Anies Tak Yakin Pemindahan Ibu Kota Bisa Atasi Polusi di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kurang yakin pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur dapat mengatasi permasalahan polusi di Jakarta. Sebab, menurut Anies penyumbang polusi udara terbesar yakni adanya transportasi rumah tangga dan transportasi bisnis yang terpusat di Jakarta.
"Saya tidak yakin kalau dari sisi jumlah karena kontribusi kemacetan terbesar itu kegiatan transportasi rumah tangga. Yang kedua adalah kegiatan transportasi keluarga. Maaf, bisnis tetap di Jakarta, keluarga tetap di Jakarta," ujar Anies di Balai Kota, Jakarta, Selasa (27/8).
Anies juga menyebut, transportasi yang digunakan pemerintah tak memberikan dampak besar bagi kemacetan jalan yang berujung pada polusi.
"Pemerintah itu kontribusi kemacetannya itu sangat kecil sekali," kata dia.
Oleh sebab itu, solusi untuk mengatasi polusi harus dilakukan adalah dengan memperbaiki fasilitas transportasi umum. Sehingga seluruh aktivitas di Jakarta dapat beralih menggunakan fasilitas umum.
"Jadi kalau dilihat dari sisi itu tetap kita harus memperbaiki transportasi umum. Supaya rumah tangga dan dunia usaha gunakan transportasi umum," tuturnya.
Meski Ibu Kota akan berpindah, pembangunan transportasi terintegrasi akan terus dilakukan. Selain itu, penyediaan air bersih juga akan terus dijamin oleh pemerintah daerah.
"Transportasi perluasan jaringan MRT juga dengan LRT jaringan bus, itu transportasi kemudian air bersih. Air bersih jangkauannya harus di atas 95 persen penduduk kemudian bus jangkauannya 95 persen teritori Jakarta," tutup dia.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan ibu kota Indonesia akan berpindah ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara yang terletak di Kalimantan Timur. Rencananya perpindahan akan dilakukan pada 2024.
