Pencarian populer

Kemenpora: Indonesia-Australia Ideal Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2034

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot S Dewa Broto menjawab pertanyaan wartawan seusai menjalani pemeriksaan Satgas Anti Mafia Bola di gedung Ombudsman, Jakarta. Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Kabar pencalonan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 kian masif. Persoalan ini bermula dari ide Kementerian Sekretariatan Negara (Kemensesneg) dengan mengajukan nama Indonesia kepada Asosiasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF) untuk diteruskan kepada FIFA.
ADVERTISEMENT
Gayung bersambut, dua tahun lalu, saat AFF Concil Meeting di Bali, Indonesia bersama Thailand ditetapkan AFF sebagai wakil Asia Tenggara. Akan tetapi, pada tahun ini, Thailand menyatakan ketidaksiapannya dan memilih mundur. Sementara, Indonesia tetap bertahan.
Mundurnya Thailand dilihat sebagai peluang oleh Australia. Jadilah, pada AFF Counsul Meeting 2019 di Laos pada 22 Juni lalu, Australia mengajukan diri mendampingi Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 15 tahun mendatang.
Indonesia sejatinya pernah hendak mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Namun, rencana itu kandas di tengah jalan menyusul tak adanya dukungan dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu.
Nah, bagaimana respon pemerintah terkait dengan rencana Indonesia-Australia menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2034? Untuk mengetahuinya, kumparanBOLA berbincang dengan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto.
ADVERTISEMENT
Banyak cerita dan pandangan menarik yang dilontarkan oleh Gatot ketika kami temui di ruangan kerjanya di Kantor Kemenpora, Jakarta, Jumat (28/6). Berikut petikan wawancaranya.
Kabar Indonesia-Australia jadi tuan rumah Piala Dunia 2034 sudah mendunia, apakah pemerintah siap mendukung?
Kalau bicara dukungan, pemerintah selalu siap mendukung. Sekarang ini tinggal dilihat saja, toh, yang diputuskan kemarin, di sela-sela KTT ASEAN itu kan bukan hanya Indonesia saja. Isu (Indonesia menjadi tuan rumah) Piala Dunia ini juga bukan hanya sekarang-sekarang ini saja.
Pada 2016 silam, saya mewakili Pak Menteri (Imam Nahrawi) menghadiri ASEAN Ministerial Meeting On Sport di Kuala Lumpur, Malaysia. Hadir sejumlah Menteri dan tuan rumahnya otomatis adalah Menpora Malaysia, Khairi Jamaludin.
ADVERTISEMENT
Pada forum terbuka itu menawarkan secara langsung, ya. Bukan 'Ayo siapa yang berminat'. Tidak begitu. Dan, menawarkan agar Indonesia dan Malaysia untuk bisa berkolaborasi, seandainya suatu saat menawarkan diri jadi tuan rumah Piala Dunia.
Kapan itu? Kemudian saya tanya. Dan jawaban beliau yang jelas tidak untuk empat tahun mendatang karena di tahun-tahun mendatang sudah ada agenda. Mungkin bisa sekira 2030-an, katanya. Hanya saja, sangat disayangkan, setelah itu hilang.
Tetapi, terlepas dari hilangnya itu, pembicaraan antar menteri se-ASEAN sudah ada. Nah, pertemuan antar menteri itu lazim berlaku. Misal, Menteri Pertanian se-ASEAN, Perdagangan se-ASEAN dan Mendikbud se-ASEAN juga, tergantung bidang-bidangnya dan di situ selalu hadir dari Sekretariat ASEAN karena mereka yang mengkoordinir di mana pusatnya ada di Sisingaraja, Jakarta.
ADVERTISEMENT
Di sana, saya meyakini pasti menjadi notulen atau catatan sidang. Jadi, kalau kemarin ada pembicaraan itu, kami (Kemenpora) tak kaget. Hanya saja, di internal ASEAN itu pernah ada keinginan untuk itu (jadi tuan rumah Piala Dunia) dan kenapa saya agak balik ke belakang, sebetulnya di kalangan ASEAN itu sudah siap menjawab pertanyaan kesiapan.
Dan yang kedua waktu itu Malaysia ingin berbagi, karena mereka menyadari kalau sendiri mereka tak sanggup. Lalu kalau co-host bukan sesuatu yang pamali. Mari ambil contoh ada Korea-Jepang di Piala Dunia 2002 dan setelah mereka memulainya, tak ada pelanggaran peraturan dan ini lazim. Jadi, kalau dihitung siap, ya, siap.
