kumparan
8 Feb 2018 13:00 WIB

Kiat Mengelola Stres di Tempat Kerja Selama Hamil

Ilustrasi wanita stres dengan pekerjaannya (Foto: Thinkstock)
Mengandung selama 9 bulan bukanlah tugas yang mudah. Tidak heran kalau ibu hamil mengkhawatir banyak hal. Mulai dari apakah makanan yang dimakannya cukup sehat? Apakah boleh berolahraga? Bagaimana bisa tetap bekerja dan berprestasi di kantor selama hamil? Dan banyak kekhawatiran lainnya.
ADVERTISEMENT
Karena berbagai kekhawatiran itulah, ibu hamil juga lazim mengalami stres. Tapi jika terjadi terus menenrus, stres dapat membawa efek yang tidak baik pada ibu maupun bayinya.
Stres yang dialami ibu hamil bisa membuat janin ikut merasakan stres. Menurut Susan Andrews yang merupakan ahli neuropsikologi klinis, stres dalam jangka panjang akan menganggu pertumbuhan janin.
Kok, bisa? Karena saat stres, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dan hormon stres lainnya. Meski emosi tak melewati plasenta, tetapi hormon bisa. Hormon kortisol yang tinggi bisa menyebabkan bayi memiliki risiko alergi yang lebih besar.
Itu sebabnya Anda perlu mengelola rasa stres agar dapat merasa bahagia selama menjalani kehamilan.
Hamil di usia tua rentan alami masalah kesehatan (Foto: Thinkstock)
Tapi memang, mengelola stres juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bila Anda adalah seorang ibu bekerja yang setiap hari tentunya menghadapi berbagai tantangan di kantor.
ADVERTISEMENT
Untuk membantu Anda, kumparanMom (kumparan.com) merangkum 3 kiat mengelola stres di tempat kerja.
1. Komunikasi Efektif
Komunikasi adalah hal yang penting. Komunikasi yang baik dan efektif akan menghindarkan Anda dari banyak masalah yang artinya juga bisa mengurangi risiko Anda menjadi stres.
Agar komunikasi di tempat kerja efektif, cobalah untuk membuat hal-hal yang rumit menjadi sederhana. Hindari bicara terlalu panjang atau rumit dan tidak jelas dan katakan apa yang Anda maksud dengan sesedikit mungkin kata-kata tanpa mengurangi maknanya.
Anda juga bisa mencoba berdiplomasi untuk mencegah konflik berkembang. Misalnya dengan memberi respon terhadap konflik yang muncul dengan pikiran terbuka tanpa menghakimi. Perhatikan pemilihan kata-kata yang Anda gunakan saat berkomunikasi. Pastikan kata-kata Anda selalu sopan disertai gestur tubuh yang baik.
Bekerja shift malam meningkatkan risiko kanker (Foto: Shutterstock)
2. Negosiasikan Pekerjaan
ADVERTISEMENT
Bila perlu, coba negosiasikan pekerjaan dengan atasan sesuai kondisi Anda. Bukan berarti Anda lemah atau minta diistimewakan, tapi mungkin ada hal-hal yang bisa disesuaikan tanpa mengurangi produktivitas. Misalnya bila ada hal-hal yang dapat Anda lakukan di rumah atau melalui email saja.
Tapi Anda juga tidak perlu memaksakan diri apalagi sok menjadi pahlawan. Bersikap realistislah pada situasi dan kondisi Anda saat ini. Terima dengan jujur dan bicarakan dengan suami juga atasan apa yang dapat dan tidak dapat Anda kerjakan selama hamil. Bila perlu, lakukan penyesuaian.
3. Pertimbangkan Kembali Fokus Anda
Kalau selama ini target-target Anda di tempat kerja menjadi fokus utama, ubahlah. Jadikan kesehatan dan keselamatan Anda juga si kecil prioritas Anda. Tidak perlu khawatir, ini hanya untuk sementara. Anda akan punya waktu untuk mengejar ketinggalan dan menunjukkan prestasi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·