Pencarian populer
Dakwah Garis Lucu NU-Muhammadiyah
Ilustrasi "Dakwah Garis Lucu NU-Muhammadiyah" (Foto: Herun Ricky/kumparan)
Selaku warga Muhammadiyah, Madi—bukan nama sebenarnya—merasa mendapat ‘diskriminasi’ soal humor. Anggota persyarikatan tempatnya bernaung itu dianggap kurang canda. Pergaulan mereka disebut tak segayeng santri-santri Nahdlatul Ulama yang sehari-hari sarat guyonan.
Padahal sepanjang pergaulannya di Muhammadiyah, tawa tak pernah terlewat. Dulu, misal. Madi aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, berseliweran bersinggungan dengan santri NU, dan mereka saling melempar canda.
Ilustrasi "Dakwah Garis Lucu NU-Muhammadiyah" (Foto: Herun Ricky/kumparan)
Rasa ‘terdiskriminasi’ Madi bertambah saat membaca artikel kolumnis Iqbal Adi Daryono berjudul Muhammadiyah Garis Lucu, Mungkinkah? yang dimuat Mojok pada 27 Februari 2018. Iqbal menanyakan, kenapa anak-anak muda Muhammadiyah masa kini jarang melucu.
Madi tersinggung. Menurutnya, ada kok kader Muhammadiyah yang lucu. Hanya saja kelucuan itu jarang mereka munculkan karena saking asyik ber-fastabiqul khairat—berlomba-lomba berbuat kebajikan, tanpa canda.
Untuk membuktikan pendapat Iqbal salah, maka lahirlah fanpage ‘Muhammadiyah Garis Lucu’ di Facebook. Fanpage ini mencatat miladnya pada hari yang sama saat artikel Iqbal dimuat.
Respons pengguna Facebook beragam. Ada yang mengaku sesama warga Muhammadiyah dan membalas candaan Muhammadiyah Garis Lucu (MGL).
Tapi tetap saja, ada respons warga Muhammadiyah yang memang ‘sangat Muhammadiyah’. Jangankan dianggap lucu, akun ini malah dituduh macam-macam, mulai dianggap melecehkan Muhammadiyah sampai dituding menjadi penyusup di tubuh keluarga besar persyarikatan. Bahkan ada juga warganet yang menasihati mereka dengan mengutip salah satu hadis, “Celakalah! Melucu Tapi Bohong.” Kacau betul.
Madi pun berkesimpulan masih banyak warga Muhammadiyah di media sosial yang ternyata memang konservatif, kaku, saklek, dan spaneng. Ia mau-tak mau akhirnya harus mengakui Iqbal benar, bahwa Muhammadiyah krisis kader lucu. Tapi, Madi tak putus asa!
Aktivitas fanpage MGL diperluas. Tak cuma buat lucu-lucuan, tapi jadi agak ideologis. “Untuk memoderatkan warga Muhammadiyah di media sosial yang makin kanan,” kata Madi ketika berbincang dengan kumparan, Jumat (4/1).
MGL pun kembali memunculkan dan mengunggah ulang kisah-kisah penuh humor tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KH AR Fachruddin hingga Buya Hamka.
Masalahnya, mencapai tujuan “memoderatkan warga Muhammadiyah” tidaklah mudah. Bukan karena mereka tidak lucu, melainkan karena kebanyakan yang mengikuti akun MGL diduga berasal dari Nahdliyin.
Saat Madi juga membuat akun Muhammadiyah Garis Lucu di Twitter, tetap saja ada warga persyarikatan yang sinis, seperti ada pula yang merespons secara optimistik seperti Iqbal Aji Daryono.
Menurut penulis cum mantan sopir truk di Australia itu, kemunculan akun Muhammadiyah Garis Lucu, “Setidaknya bisa memberi warna baru dan menetralkan stigma bahwa warga Muhammadiyah itu serius semua.”
“Atau bisa juga dimaknai: sebenarnya banyak orang Muhammadiyah yang lucu, tapi selama ini mereka terlalu tawadu dan ogah tampil dengan kelucuan mereka,” ujarnya.
Iqbal berseloroh, akun Muhammadiyah Garis Lucu, seperti halnya pasangan Nurhadi-Aldo (Dildo) telah mencairkan persoalan besar, yakni krisis kelucuan yang melanda Indonesia belakangan ini.
Selain menghadirkan konten-konten humor, MGL juga bersikap kritis. Awal Desember 2017, mereka mengkritik dakwah media sosial Muhammadiyah yang tertinggal jauh dibanding NU, bahkan dari kelompok Salafi. Padahal Muhammadiyah mengusung semboyan Islam Berkemajuan.
“Slogan @muhammadiyah adalah Islam Berkemajuan, tapi dakwah di media sosial masih jauh ketinggalan. Di sana @nu_online masih yang terdepan, disusul Salafi, PKS dan kawan-kawan. #JanganSpanengKak!” tulis akun ini.
Ilustrasi santri. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Sementara itu, Nahdllatul Ulama bukannya tak punya agen humor. Mereka sudah memiliki NU Garis Lucu yang kadar kelucuannya tak diragukan lagi.
Akun NU Garis Lucu (NUGL) dibuat Mei 2015 di Twitter. Pembuatan akun ini, menurut sang admin yang tak mau disebut namanya, terinspirasi oleh tokoh NU, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.
Gus Dur dianggap sebagai tokoh kebinekaan yang dapat diterima semua pihak dari berbagai latar perbedaan. Tentu saja, ia pun terkenal dengan humor-humor cerdas nan bernas.
Gus Dur. (Foto: Reuters)
Siasat Gus Dur dalam menjadikan humor sebagai kritik sosial ingin ditampilkan kembali oleh NU Garis Lucu. Misalnya, saat warganet sempat panas oleh isu pembakaran bendera berlafaz tauhid.
Admin akun ini mengakui ingin meniru Gus Dur, yang dengan guyonan-guyonan khasnya itu berhasil diterima oleh setiap kelompok masyarakat, bahkan oleh mereka yang berbeda pandangan dengannya sekalipun.
“Kita ingin menghadirkan guyonan Gus Dur di tengah kebuntuan komunikasi yang saat ini berlangsung di Indonesia,” ujar sang admin.
Lagi pula, sambungnya, berdakwah dengan guyonan khas NU lebih mengena. Sebab, “mereka (masyarakat) lebih nyaman kalau diajak guyon kemudian dikasih nilai-nilai di dalamnya. Termasuk berdakwah kepada kelompok yang selama ini dianggap intoleran dan radikal.
Saat ditanya seorang warganet soal beda bendera HTI dengan bendera tauhid, dengan kocak akun ini santai saja menjawab, “Bedanya bendera HTI disablon, bendera tauhid ditulis tangan”.
Direktur NU Online Savic Ali berpendapat, kemunculan akun-akun Garis Lucu merupakan respons atas menguatnya gejala intoleransi dan radikalisme.
Pertanyaannya kemudian: apakah penyebaran ide intoleransi dan radikalisme demikian mengkhawatirkan?
Jawabannya: ya.
Berdasarkan survei Pusat Penelitian Politik LIPI terhadap 1.800 responden di 9 provinsi yang masuk kategori intoleran, media sosial efektif menciptakan fanatisme keyakinan dan perasaan terancam.
Survei bertajuk “Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia” yang dirilis 23 Desember 2018 dengan margin of error 2,4 persen itu menunjukkan, intoleransi bermula dari menguatnya sentimen politik identitas berbasis agama. Akibatnya, kohesi sosial di masyarakat terancam rusak.
Salah satu sumber menguatnya sentimen politik identitas dan sektarianisme berasal dari informasi media sosial. Sebanyak 44,2 persen responden mengatakan tidak pernah melakukan verifikasi terhadap berita atau informasi yang berkaitan dengan isu agama.

