Pencarian populer

Paolo Maldini yang Ganjil dan Abadi bersama Milan

Maldini, La Bandiera della Milan. (Foto: PAUL BARKER / AFP)

Paolo Maldini adalah makhluk ganjil. Ia ibarat wewangian yang timbul dari parfum Italia yang menyeruak dalam kerasnya dunia sepak bola. Ia menjadi bukti bahwa tembok pertahanan bisa dibangun dengan cara yang agung: dengan merebut bola, bukan mematahkan kaki lawan.

Maldini tipikal bek yang cenderung menahan diri untuk menekel lawan. Bukannya tak menekel sama sekali, tapi eksekusinya itu selalu dimulai dengan perhitungan yang tepat -jika kata sempurna memang berlebihan.

Yang menjadi pembeda, ia tidak membikin lawan kesakitan, tapi kebingungan. Ia gemar mengikuti pergerakan lawan dan memperhitungkan ke mana lawan akan menendang bola, sebelum akhirnya ia berhasil merebut dan menguasai bola tersebut. Sebagai bek, Maldini akan mengantisipasi masalah di lini pertahanan. Jika masalah itu tetap terjadi, maka ia akan menyelesaikannya dengan rapi.

Tak semua orang punya kesempatan untuk bertatap muka dengan Maldini sesaat setelah AC Milan berhasil mengalahkan Liverpool di pertandingan final Liga Champions 2007. Salah satu manusia yang beruntung itu adalah Richard Williams, kolumnis The Guardian.

“Ada riuh yang timbul di belakang ruang media, di balik deretan kamera televisi. ‘Il Capitano,’ orang-orang berbisik demikian. Paolo Maldini, Signor yang kerap tersenyum itu, masuk. Seketika, ia menjadi perwujudan paling sempurna dari keindahan orang Italia -la bella figura.”

“Dan saat itu pula, sulit untuk tak mengambil kesimpulan bahwa Maldini menjadi satu dari sedikit pesepak bola yang sanggup mendorong orang-orang untuk bangkit berdiri saat ia memasuki ruangan,” demikian Williams menggambarkan kedatangan Maldini ke ruang media setelah laga puncak di Athena itu.

Usia Maldini kini 50 tahun. Sebagian besar dari umurnya yang setengah abad itu dihabiskan di atas lapangan bola bersama Milan. Pada 25 Januari 1985, Maldini melakoni laga debutnya sebagai pemain Milan. Kala itu, mereka bertanding melawan Udinese.

Maldini yang masih berstatus sebagai remaja 16 tahun itu masuk sebagai pemain pengganti gelandang bertahan Sergio Battistini. Adapun Battistini turun di pertandingan itu menggantikan mendiang Ray Wilkins yang didera cedera. Namun, cerita sepak bola Maldini sudah dimulai delapan tahun sebelumnya, saat ia berusia 13 tahun dan masih mengecap lapangan akademi Milan. 32 tahun, sebanyak itu umurnya dihabiskan untuk sepak bola dan Milan.

“Begitu saya menyaksikannya bertanding, ya Tuhan, bocah ini memiliki segalanya. Usianya 16 tahun, tingginya 6 kaki 1 inci, kuat, cepat, dan seimbang. Ia jatuh cinta dengan sepak bola, hal yang selalu terlihat di setiap permainannya bahkan di usianya yang tak lagi muda. Ia adalah seorang gentleman, lelaki sejati di atas dan di luar lapangan.”

Kata-kata mendiang Wilkins itu sepintas terkesan berlebihan. Namun, bila mengikuti perjalanan Maldini bersama Milan, semuanya dapat dipahami dengan mudah. Menjadi gentleman seperti yang disebutkan oleh Wilkins itu berarti tak menurunkan standarnya sebagai pemain profesional, sesulit apa pun keadaannya.

Menjadi bek untuk Milan di era kejayaannya bukan perkara mudah. Kesulitan Maldini bukan perkara susah-payah mendulang gelar bagi klubnya, tapi menjadi sosok yang terlihat di balik gemerlap pemain-pemain senior waktu itu: Marco van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Franco Baresi, hingga Carlo Ancelotti. Apalagi, ceritanya di Milan tak dapat dilepaskan dari nama besar ayahnya, Cesare Maldini, yang juga pernah menjabat sebagai pelatih Milan.

Lima scudetto, empat trofi Supercoppa Italiana, tiga trofi Liga Champions, tiga Piala Super Eropa, dan dua Piala Interkontinental menjadi gelar-gelar yang dibawanya pulang di balik bayang-bayang deretan nama besar tadi (1987-1995). Namun, begitu nama-nama besar itu pergi, Maldini tetap tinggal, tetap menjaga garis pertahanan Milan.

Maldini berduel dengan Vieri. (Foto: FILIPPO MONTEFORTE / AFP)

Maldini punya banyak alasan untuk angkat kaki dari Milan. Saat Juventus dan Chelsea menginginkannya, Curva Sud menolak keberadaannya mentah-mentah. Pada musim 1997/98, Curva Sud membentang spanduk bertuliskan “Kurangi Hollywood, Perbanyak Kerja Keras” di depan rumah Maldini. Hollywood yang dimaksud Curva Sud itu adalah nama klub malam yang memang biasa dikunjungi Maldini dan kawan-kawannya. Musim itu menjadi musim perdana Maldini menjabat sebagai kapten Milan.

