang dari tujuh pemain tersebut ada sosok-sosok serbaguna macam Alli, Chamberlain, dan Lallana. Akan tetapi, ide besarnya jelas. Semua pemain itu bisa bermain sebagai gelandang tengah, terlepas dari seperti apa karakter mereka saat bermain.

Idealnya, dengan dua gelandang tengah, yang akan dipilih Southgate adalah satu pemain bertahan dan satu pemain menyerang. Pemain bertahan di sini dalam artian sosok yang punya atribut bertahan bagus seperti Dier, Livermore, atau Henderson. Sementara, pemain menyerang adalah pemain yang punya kemampuan olah bola serta mengumpan bagus seperti Alli, Lallana, Cook, atau Chambo.
Jika Southgate memiliki tujuh pemain tersebut untuk dipilih, maka Dier dan Alli-lah yang sudah selayaknya jadi pilihan utama. Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, dua pemain tersebut sudah kerap bermain bersama di klubnya, Tottenham Hotspur. Kedua, Dier dan Alli secara kualitas memang ada di atas yang lainnya. Ketiga, karena mereka selama ini sudah membuktikan kelayakan sebagai tumpuan utama Timnas.
Namun, tentunya pilihan tidak berhenti sampai di situ. Masih ada Jack Wilshere di sana. Juga masih ada Ruben Loftus-Cheek. Terlepas dari apakah mereka cukup fit atau cukup bagus untuk bisa dipanggil kembali ke Timnas, kedua pemain ini tetap merupakan opsi yang layak dipertimbangkan.
Jadi, begitulah. Pada akhirnya, obsesi Inggris akan pemain sayap selama ini memang dipupuk lewat kompetisi domestik mereka. Selama lebih dari seratus tahun, pemain sayap senantiasa ada di (hampir) setiap klub Inggris. Akan tetapi, seperti yang dituliskan Michael Cox di ESPN, keberadaan pemain sayap murni di Premier League kini semakin menipis lantaran kedatangan manajer-manajer kontinental yang sedikit-banyak memperkaya kultur sepak bola di sana.
Dari sini, yang kemudian bakal menuai hasilnya adalah Timnas Inggris sendiri. Lewat Gareth Southgate, langkah ini mulai diambil. Namun, apakah ini nantinya bakal berhasil, tentunya cuma waktu yang bisa menjawab.
