Kumparan Logo

5 Cara Atasi Anak yang Suka Berisik dan Berlarian di Tempat Umum

kumparanMOMverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Balita di Mal (Foto: Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Balita di Mal (Foto: Pexels)

Mendapati anak kerap berteriak dan berlarian bisa jadi bukanlah hal baru bagi Anda. Maklum, namanya juga anak-anak. Tapi kebiasaan tersebut jelas bisa membuat Anda malu dan merasa tidak enak, apalagi jika si kecil yang berteriak dan berlari di tempat yang tidak seharusnya, Moms, seperti di bioskop, tempat ibadah, maupun kabin pesawat.

Moms, perlu diketahui hal ini bukanlah sepenuhnya kesalahan si kecil. Balita di atas usia 18 bulan seringnya sudah sadar kalau ia sudah bisa mengeksplorasi kebebasannya, karena sudah bisa berjalan, berlari dan bebas dari stroller. Maka, ia seolah tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeksplor. Selain itu juga, berteriak adalah salah satu cara balita untuk mendapat perhatian dari lingkungan.

Yang bisa orang tua lakukan untuk mengatasi hal ini, bukanlah dengan melarang. Tapi Anda juga perlu mengajari si kecil bahwa tidak di semua tempat ia bisa bebas berteriak dan berlari. Tetaplah tenang, serta lakukan hal berikut:

1. Beritahu Berteriak itu Buruk

Memang mudah rasanya untuk menghardik anak agar segera diam. Namun, hal ini ternyata tidak cukup efektif, Moms. Sebaliknya, bila teriakan anak sudah cukup mengganggu, maka segera amankan anak ke tempat yang tenang. Lalu, lakukanlah kontak mata dengan anak sambil mengatakan, bahwa tanpa teriakan, Anda sudah bisa mendengar. Katakan pula, kebiasaan itu tidak baik dan bisa mengganggu orang lain.

Ilustrasi marah pada anak (Foto: Shutter Stock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi marah pada anak (Foto: Shutter Stock)

2. Jangan Gunakan Ancaman

Orang tua kerap kali menggunakan ancaman agar anak mau menuruti instruksi. Misalnya saat anak berlarian di tempat umum, Anda mengancam untuk pergi atau mengambil mainan favorit si kecil.

Metode ini tidak akan efektif karena lama-kelamaan ia tahu bahwa Anda hanya menggertaknya saja. Sering mengancam si kecil justru Anda sedang memberi contoh padanya untuk melakukan hal yang sama.

3. Beritahu yang Anda Mau

Menurut penelitian yang dilakukan University of California, AS, rata-rata anak berusia satu tahun mendengar kata “jangan” atau “tidak” lebih dari 400 kali dalam sehari. Bisa bayangkan betapa tidak efektifnya kan?

Alih-alih mengatakan dua kata negatif itu, lebih baik langsung ucapkan instruksi Anda secara singkat dan jelas. Misalnya, “Selama menonton film di bioskop, semua orang harus duduk dan hanya boleh berbisik,”

Ilustrasi Anak
 (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak (Foto: Thinkstock)

4. Libatkan Anak dalam Aktivitas Anda

Saat mengajak si kecil belanja bulanan di supermarket, Anda pasti bingung antara mencari daftar barang belanja atau menjaga anak tetap di dekat Anda. Daripada pusing seperti itu, lebih baik Anda melibatkan anak agar ia tak berlarian.

Contohnya, Anda bisa meminta anak untuk menghitung jeruk yang dimasukkan ke kantong, membantu memilih kecap, atau mengambil mie instan sejumlah yang Anda mau.

5. Empati dan Saling Mengerti

Pahami bahwa anak Anda berteriak dan berlari-lari di tempat umum bukan karena sebab. Bisa jadi ia melakukannya karena bosan, merasa Anda acuhkan, capek, atau ingin segera pulang. Anda perlu memahami perasaannya.

Ilustrasi ibu dan anak berpelukan. (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan anak berpelukan. (Foto: Shutterstock)

Daripada hanya mengatakan “jangan”, Anda bilang menjelaskan “kalau kamu berlari-lari terus, ibu butuh waktu lebih lama untuk belanja. Kita jadi enggak segera pulang.”

Anda juga perlu menjelaskan kondisi dimana anak boleh berlari atau tidak. Ia boleh berlari di taman atau lapangan, tapi tidak di mal karena ia bisa hilang atau menabrak orang lain.