Kumparan Logo

Rahim Soekasah vs Iwan Bule, Siapa Layak Jadi Ketum PSSI?

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Calon Ketua Umum PSSI, Rahim Soekasah (kiri) dan Mochamad Iriawan. Foto: Twitter dan instagram
zoom-in-whitePerbesar
Calon Ketua Umum PSSI, Rahim Soekasah (kiri) dan Mochamad Iriawan. Foto: Twitter dan instagram

PSSI. Satu organisasi, sejuta masalah.

Entah dosa apa sepak bola Indonesia sehingga memiliki federasi yang seakan gemar berkubang konflik. Banyak wajah tersenyum seiring lengsernya Nurdin Halid pada 2010 dan berpikir akan membuka lembaran baru dari dunia si kulit bulat Tanah Air.

Namun, mereka salah.

PSSI justru semakin remuk redam diterpa konflik kepentingan. Puncaknya, organisasi yang berdiri pada 1930 itu terbelah. Pada 2012, PSSI yang dipimpin Djohar Arifin Husin ditusuk dari belakang oleh Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) yang didalangi empat mantan Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI yakni La Nyalla Mattalitti, Tony Aprliyani, Roberto Rouw, dan Erwin Dwi Budianto.

Konflik berkepanjangan itu akhirnya reda setelah digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) pada Maret 2013. Ketika itu, La Nyalla kembali masuk ke PSSI, tetapi kali ini sebagai Wakil Ketua Umum. Sementara, ketiga Anggota Exco lainnya menduduki kursinya masing-masing.

Masalah yang mendera PSSI nyatanya hanya padam selama dua tahun. Ketika PSSI menggelar KLB di Surabaya pada April 2015 yang menelurkan La Nyalla sebagai Ketua Umum (Ketum), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyambutnya dengan surat tak mengakui KLB, yang berujung kepada pembekuan PSSI.

Sebulan berselang, sejarah terkelam tercatat dalam sepak bola Indonesia ketika FIFA menjatuhkan sanksi kepada PSSI. Kemenpora dianggap melakukan intervensi, yang dilarang oleh FIFA. Sanksi tersebut akhirnya dicabut pada Mei 2016.

PSSI rajin menggelar KLB sejak 2011. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan

Setelah Edy Rahmayadi terpilih sebagai Ketum PSSI pada November 2016, PSSI kembali menata diri. Akan tetapi, memasuki tahun ketiga kepemimpinannya, PSSI lagi-lagi dihantam masalah. Kali ini bahkan terasa lebih berat ketimbang sebelumnya.

Mencuatnya kasus pengaturan skor dan pertandingan menjadi penyebabnya. Alhasil, Satuan Tugas Anti Mafia Bola menggelandang 16 tersangka. Salah satu nama adalah plt. Ketum PSSI, Joko Driyono, yang dituduh melakukan kasus perusakan, penghilangan, dan penghancuran barang bukti serta perusakan garis polisi.

Sebelumnya, Edy Rahmayadi memilih untuk meletakkan jabatannya ketika Kongres Tahunan pada 20 Januari lalu. Jadilah, PSSI kini tak memiliki pemimpin permanen. Posisi yang tadinya diisi Jokdri--sapaan Joko--kini diemban oleh Iwan Budianto.

Meski demikian, PSSI dipastikan bakal memiliki pemimpin baru pada tahun depan. Hal itu menyusul perintah FIFA untuk menggelar Kongres Tahunan dengan agenda pemilihan Ketum, Waketum, dan Anggota Exco PSSI pada 20 Januari 2020.

Seperti yang sudah-sudah, kursi PSSI 1 selalu menjadi gula di antara para semut. Meski panas, tetapa saja banyak orang berlomba-lomba ingin mendudukinya. Hingga detik ini, dua nama sudah mendeklarasikan diri sebagai calon Ketum PSSI. Mereka adalah Rahim Soekasah dan M. Iriawan.

Jika dilihat dari permukaan, Rahim dan Iriawan--yang juga dikenal dengan Iwan Bule--begitu berbeda, terutama dari latar belakang. Lantas, siapa yang lebih layak mengemban tugas sebagai Ketum PSSI untuk masa jabatan 2020-2024?

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyampaikan pidatonya didampingi Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019). Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

Rahim Soekasah

Tak ada yang tak mengenal Rahim Soekasah di sepak bola Tanah Air pada era 1990 sampai 2000-an. Karena, ketika itu namanya begitu berkibar usai sukses menjadi manajer Pelita Jaya. Rahim menjadi sosok penting di balik keberhasilan Pelita Jaya meraih empat gelar juara Galatama.

Keberhasilannya membentuk Pelita Jaya sebagai tim tangguh membuat Rahim Soekasah menuju panggung lebih besar yaitu Timnas Indonesia. Ia dipercaya menjadi manajer Timnas U-23 pada 2006 dan Ketua Badan Tim Nasional pada 2009.

Tak hanya di dalam negeri, Rahim juga melebarkan sayapnya ke luar negeri setelah menjabat sebagai Chairman Brisbane Roar. Hal itu tak lepas dari permintaan Nirwan Bakrie yang merupakan pemilik klub Australia itu.

Ya, Rahim memang dikenal begitu dekat dengan Nirwan. Maka, tak heran namanya selalu dikait-kaitkan dengan lingkungan Bakrie. Pertanyaan itu pula yang mengemuka manakala Rahim mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon Ketum PSSI di Cipete, Jakarta Selatan, pada Mei lalu.

Rahim mengakui dekat dengan Nirwan yang dikenalnya sudah lebih dari 50 tahun. Menurutnya, tak ada yang salah dengan Nirwan. Ia menilai bahkan mantan Waketum PSSI itu telah banyak memberikan sumbangsih terhadap sepak bola Indonesia.

Menurutnya, Nirwan bahkan memberikan pinjaman pribadi kepada PSSI yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Akan tetapi, hingga saat ini uang tersebut tak pernah dikembalikan.

X post embed

“Dia dibilang mafia, mafia dari mana? Dia sebenarnya pahlawan. Pinjamkan duit ke PSSI tapi sampai sekarang enggak pernah minta balik,” ucap Rahim soal tudingan keterlibatan Nirwan dengan judi sepak bola di Indonesia.

Keputusan Rahim untuk maju sebagai calon Ketum PSSI tak lepas dari keprihatinannya melihat kondisi sepak bola saat ini. Ia mengaku merasa sedih karena melihat Timnas Indonesia tak ada di Piala Asia.

“Bagaimana mungkin Filipina ikut, tapi kita tidak ikut? Itu aneh bagi saya. Jadi, saya ingin memperbaiki itu semua agar ke depannya Indonesia harus lebih baik dari mereka semua. Bisa atau tidak? Bisa," kata Rahim.

Hingga kini, belum diketahui pemilik suara (voters) mana saja yang mengajukan dukungan kepada Rahim. Akan tetapi, melihat dari rekam jejaknya, dukungan mungkin saja datang dari klub-klub tradisional di Indonesia, yang pengurusnya juga sudah lama berkecimpung di sepak bolaa nasional.

Kedekatan Rahim dengan sejumlah pengurus klub di Indonesia juga telihat manakala ia bergabung dengan KPSI. Pada 2012, Rahim terpilih sebagai Waketum PSSI versi KPSI, mendampingi La Nyalla sebagai Ketumnya. Kala itu, Rahim mendapatkan 76 suara.

Saat itu, voters yang datang ke KLB PSSI versi KPSI ialah klub-klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL). Saat itu, ISL dicap sebagai breakaway league karena berada di bawah KPSI dengan PT Liga Indonesia sebagai operatornya. Voters lain datang dari Pengurus Provinsi (Pengprov) PSSI, yang kini bernama Asprov.

M.Iriawan

Jika Rahim sudah malang-melintang di dunia sepak bola Indonesia, berbeda dengan Iwan Bule. Namanya nyaris tak pernah terdengar di lingkup sepak bola nasional.

Namun, manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar, pernah bersaksi atas keterlibatan Iwan Bule di sepak bola Indonesia. Menurutnya, mantan Kapolda Metro Jaya itu menjabat sebagai Dewan Pembina Persib sejak 2009 sekaligus pernah terlibat dalam Asprov PSSI Jawa Barat.

Keterlibatan Iwan Bule di sepak bola nasional menjadi krusial karena salah satu persyaratan menjadi Ketum PSSI ialah harus atau telah aktif di sepak bola sekurang-kurangnya selama lima tahun.

Kini, bola berada di tangan Komite Pemilihan yang akan dibentuk melalui KLB pada 27 Juli mendatang. Karena, di tangan merekalah, nama-nama calon Ketum PSSI nantinya akan disaring.

embed from external kumparan

Iwan Bule sendiri telah menyatakan deklarasinya untuk maju sebagai calon Ketum PSSI pada Sabtu (15/6) lalu. Ia tampak hadir ketika Timnas Indonesia berlaga dalam uji tanding melawan Vanuatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Majunya Iwan Bule mendapat sokongan dari Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN). Mereka menyatan Iwan Bule sebagai sosok yang bersih dan tegas.

“Dua hal itulah yang tidak dimiliki para pengurus PSSI saat ini. Saya yakin recovery (pemulihan) PSSI akan lebih cepat di tangan beliau," ujar Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono.

“Pak Iwan adalah sosok yang berani dan kesatria. Karakter semacam inilah yang diperlukan untuk membersihkan PSSI saat ini,” ucapnya.

Langkah Iwan Bule menuju PSSI 1 bukannya tanpa peluru. Sejumlah voters bahkan sudah menyatakan dukungan kepada polisi berpangkat Komisaris Jenderal ini, di antaranya Persib Bandung, Persijap Jepara, Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Barat, Asprov PSSI Kalimantan Barat, Asprov PSSI DI Yogyakarta, Asprov PSSI Sulawesi Utara, dan Asprov PSSI Sumatera Utara.

Tak hanya itu, Suhendra juga menyatakan Iwan Bule akan menggandeng menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution, sebagai Waketum PSSI.

***

Harus diakui, mencuatnya nama Rahim Soekasah dan Iwan Bule bak mewakili dua kutub berbeda. Rahim dengan pengalaman mengakarnya dalam mengurus sepak bola, sementara Iwan Bule dipandang sebagai sosok baru yang tak memiliki kaitan dengan generasi pengurus PSSI terdahulu.

Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menilai Ketum PSSI harus bisa bersikap profesional, sehat, sportif, dan memiliki intergritas. Hal itu penting mengingat sejauh ini PSSI cenderung dipimpin oleh orang yang itu-itu saja.

“Karena sepak bola kita faktanya muter-muter di situ saja, yang ngurus orangnya itu-itu saja. Cuma ganti casing tapi faktanya enggak berubah apa-apa. Perlu ada terobosan dan era baru, potong saja satu generasi,” ujar Akmal kepada kumparanBOLA, Senin (17/6).

Hal tak kalah penting lainnya, lanjut Akmal, Ketum PSSI harus bisa berkomitmen untuk mengurus federasi tanpa membawa agenda tersembunyi.

Persiapan Kongres PSSI 2019. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc.

“Perlu orang-orang baru yang punya harapan baru, ketimbanag Rahim Soekasah. Juga Iwan bule, apa visi dan misinya? Jangan juga PSSI hanya jadi batu loncatan, karena kita mengalamai kenyataan sepakbola cuma jadi baru loncatan. Apalagi 2024, pemilihan presiden dan wakil presiden terbuka kepada siapa saja. Jangan sampai PSSI hanya dijadikan batu loncatan. Orang yang mengurus PSSI harus ngerti masalah fundamental,” katanya.

Bisa jadi, Rahim akan benar-benar berduel dengan Iwan Bule di babak final pada Kongres Tahunan nanti. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan pula akan muncul poros baru, meski kekuatannya dipercaya tak sekuat dua nama tersebut.

Pada akhrinya, kita, pencinta sepak bola Indonesia, lagi-lagi hanya bisa menggantungkan harapan akan terpilihnya Ketum PSSI yang bisa memberikan angin perubahan. Karena, sialnya, siapa sosok baru pemimpin PSSI periode 2020-2024 hanya akan ditentukan oleh voters.

Ya, sialnya...