Pencarian populer
26 Juli 2018 13:50 WIB
0
0
Sejauh Mana Milan Boleh Berharap pada Leonardo Araujo?
Leonardo saat masih menjadi pelatih AC Milan. (Foto: AFP/Giuseppe Cacace)
Jika ada satu sosok, selain Li Yonghong tentunya, yang merasa kecewa dengan pengambilalihan Milan oleh Elliott Management, dia adalah Rocco Commisso. Pengusaha Amerika Serikat berdarah Italia itu, sejak kabar pengambilalihan mulai didengungkan, sudah ambil ancang-ancang untuk menjadi pemilik anyar klub.
Commisso adalah seorang imigran Italia yang memulai segalanya dari nol. Dari yang awalnya tak memiliki apa-apa, dia berhasil menjadi salah satu pengusaha TV kabel sukses di Negeri Paman Sam. Karena latar belakangnya itulah Commisso jadi yakin bahwa dia bisa membawa Milan, yang kini berada di titik nol, untuk kembali ke masa kejayaan.
Dana sebesar 585 juta dolar AS (sekitar 8,5 triliun rupiah) sudah disiapkan oleh Commisso. Akan tetapi, pria kelahiran 1949 itu tampaknya -- setidaknya untuk saat ini -- harus gigit jari. Sebab, Elliott Management justru menunjukkan keseriusannya dalam membangun Milan dari bawah.
Restrukturisasi telah mulai dilakukan oleh Elliott. Dua petinggi yang berkuasa pada era kepemilikan Li, CEO Marco Fassone dan Direktur Olahraga Massimiliano Mirabelli, ditendang. Sebagai pengganti Fassone, Elliott telah menunjuk sosok yang rekam jejaknya tak sembarangan. Namanya Paolo Scaroni dan dia saat ini juga menjabat sebagai wakil chairman di perusahaan investasi milik keluarga Rothschild.
CEO sudah ditunjuk dan sebagai langkah berikut, Elliott telah menemukan sosok direktur olahraga pengganti Mirabelli. Yang menarik, rekam jejak sang direktur olahraga baru ini juga tidak sembarangan. Lebih dari itu, dia juga dikenal sebagai sosok yang akrab dengan Milan. Dia adalah Leonardo Nascimento de Araujo.
Dalam pernyataan resminya, Scarone mengatakan bahwa kembalinya Leonardo adalah sebuah langkah maju dalam upaya Milan mencapai kesuksesan. "Penunjukan Leonardo merupakan pertanda lain bahwa Elliott berkomitmen untuk mendatangkan sosok pemimpin kelas dunia yang sarat pengalaman; yang tahu bagaimana caranya mengembalikan kebesaran Milan," ujar Scaroni.
Sebagai seorang direktur olahraga, tugas Leonardo sudah jelas. Bursa transfer musim panas 2018 ini akan menjadi area tempatnya beraksi. Kegagalan Mirabelli mendatangkan pemain-pemain yang tepat pada musim lalu menjadi musabab di balik penunjukan direktur olahraga baru. Leonardo, dengan pengalamannya bertahun-tahun di posisi ini, diharapkan mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan sang pendahulu.
Sebenarnya, jabatan direktur olahraga Milan bukan kali ini saja dipegang oleh Leonardo. Pada awal 2008, pria kelahiran 1969 ini sudah pernah mengemban jabatan tersebut. Hanya, ketika itu masa jabatannya tak berlangsung lama. Sebab, pada pertengahan tahun, menyusul kepindahan Carlo Ancelotti ke Chelsea, Leonardo sudah harus berganti jabatan menjadi pelatih.
Awalnya, menjadi pelatih tampak seperti begitu natural bagi Leonardo. Kendati sempat mengalami masa-masa sulit pada awal musim 2008/09, Leonardo akhirnya sukses mengantarkan Milan finis di urutan dua klasemen Serie A. Akan tetapi, dalam perkembangannya, Leonardo tampak makin tidak nyaman dengan peran sebagai pelatih.

Leonardo saat masih menangani Milan. (Foto: FABRICE COFFRINI / AFP)

Di Milan, sebagai pelatih, dia hanya bertahan dua musim. Setelahnya, dia memilih untuk menyeberang ke Internazionale. Bersama rival sekota Milan itu, Leonardo juga sebetulnya sempat menunjukkan potensi. Dia berhasil mengantarkan Inter lolos ke perempat final Liga Champions dan menjuarai Coppa Italia. Namun, di pengujung musim dia tetap memilih untuk mundur.
Dari situlah karier Leonardo yang sebenarnya dimulai. Nun jauh di Paris sana, sekelompok hartawan Arab tengah memulai revolusi besar-besaran yang melibatkan Paris Saint-Germain (PSG). Oleh para hartawan itu, Leonardo diberi jabatan sebagai direktur olahraga. Dia pun dipasrahi tugas mencari pelatih anyar untuk menjadi suksesor Antoine Kombouare serta pemain-pemain baru untuk memperkokoh skuat.
Leonardo berhasil menjawab tantangan kelompok hartawan yang diwakili Nasser Al-Khelaifi itu. Tak tanggung-tanggung, dia berhasil meyakinkan Ancelotti yang gagal meraih kesuksesan besar di London Barat. Keberadaan pelatih dengan kredensial seperti yang dipunya Ancelotti menjadi pendorong yang begitu kuat bagi PSG yang sedang dimabuk ambisi.
Untuk mempermudah tugas Ancelotti, Leonardo kemudian juga mendatangkan bintang-bintang yang sudah dia kenal betul di Serie A. Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi, Zlatan Ibrahimovic, Thiago Motta, dan Marco Verratti berhasil dia daratkan. Lalu, pada pertengahan musim 2011/12, dia menggunakan pengaruhnya di Brasil untuk merayu Lucas Moura. Para pemain itulah yang kemudian jadi tulang punggung PSG dalam beberapa tahun berikutnya.
Sayang, masa-masa Leonardo sebagai direktur olahraga PSG itu berakhir prematur. Pada 2013, dia terlibat dalam sebuah keributan dengan wasit Alexandre Castro yang membuatnya dihukum selama satu tahun dua bulan. Kala itu, pada 5 Mei 2013, pada sebuah laga Ligue 1 menghadapi Valenciennes, Leonardo kedapatan mendorong Castro karena tak puas dengan keputusan sang pengadil.