Tahun lalu, Indonesia jadi tuan rumah Asian Games, apakah itu bisa jadi modal?
ADVERTISEMENT
Dengan didukung kesiapan kita berkaca dari kesuksesan Asian Games, saya kira itu jadi modal bagus dan kita percaya diri. Belum lagi seandainya dibutuhkan stadion-stadion, lagi-lagi kita bicara Asian Games kemarin, ada di Jawa Barat, Jakabaring, sudah standar AFC semua. Kalau standar FIFA sudah World Wide standarnya.
Berbicara aspek infrastruktur lampu, seperti yang disampaikan Pak Basuki (Hadimoeljoko, Menpupera), sejauh ini Stadion Utama Gelora Bung Karno punya tata lampu yang terbaik di dunia dan belum ada yang mengalahkan. Mungkin akan disaingi oleh Olimpiade Tokyo 2020. Bisa dibilang, enggak usah dibangun lagi banyak-banyak, apalagi sampai bangun stadion lagi, tinggal dibagi-bagi saja nanti. Jika berbicara transportasi udara, enggak ada kendala saya kira.
Apakah pencalonan Indonesia dengan Australia ideal?
ADVERTISEMENT
Lagi-lagi saya bilang, jarak tak jadi soal. Dan jika bicara aspek iklim itu juga...Begini, taruhlah Piala Dunia itu digelar Juli. Iklim di bulan Juli di Indonesia, ya, seperti yang kita rasakan sekarang dan bagi sebagian orang Eropa bilang enggak terlalu panas.
Jika bicara di Eropa, di Spanyol atau Italia, Juli itu lagi puncaknya panas. Jadi Juli-nya Indonesia okelah. Kemudian Juli-nya Australia itu musim dingin dan bagi orang Eropa masih oke karena musim dinginnya Australia enggak beneran musim dingin, karena di sana agak tropis. Secara iklim, enggak masalah.
Jadi, transportasi dan iklim enggak ada kendala. Yang tak kalah penting, antara Australia dan Indonesia itu, kita punya reputasi bagus untuk menyelenggarakan event kelas dunia.
ADVERTISEMENT
Mengacu ke Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 negara, format itu juga mungkin dipakai di Piala Dunia 2034. Bagaimana pembagiannya?
Tinggal di bagi-bagi saja. Kalau di Indonesia bagian barat beberapa bagus, Palembang dan Sidoarjo juga bagus. Nah, sekarang 'kan eranya sudah sport tourism, ya, bisa saja kepikiran nanti di era pemerintahannya Pak Jokowi akan bangun stadion-stadion di Bali. Dibangun di Bali karena jangan semata-mata berpikir tentang tourism saja, karena sekarang ini sudah sport tourism.
Antoine Griezmann merayakan kesuksesan Timnas Prancis menjuara Piala Dunia 2018. Foto: Christian Hartmann/Reuters
Sederhananya begini, karena penonton mikirnya 'Saya pengin datang ke Indonesia, siapa tahu pertandingannya ada di Bali'. Nah, sekalian kan itu, wisatanya dapat, nonton bolanya juga dapat. Jadi biar semua enggak numpuk di Jakarta, Palembang, dan Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Bisa jadi nanti di Lombok ada Moto GP (Mandalika). Jadi kalau bicara aspek pembagian Indonesia siap. Tak kalah penting, ketika bicara kesiapan, saya pribadi terlibat di Asian Games tahun lalu dan semoga tak terulang, Indonesia kalau sudah berbau kepepet, biasanya jadi.
Bagaimana dengan masalah anggaran yang pastinya begitu besar?
Ini menarik. Belajar dari Asian Games 2018, pembiayaan tidak ada masalah, tapi jangan mengulangi Asian Games. Asian Games bagus, negara komit, hadir, APBN-nya saja sampai banyak nominalnya, belum lagi swasta.
Nah, mengingat persiapannya lama, kalau bisa jangan mepet-mepet lagi, ya, karena akan rugi banyak kalau enggak long preparation (persiapan panjang) karena kalau Asian Games persiapannya lebih panjang, sponsor akan banyak.
Yang terjadi sponsor sudah jadi ke Winter Olimpik Games awal 2018, lalu sponsor sudah komit di Piala Dunia 2018, dan ketika komitmen bisa dijalin lebih jauh, apalagi pengalaman join dengan Australia, saya kira network (jaringan) mereka lebih luas dan kita siap.
ADVERTISEMENT
Jadi, banyak poin yang bisa dipelajari dari Asian Games, tetapi sisi yang kesiapan mepet-mepet jangan diulangi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85