Permusuhan ini berlanjut. Cerita Istanbul 2005 tak hanya ditutup dengan kekalahan Milan yang masyhur itu. Sebelum final Liga Champions 2005 itu, Curva Sud Milano menjual sisa jatah tiket mereka kepada pendukung Liverpool dengan harga yang lebih mahal. Menurut Maldini, seharusnya tiket-tiket tadi dijual kepada suporter Milan walau dengan harga yang standar.

Baginya, Curva Sud Milano adalah kelompok mata duitan belaka. Karena itu pula, ia menolak untuk meminta maaf saat dihampiri oleh beberapa orang anggota Curva Sud Milano di bandara Malpensa seusai pertandingan.

Maldini yang lagi-lagi memimpin Milan saat melangkah ke putaran final Liga Champions 2007 kukuh untuk tak ikut campur atas saat kelompok ultras ini bermasalah dengan polisi di Athena. Curva Sud kecewa, mereka memboikot pertandingan Piala Super Eropa melawan Sevilla dan memutuskan untuk tak menghadiri sejumlah laga kandang pada musim 2007/08.

Seburuk apa pun perlakuan Curva Sud yang diterimanya, Maldini bergeming. Ia tetap berdiri di lini pertahanan Milan. Menjadi gentleman yang mencegah lawan mengobrak-abrik wilayah pertahanan timnya. Pemain bintang datang dan pergi, Maldini tetap ada bersama Milan. Entah apa yang ada dalam kepalanya sehingga ia tak punya keinginan untuk pergi dari Milan. Juventus bahkan menawarinya dengan cek kosong, mempersilakannya untuk mengisi lembaran kertas itu dengan jumlah uang yang ia inginkan.

Di luar perseteruannya dengan Curva Sud itu, Maldini bukan sosok yang karib dengan gosip. Kehidupan pribadinya adem-ayem. Ia memang akrab dengan kehidupan malam, karena ia pun seorang DJ. Namun, rasanya belum ada pemberitaan media yang menyebutnya terlambat datang ke tempat latihan karena berpesta semalam suntuk. Ia tahu memperlakukan istri dan keluarganya. Padahal, ia juga punya nama besar sebagai seorang model Giorgio Armani.

Paolo Maldini kala masih bermain untuk Milan. (Foto: AFP/Filippo Monteforte)

Kehidupan Maldini di luar lapangan yang rapi itu menggambarkan se-dandy apa permainan Maldini sebagai bek Milan dan Italia. Alhasil, gelar Ufficiale Ordine al Merito della Repubblica Italiana (gelar kehormatan dari Pemerintah Italia) menjadi miliknya. Gelar kehormatan itu dibarengi dengan 25 gelar juara yang berhasil ia persembahkan untuk klub semata wayangnya, Milan.

Namun, bagi Milan, Maldini lebih dari sekadar hitung-hitungan gelar juara yang berhasil diberikannya. Maldini adalah simbol bagi etos pesepak bola Milan. Gennaro Gattuso yang beringas itu hanya perlu memandang Maldini saat tenaganya habis dihajar beratnya kompetisi dan tanggung jawab untuk memenangkan timnya di setiap laga.

"Saat saya kelelahan atau tidak berniat untuk berlatih, saya memikirkan Maldini dan Costacurta, dan cuma itulah yang saya butuhkan untuk mengembalikan gairah saya bermain sepak bola. Paolo (Maldini) adalah sosok yang begitu penting bagi saya dan karier saya, bahkan dengan kadar yang sangat ekstrim."

"Ia adalah teladan dan saya hidup dengan menyaksikannya. Ia tidak berbicara banyak. Paling hebat, hanya empat kali ia berbicara di sepanjang musim. Namun, empat omongan itu sudah cukup untuk membuatmu bergetar," seperti itulah Gattuso menggambarkan sebesar apa pengaruh Maldini bagi tim dan pemain lain secara individu.

La Bandiera della Milan adalah nama besar yang tak hanya dibawa Maldini di perjalanan kariernya. Ia merawat gelar itu lewat permainan yang prima apa pun keadaannya. Bahkan saat fisiknya mulai menua, nama besar itu sudah cukup hebat untuk membuat penyerang-penyerang muda mengoper bola kepada kawannya saat melihat Maldini bersiap mengadang laju permainannya.

Bagi orang-orang Milan, Maldini bukan manusia berdarah dan berdaging. Ia bukan Baresi yang meleburkan diri dengan para suporter, yang menyambut ramah kedatangan dan keluhan mereka. Bila Baresi hidup di hati orang-orang Milan, kecintaan kepada Maldini tumbuh membesar di dalam kepala. Ia tak tersentuh, sosok yang hanya bisa dikagumi dari kejauhan. Maldini adalah makhluk ganjil di sepanjang sejarah Milan, tapi karena itulah ia menjadi abadi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57