Kumparan Logo

Ernest Prakasa Tak Khawatir Liburan ke Pantai Bersama Keluarga

kumparanHITSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ernest Prakasa di jumpa pers film Milly & Mamet (Foto: Munady Widjaja)
zoom-in-whitePerbesar
Ernest Prakasa di jumpa pers film Milly & Mamet (Foto: Munady Widjaja)

Bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi beberapa waktu lalu telah menewaskan ratusan korban jiwa. Bahkan, grup band 'Seventeen' dan grup lawak 'Jigo', menjadi korban dalam peristiwa itu.

Tiga personel 'Seventeen', Bani (basis), Herman (gitar), dan Andi (drum), meninggal dunia dalam kejadian itu. Sementara itu, salah satu anggota 'Jigo', Aa Jimmy, juga menjadi korban. Ia beserta sang istri dan dua orang anaknya ditemukan tewas.

embed from external kumparan

Kendati demikian, pantai tampaknya tetap menjadi tempat wisata yang masih diminati. Salah satunya oleh komika sekaligus sutradara Ernest Prakasa.

Ernest mengatakan, setelah selesai mempromosikan film 'Milly & Mamet' ke berbagai tempat, ia akan memboyong istri dan dua anaknya, Sky Tierra Solana dan Snow Auror Arashi, ke Bali.

"Kemarin gue juga ngobrolin sama Meira, 'ini kita enggak apa-apa nih ke pantai, ke laut?'. Ya kita gimana ya, sudah direncanain dari jauh-jauh hari," kata Ernest Prakasa ketika ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Pria berusia 36 tahun itu mengatakan, ia juga sudah membeli tiket pesawat dan penginapan di Pulau Dewata. Kedua anaknya, kata Ernest, juga semangat untuk pergi ke Bali. Rencananya, mereka akan berada di sana selama empat malam.

embed from external kumparan

Lantas, apakah Ernest Prakasa dan keluarga tak khawatir menghabiskan liburannya ke pantai?

"Ah, nyawa di tangan Tuhan-lah, ha-ha. Takut kayak gitu bikin parno doang, bikin hidup enggak tenang. Sudahlah pasrah," jawabnya santai.

Tidak sekadar liburan, selama berada di Bali pun, Ernest dan sang istri, Meira, akan membicarakan soal proyek film berikutnya. Seperti diketahui, buku 'Imperfect' karya Meira akan diangkat menjadi sebuah film.

"Pasti akan ngomongin (film) Imperfect. Karena kalau sudah ada premisnya, premis itu akan terus menghantui kita. Kita jadi gatel kalau enggak ngulik," tutup Ernest Prakasa.