Leonardo kala mendatangkan Zlatan Ibrahimovic untuk PSG. (Foto: AFP/Betrand Guoy)

Apa yang terjadi antara dirinya dan Castro itu menunjukkan bahwa Leonardo memang bukan sosok yang bisa diinjak. Ketika dia memiliki opini, dia akan mempertahankan itu, meskipun terkadang sampai melewati batas. Saat menjadi pelatih Milan, misalnya, Leonardo sebenarnya tidak memilih untuk mundur, melainkan dipecat secara diam-diam oleh Silvio Berlusconi.
Kala itu, Leonardo mengakui bahwa hubungannya dengan sang patron memang tidak harmonis. Meski Wakil Presiden Milan saat itu, Adriano Galliani, sudah berupaya menyembunyikan riak yang ada, Leonardo tetap muncul dengan pengakuan yang sebenarnya. Bagi Leonardo, Berlusconi adalah sosok yang sulit dipuaskan.
Masalah Leonardo dengan Berlusconi itu memang merupakan efek samping natural dari sifat para pemilik di mayoritas klub Italia. Di negeri semenanjung itu, sebagian besar pemilik klub bersikap sebagai patron. Dalam artian, mereka mau mengatur segalanya, termasuk soal taktik dan pemilihan pemain. Itulah mengapa, sosok idealis seperti Leonardo tidak akan nyaman bekerja di bawah bos seperti Berlusconi.
Sikap idealis Leonardo itu sudah ditunjukkannya ketika masih jadi pemain dulu. Jelang final Piala Dunia 1998, Leonardo adalah pemimpin dari kubu pemain yang menolak diturunkannya Ronaldo Luiz Nazario de Lima. Leonardo beranggapan bahwa apabila Ronaldo tidak fit, dia tidak boleh dimainkan karena itu akan merugikan tim.
Bahkan, sebelum pertandingan pun Leonardo telah mengajak Ronaldo bicara empat mata. Oleh seniornya di Tim Nasional (Timnas) Brasil itu, Ronaldo diberi tahu bahwa dirinya tidak akan bermain. Namun, pelatih Mario Zagallo berkata lain. Entah memang betul karen ada intervensi Nike selaku sponsor tim atau tidak, yang jelas pada laga final itu Ronaldo akhirnya turun berlaga dan bermain luar biasa buruk.

Leonardo berdiksusi dengan pelatihnya di Timnas Brasil, Mario Zagallo. (Foto: AFP/Staff)

Terlepas dari sifatnya yang keras itu, kemampuan Leonardo bisa sangat diandalkan oleh Milan yang sekarang. Sebab, sebelum menjadi direktur olahraga Milan dulu dia sudah pernah menunjukkan bakat sebagai perekrut pemain andal dengan mendatangkan tiga pemain hebat ke kubu 'Iblis Merah'.
Leonardo menghabiskan musim terakhirnya sebagai pesepak bola di Milan, tepatnya pada musim 2002/03. Saat itu, menit bermainnya sangatlah terbatas karena dalam semusim dia hanya turun berlaga sekali. Meski demikian, Leonardo bukannya sama sekali tidak berguna. Justru, pada musim itu dia sudah mulai melakukan pekerjaan dari balik layar.
Lewat koneksinya di Brasil, Leonardo sukses mendatangkan salah satu pesepak bola terbaik yang pernah dimiliki Milan, yakni Ricardo Izecson dos Santos Leite alias Kaka. Pada musim 2003/04, Kaka mendarat di Milan sebagai pemuda potensial yang di kemudian hari berhasil menaklukkan dunia. Leonardo pulalah yang nantinya terlibat dalam proses penjualan Kaka ke Real Madrid demi menambal utang klub yang kian menumpuk.
Selain Kaka, Thiago Silva dan Alexandre Pato juga merupakan pemain bintang Milan yang datang berkat campur tangan Leonardo. Ini artinya, jika Leonardo sudah diberi keleluasaan, dia akan bisa menunjukkan 'sentuhan Midas' yang dia miliki. Apalagi, Elliott telah berjanji bahwa Leonardo bakal mendapatkan semua sumber daya yang dia butuhkan untuk mengangkat Milan kembali.
Kini, yang jadi pekerjaan rumah bagi Leonardo adalah bagaimana agar dia bisa bekerja dengan baik bersama Scaroni. Apabila keharmonisan antara dua figur itu tercapai, kembalinya masa kejayaan Milan bukan lagi soal bisa atau tidak, melainkan kapan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: