Mencicipi Set Dinner Berbahan Teh Hasil Kolaborasi 5 Chef Andal

Bagi sebagian orang, pertimbangan memilih tempat fine dining terletak pada tangan chef yang mengolah makanannya. Seorang chef pasti bisa membawa kita menuju petualangan rasa dalam setiap sajiannya.
Misalnya saja di Jakarta Culinary Movement. Acara ini menyatukan lima chef andal untuk menyajikan lima hidangan ekslusif dalam satu tempat. Semua hidangan terinspirasi dari perpaduan masakan Asia dan western.
kumparan pun mencoba set dinner Jakarta Culinary Movement di TWG Tea, Pacific Place (9/8). Rupanya benang merah set menu makan enak ini adalah tea gastronomy. Mereka mengolah makanan yang tersaji dengan teh.
Untuk appetizer, Philip Walasary, Executive Chef TWG Tea Indonesia Jakarta mempresentasikan octopus tombur. Tombur adalah hidangan khas suku Batak, tepatnya dari Tapanuli.
Sajian ini ditata cantik dengan andaliman chili cream, crispy potato turmeric, tempe crumble, onion, dan crispy chicken skin. Saus tomburnya dimasak dengan red chai; teh merah dengan aroma bumbu khas India.
Kemudian Ivan Mangundap, Corporate Executive Chef All In Group menyajikan slow simmered boneless prime oxtail gyoza spiced with Oud Night Tea infused beef consommé.
Sepintas, rasa layaknya sup daging tercecap. Gyozanya terasa begitu lembut dengan buntut sapi yang justru sedikit bertekstur. Ini adalah salah satu hidangan terbaik malam itu.
Masuk ke main course, Denny Boy Gunawan, Executive Sous Chef Westin Hotel Jakarta menyajikan baby chicken.
“Saya bikin (ayamnya) di-confit —dimasak dalam suhu rendah— pakai oil di suhu 60 derajat. Supaya campurannya wangi, di-confit satu jam. Tidak banyak saus supaya tidak over power,” jelasnya ketika menyapa kami.
Menu makan enak ini dipercantik dengan kaleo sauce dan percikan Matcha.
Main course kedua ada seared hydro aged Australian veal sirloin. Dagingnya diinfuskan Number 12 Tea. Sementara karbohidratnya menggunakan ubi. Ada pula spring vegetable untuk pendamping.
Uniknya, hidangan ini bermandikan saus karamel.
“Dont expect the caramel will sweet. Tea Number 12 memang ada rasa kopinya. Kami bikin dengan teknik baru, agak berbeda dengan teknik melting. Tapi dasar rasa karamel dan kopi, kan cocok. Jadi, akan ngeblend di lidah,” jelas Daniel Edward, Executive Chef Pullman Central Park, yang menyediakan hidangan ini.
Dagingnya dimasak sempurna dengan bagian pink di tengah. Ketika dinikmati tanpa saus karamel, ada rasa sedikit pahit dan getir. Namun, saat disiram saus karamel, rasanya jadi tercampur sempurna. Sungguh sebuah pengalaman baru di lidah.
Last but not least, ada dessert nikmat kreasi Patrick Ramon, Corporate Executive Chef Batiqa Group. Ia menyediakan valrhon chocolate ‘Javanese brem’ cake infused with Poetic Star Tea.
“Inspirasinya dari teman-teman yang bawa brem. Ternyata dicampur cokelat jadi enak, tidak over power. Jadi, di dessert ini kamu bisa cobain hint of brem, tea ,or chocolate. Sama kami pakai sedikit lemongrass dan jahe,” jelasnya.
Tentu saja cake ini menutup makan enak kami dengan indah. Rasa bremnya begitu ringan, namun tetap terasa di akhir cecapan.
Jakarta Culinary Movement, merupakan sekelompok profesional kuliner yang berkolaborasi dalam menyajikan makan malam. Ajang ini menjadi sebuah cara yang tepat untuk menikmati karya beberapa chef dalam satu kali sesi makan.
