kumparan
2 Agu 2018 13:33 WIB

Sejarah Mi Instan, Hidangan Nikmat Zaman Perang

Mie Instan (Foto: Thinkstock)
Sajian mi instan telah melekat dalam kehidupan masyarakat. Lebih dari sekadar makanan, mi instan dinikmati dimana-mana sebagai penambah kehangatan saat berkumpul bersama kawan ataupun keluarga. Entah di rumah, warung kopi, kantin sekolah, atau kantor. Bahkan, saat ini mi instan juga disajikan sebagai menu spesial di beberapa restoran.
ADVERTISEMENT
Bisa dibilang, mi instan telah menjadi makanan pokok kedua setelah nasi. Tak sedikit yang ‘memuja’ sajian mi nan praktis ini (apalagi anak kos). Sekali mencium baunya, pasti tergoda untuk menikmati kenyalnya mi dan cita rasa gurih dari bumbunya. Oh, dan jangan lupa, kriuk-kriuk dari bawang goreng yang jadi taburan di atasnya.
Industri mi instan sendiri kini sudah semakin berkembang. Di pasaran, telah tersedia banyak sekali varian mi instan, baik dalam segi rasa, cara penyajian, hingga kemasannya. Mulai dari mi instan dengan bungkus plastik, hingga mi instan cepat saji berwadahkan stereofoam atau plastik. Ada yang dimasak dengan cara direbus dengan air, ada pula yang jauh lebih praktis, yakni hanya dengan menyiramkan air panas saja.
Ilustrasi mi instan (Foto: Thinkstock)
Tahukah kamu, jauh sebelum mi instan menjadi populer, makanan tersebut ternyata diciptakan untuk membantu para penduduk Jepang pasca terjadinya Perang Dunia II. Dilansir Gizmodo, mi instan pertama kali diciptakan oleh Momofuku Ando yang kemudian mendirikan pabrik makanan ‘Nissin.' Keinginannya untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan penduduk Jepangmuncul saat Ando bertemu dengan sekelompok orang yang mengantre panjang hanya untuk membeli semangkuk ramen. Ia pun mencoba untuk menciptakan sajian mi ramen yang lebih praktis, sehingga dapat dinikmati tanpa harus mengantre lama.
ADVERTISEMENT
Dan, akhirnya, pada tahun 1958, terciptalah produk mi instan buatannya yang diberi nama “Chikin Ramen”. Kreasi mi instan itu sendiri tercipta tanpa disengaja, setelah Ando terus menerus mengalami kegagalan saat mencoba mengawetkan mi. Kreasinya tersebut justru tercipta saat ia mencelupkan adonan mi ke dalam minyak tempura yang telah dipanaskan oleh istrinya untuk makan malam.
Saat itu juga, ia menemukan bahwa menggoreng mi tak hanya dapat menghilangkan kadar air di dalamnya, namun juga menciptakan lubang-lubang kecil yang dapat membuat mi lebih cepat matang.
Mie instan cup mengandung 300 kalori (Foto: Thhinkstock)
Ketika produk mi instan pertamanya dijual di pasaran, masyarakat Jepang menganggapnya sebagai barang mewah karena harganya sedikit lebih mahal ketimbang ramen yang biasa mereka santap. Namun, lambat laun, mereka mulai merasakan praktisnya membuat mi instan di rumah. Sontak, produk buatan Ando laris manis, bahkan masyarakat Jepang menjadikannya sebagai makanan pokok.
ADVERTISEMENT
Kemudian, pada tahun 1971, produk baru Nissin--perusahaan milik Ando, yakni ‘Cup Noodles’ diluncurkan dan langsung meroket. Ya, penggunaan stereofoam sebagai kemasan mi instan yang tahan panas menjadi terobosan baru di industri makanan Jepang karena semakin mudah dan praktis untuk dikonsumsi.
Hingga kini, kreasi dari Momofuku Ando telah dikenal luas dan mendunia. Di berbagai negara, mi instan dipadukan dengan budaya lokal, sehingga menghasilkan cita rasa khas dari daerah masing-masing.
Kreasi mi instan ini bukan hanya efisien dalam membantu keberlangsungan hidup manusia melalui pasokan makanan, lebih dari itu, mi instan telah menjadi simbol pemersatu makanan di seluruh dunia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan