Kalau Conte Latih Inter, Apa yang Harus Dia Ubah?

21 Mei 2019 15:41 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Conte melakukan selebrasi usai laga. Foto: Reuters/Carl Recine
zoom-in-whitePerbesar
Conte melakukan selebrasi usai laga. Foto: Reuters/Carl Recine
ADVERTISEMENT
Antonio Conte semakin dekat dengan kursi pelatih Inter Milan. Begitulah kalau mengacu laporan si pakar transfer sekaligus jurnalis Sky Sport Italia, Fabrizio Romano.
ADVERTISEMENT
Kabarnya, Conte telah mencapai kesepakatan dengan manajemen dan bakal meneken kontrak berdurasi tiga tahun. Eks pelatih Juventus dan Chelsea tersebut pun diharapkan mampu mengangkat derajat I Nerazzurri hingga menjadi pesaing gelar.
Pantaslah Inter berharap demikian menilik rapor apik Conte pada musim pertamanya bersama sebuah klub. Juventus, misalnya, berakhir di podium juara Serie A 2011/12 meski AC Milan lebih diunggulkan pada awal musim tersebut.
Pun demikian tahun pertamanya menangani Chelsea. Kedatangan Conte kala itu kalah gaung dibandingkan kehadiran Jose Mourinho ke Manchester United atau Pep Guardiola ke Manchester City. Namun, tangan dinginnya mampu membawa Chelsea mendominasi hingga menjuarai Premier League 2016/17.
Lantas, apa yang harus dilakukan Conte agar bisa menyamai prestasinya seperti musim perdana dengan Juventus dan Chelsea?
ADVERTISEMENT
Melego Mauro icardi
Sederet masalah melibatkan Mauro Icardi selama era kepelatihan Luciano Spalletti. Paling akbar tentu saja penolakan Icardi terhadap pembaruan kontrak sehingga manajemen mencopot ban kapten dari lengannya.
Akibat tindak-tanduk Icardi, Spalletti juga merasa murka. Dia bahkan tak sungkan mempermalukan penyerang Argentina itu di ruang publik, dengan menyebut Icardi telah kehilangan kredibilitas di ruang ganti Inter.
Mauro Icardi dan Luciano Spalletti sebelum pertandingan melawan Genoa dimulai. Foto: Reuters/Massimo Pinca
Pada akhirnya, semua pihak berdamai. Icardi kembali bermain selepas masa pembekuan, berbagi jatah starter dengan Lautaro Martinez, dan mencetak gol.
Icardi menyikapi rekonsiliasi dengan mendeklarasikan keinginan bertahan di Giuseppe Meazza untuk musim 2019/20. Itu seharusnya menjadi kabar baik untuk suporter Inter, menimbang status Icardi sebagai topskorer klub via sumbangan 17 gol musim ini.
ADVERTISEMENT
Kendati demikian, manajemen sudah sepatutnya melego Icardi karena rapor sikapnya di musim ini. Toh, kelompok suporter terutama mereka yang berada di garis keras menolak kehadiran Icardi untuk musim depan.
Terlebih lagi, kehadiran Icardi bisa saja menghadirkan konflik lanjutan jika Conte menangani Inter kelak. Rekam jejak Conte yang tak segan mengusir biang masalah di ruang ganti menjadi bukti. Masih ingat 'kan kasus perseteruan Antonio Conte vs Diego Costa di Chelsea pada musim panas 2017?
Seperti Icardi, Costa juga menjadi mesin gol Chelsea ketika itu. Torehan 20 golnya bahkan membantu The Blues ke podium juara Premier League 2016/17.
Yang menjadi problem adalah sikap Costa. Oleh karenanya, Conte memberitahukan Costa bahwa sang pemain tak masuk dalam rencana musim berikutnya lewat pesan singkat. Sejak itu, tensi hubungan keduanya meningkat dan sikap Costa memburuk.
ADVERTISEMENT
Costa menolak berlatih dengan Chelsea sampai menemukan klub baru, sementara pihak klub membekukan status sang pemain. Dalam kurun pembekuan, Costa juga kerap melayangkan kritik terhadap Conte, termasuk lewat komentar di akun media sosial pemain Chelsea lainnya.
Diego Costa merayakan gol yang dicetaknya. Foto: Darren Staples/Reuters
Masalah tersebut turut mengganggu performa Chelsea. Sampai-sampai The Blues gagal finis di zona empat besar sekaligus melepas tiket ke Liga Champions. Manajemen pun melayangkan surat pemecatan kepada Conte, dengan salah satu alasannya kegagalan menangani kasus Costa.
Nah, bayangkan jika Icardi bertahan dan kembali bermasalah dalam sikap seperti halnya Costa. Kemurkaan Conte jauh lebih menyeramkan daripada Spalletti dan itu tentu tak bagus untuk kondisi ruang ganti Inter.
Menghadirkan Konsistensi
Dua tahun era kepelatihan Spalletti, Inter membukukan rapor cukup bagus dalam menghadapi tim-tim besar: Juventus, AC Milan, AS Roma, Napoli, Lazio. Mereka hanya menelan dua kekalahan dari Juventus dan satu saat bertemu Napoli.
ADVERTISEMENT
Tidak demikian menyoal konsistensi melawan tim dengan level di bawahnya. I Nerazzurri justru kerap kehilangan poin sehingga kans mereka menuju persaingan juara tergerus,
Utamanya terjadi pada awal tahun. Untuk Januari 2019 saja, Inter mengalami puasa kemenangan dalam tiga laga beruntun, bahkan dua di antaranya berujung kekalahan dari Torino serta Bologna.
Lebih parah lagi saat peralihan tahun dari 2017 ke 2018. Mereka sempat menahan Juventus dengan skor kacamata di Turin, kemudian malah gagal memenangi tujuh laga secara beruntun. Turut terselip dua kekalahan dari Udinese serta Sassuolo.
Tak seperti Spalletti, konsistensi justru menjadi faktor kunci Conte dalam kesuksesannya menjuarai gelar liga. Tengok saja musim perdananya di Chelsea.
Conte dan pemainnya merayakan gelar juara. Foto: Carl Recine/Reuters
The Blues sempat menelan kekalahan 0-3 dari Arsenal, kemudian Conte meresponsnya dengan perubahan formasi empat menjadi tiga bek. Hasilnya apik karena Chelsea mampu meraup 13 kemenangan berturut-turut hingga menguasai puncak tabel.
ADVERTISEMENT
Posisi Chelsea tak tergusur hingga musim kompetisi berakhir. Conte lantas berhak mengangkat piala Premier League di musim pertamanya, mengungguli duo Manchester yang baru mendatangkan Mourinho dan Guardiola.
So, asalkan Conte sudah menemukan formula taktik yang pas seperti ketika membesut Chelsea, suporter Inter rasanya tak perlu mengkhawatirkan potensi tren roller coaster seperti zaman Spalletti.
Menerapkan Sistem Tiga Bek
Salah satu kelemahan Inter musim ini adalah sisi pertahanan yang rentan, terutama area kanan milik Danilo D'Ambrosio.
Tidak ada yang salah dari performa D'Ambrosio. Aspek ofensifnya cukup apik dengan torehan lima assist di Serie A. Sementara dalam bertahan, dia juga kerap melakukan intersep heroik, seperti dalam mencegah gol menit akhir di derbi melawan AC Milan.
ADVERTISEMENT
Masalahnya, D'Ambrosio sekadar master of none --bisa bertahan dan menyerang tetapi level kemampuannya serba tanggung. Oleh karenanya, pelatih perlu menyajikan sistem yang pas agar D'Ambrosio tak diekspos oleh pemain-pemain dengan level di atasnya.
Hal itulah yang tak diterapkan Spalletti dalam dua tahun menangani I Nerazzurri. Utamanya pada musim kedua, ketika Mateo Politano beroperasi sebagai winger kanan di depan D'Ambrosio. Politano sendiri tak memiliki kemampuan defensif apik, apalagi tubuhnya mungil sehingga sulit melakoni duel fisik.
Perebutan bola antara D'Ambrosio dan Sando. Foto: REUTERS/Daniele Mascolo
Untuk menutupi kelemahan tersebut, Conte bisa menjadikan pola tiga bek yang notabene ciri khasnya sebagai solusi. Dengan kehadiran dua centre-back yang agak melebar, tugas wing-back dalam menjaga sisi lapangan bisa menjadi lebih mudah.
Kebetulan, Inter memiliki stok bek tengah cukup melimpah. Saat ini saja, ada tiga nama yang pantas menjadi starter: Milan Skriniar, Stefan De Vrij, serta Joao Miranda. Masih ditambah Diego Godin yang diwartakan segera mendarat di Giuseppe Meazza setelah meninggalkan Atletico.
ADVERTISEMENT
Dengan kata lain, skuat Inter sudah menyajikan komposisi ideal buat Conte menciptakan trio solid macam Andrea Barzagli-Leonardo Bonucci-Giorgio Chiellini di Juventus atau Cesar Azpilicueta-Gary Cahill-Andreas Christensen di Chelsea.