kumparan
25 Feb 2019 2:28 WIB

Kalahkan Chelsea lewat Adu Penalti, City Pertahankan Gelar Piala Liga

Kapten Man City, Vincent Kompany, mengangkat trofi Piala Liga. Foto: Reuters/David Klein
Manchester City berhasil mempertahankan gelar juara Piala Liga usai mengalahkan Chelsea 4-3 lewat adu penalti dalam pertandingan di Wembley, Minggu (24/2/2019). Adu penalti harus digelar karena selama 120 menit kedua tim cuma bisa bermain 0-0.
ADVERTISEMENT
Bagi City, ini adalah gelar Piala Liga ke-6 sepanjang sejarah. Sementara bagi Chelsea, kekalahan ini membuat rekor pertemuan mereka dengan City musim ini semakin buruk saja. The Blues menelan 3 kekalahan dari 4 pertemuan.
***
Tak ada nama Gonzalo Higuain di sebelas awal Chelsea. Maurizio Sarri lebih memilih Eden Hazard untuk bermain sebagai false nine di tengah-tengah barisan serang. Di tengah, Jorginho kembali dengan didampingi N'Golo Kante dan Ross Barkley. Sementara, pos bek kiri kali ini kembali jadi milik Emerson Palmieri karena Marcos Alonso masih dihukum lantaran performa buruk.
Di kubu City, Pep Guardiola menurunkan semua pemain terbaik yang tersedia sejak awal, minus Leroy Sane yang disiapkan sebagai super sub. Sergio Aguero jadi ujung tombak ditemani Raheem Sterling dan Bernardo Silva, Kevin De Bruyne dan David Silva bermain di depan Fernandinho. Sementara, Nico Otamendi dan Aymeric Laporte menjaga jantung pertahanan.
ADVERTISEMENT
Pertandingan ini, sejak awal, sudah berjalan dengan tempo cepat. Kedua tim saling beradu pressing dan kemampuan bergerak dengan maupun tanpa bola. Akan tetapi, ini justru jadi masalah. Cepatnya tempo membuat bangun serangan jadi tak matang dan akhirnya peluang pun minim. Tembakan pertama di laga ini, lewat Aguero, baru lahir pada menit ke-22 dan itu pun melambung jauh di atas gawang Kepa Arrizabalaga.
Tembakan Aguero itu tercipta pada masa ketika Manchester City mulai menegaskan dominasinya atas bola. Namun, tetap saja sulit bagi sang juara bertahan untuk menciptakan peluang berarti karena pemain-pemain Chelsea tiba-tiba saja mampu mengeluarkan kembali kemampuan parkir bus yang dulu diajarkan Jose Mourinho.
Situasi demikian berujung pada deadlock. City tak bisa menembus barikade pertahanan Chelsea, sementara Chelsea tak mampu lolos dari pressing ketat City. Babak pertama yang menjemukan ini akhirnya berakhir dengan skor kacamata.
ADVERTISEMENT
Di babak kedua keadaannya tak berubah. Paling-paling yang berbeda hanya bagaimana Chelsea bisa lebih sering keluar dari tekanan City. Dengan begini, Hazard menjadi lebih hidup untuk mengkreasi serangan-serangan Chelsea. Namun, hasil konkretnya tetap tidak ada. Pedro yang sempat mendapat peluang terbuka juga tak berhasil membuat bola melewati kaki Oleksandr Zinchenko.
Sampai babak kedua habis, tak ada gol yang tercipta. Perpanjangan waktu pun harus dilakoni kedua tim.
Kevin de Bruyne dan Emerson Palmieri beraksi di final Piala Liga. Foto: Reuters/Andrew Couldridge
City memulai perpanjangan waktu dengan melakukan pergantian. Fernandinho yang cedera ditarik keluar, Danilo masuk. Tak lama berselang Higuain masuk menggantikan Willian. Dengan komposisi demikian Chelsea mampu menyerang dengan lebih baik, tetapi 15 menit berlalu dan mereka tetap tak bisa membuat gol.
Pada babak tambahan waktu kedua City berhasil mendapat peluang emas di menit keempat ketika akselerasi Sterling menimbulkan kemelut di mulut gawang Chelsea. Sayangnya, berbagai upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan itu tak jua berbuah hasil. Tak lama setelah itu, Sarri menyiapkan Willy Caballero untuk jadi kiper di babak adu penalti.
ADVERTISEMENT
Prediksi Sarri itu tepat karena pertandingan benar-benar dilanjutkan ke babak tos-tosan dan Caballero pun kemudian dimasukkan. Akan tetapi, ketika sang kiper Argentina hendak ditarik keluar, Kepa merajuk. Secara terang-terangan dia menolak diganti. Ini membuat Sarri marah besar dan selama 120 menit laga berlangsung, ini merupakan momen paling menarik.
Di babak adu penalti, Jorginho memulai dengan buruk setelah tendangannya ditepis Ederson Moraes. Setelah itu, Ilkay Guendogan dan Sergio Aguero sukses mencetak gol tetapi Cesar Azpilicueta dan Emerson Palmieri menyamakan kedudukan. Situasi benar-benar berimbang ketika Sane gagal mengeksekusi penalti.
Setelah itu, keuntungan kembali jadi milik City setelah Bernardo mencetak gol. Hazard sebenarnya mampu memberi harapan pada Chelsea lewat golnya. Namun, karena Sterling yang jadi penentu mampu membobol gawang Kepa, maka City-lah yang berhak keluar sebagai kampiun.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan