Wali Kota Naples: Wasit Pengecut Bikin Sepak Bola Makin Memuakkan

Perilaku rasialis suporter Internazionale kepada bek Napoli, Kalidou Koulibaly, pada akhirnya memicu reaksi dari pelbagai pihak. Mulai dari Koulibaly sendiri sampai Mohamed Salah yang berkompetisi di Premier League menunjukkan respons yang pada intinya mengecam perilaku tersebut.
Tak cuma dari para aktor lapangan hijau saja kecaman datang. Dari jagat politik pun muncul suara dukungan terhadap Koulibaly. Wali Kota Naples, Luigi De Magistris, dalam wawancara dengan Radio Crc, berkata bahwa apa yang menimpa Koulibaly menunjukkan betapa memuakkannya sepak bola saat ini.
"Aku setuju dengan apa yang dibilang [Carlo] Ancelotti. Pertandingan itu seharusnya dihentikan seperti yang sudah diminta berulang kali. Itu tentunya membuat pemain-pemain kami marah," kata Di Magistris.
Napoli memang sempat meminta laga dihentikan, terutama setelah adanya peringatan lewat pengeras stadion sampai tiga kali. Akan tetapi, wasit Paolo Mazzoleni tidak mengindahkan hal tersebut.

Malah, Koulibaly sendiri akhirnya diusir oleh Mazzoleni meskipun sang wasit juga punya alasan kuat untuk mengusir bek asal Senegal itu dari lapangan. Koulibaly diusir karena bertepuk tangan secara sarkastis usai diberi kartu kuning akibat melanggar Matteo Politano.
Diusirnya Koulibaly awalnya tak membuat Napoli kesulitan karena mereka sejatinya sanggup mendapat kans emas lewat Piotr Zielinski yang digagalkan Kwadwo Asamoah dengan sapuan di mulut gawang. Namun, ketika laga hendak berakhir, Lautaro Martinez berhasil memanfaatkan ketiadaan Koulibaly dengan mencetak gol kemenangan bagi Inter.
Seusai laga Koulibaly langsung berkata lewat akun Twitter-nya bahwa dia bangga dengan warna kulitnya. Tak cuma itu, dia juga bangga menjadi warga Naples alias Neapolitan. Di Italia sendiri para Neapolitan yang berwarna kulit lebih coklat kerapkali jadi sasaran tindak rasialis khususnya oleh orang-orang Italia utara seperti Milan dan Turin.
"Aku sangat mengapresiasi cuitan Koulibaly yang juga kubagikan kembali karena menurutku itu merupakan pesan dari seorang manusia, seorang Neapolitan, seorang Italia, dan seorang warga dunia," ujar Di Magistris.
Di Magistris berpendapat bahwa rasialisme di Italia saat ini justru makin berkembang pesat dan menurutnya, ada beberapa politisi yang patut dipersalahkan atas hal itu.

"Tugas negara adalah meredamnya tetapi di sisi lain kita juga punya wakil-wakil pemerintah yang malah menularkan semangat diskriminasi serta pembeda-bedaan berdasarkan warna kulit dan asal geografis," katanya.
"Olahraga, di sisi lain, semestinya bisa menjadi sarana untuk menyatukan itu semua. Di sanalah seharusnya kesetaraan itu ada tak peduli apa warna kulitmu karena apabila tidak begitu maka Olimpiade, Universiade, semuanya jadi tidak ada artinya."
"Sepak bola makin lama makin memuakkan dari sudut pandang ini. Di satu sisi, ia sudah bertekuk lutut di hadapan kuasa uang. Di sisi lain, wasit sering membuat keputusan yang tidak adil dan tidak bisa diterima. Apabila kamu ada pada titik di mana kamu tidak menghentikan laga meskipun sudah ada permintaan berulang, itu artinya kamu seorang pengecut," tandas De Magistris.
Adapun sebagai buntut dari kasus ini Inter diberi hukuman larangan menggelar dua laga kandang tanpa penonton. Tak cuma itu, Empoli yang merupakan calon lawan Nerazzurri di laga giornata ke-19, Sabtu (29/12/2018) malam WIB, telah menolak menjual tiket tandang bagi suporter Inter.