Sebanyak 44,2 persen responden tidak pernah melakukan verifikasi terhadap berita atau informasi terkait isu agama.

- Survei LIPI

Hanya 42,4 persen yang memverifikasi kebenaran informasi tersebut. Sementara 7,6 persen responden merespons dengan marah, dan 2,1 persen lainnya merespons sembari meneruskan atau membagi informasi itu.
Hal itu berkorelasi dengan temuan lain pada survei yang sama terkait rasionalitas responden dalam membaca informasi di media sosial. Hasilnya: 42,8 persen responden percaya PKI bangkit, 22,6 persen percaya terhadap teori bumi datar, dan 52,9 persen responden percaya ulama telah dikriminalisasi pemerintah.
Menguatnya sentimen politik identitas terlihat dari 57,8 persen responden yang mengaku hanya akan memilih pemimpin yang seagama dengan mereka. Argumen itu selaras dengan jajak pendapat Wahid Institute setahun sebelumnya, pada Oktober 2017.
Berdasarkan survei Wahid Institute terhadap 1.500 responden di seluruh provinsi di Indonesia, sebanyak 57,1 persen responden memilih bersikap intoleran terhadap kelompok yang tidak disukai. Dan yang mencemaskan, 13,2 persen responden setuju terhadap jihad kekerasan.

Sebanyak 57,1 persen responden memilih bersikap intoleran terhadap kelompok yang tidak disukai, dan 13,2 persen lainnya setuju terhadap jihad kekerasan.

- Survei Wahid Institute

Menguatnya gejala intoleransi, menurut Savic, tak lepas dari fenomena di media sosial ketika kelompok ultrakonservatif berada satu gerbong dengan Islam politik.
Di satu sisi, penceramah ultrakonservatif menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kaku dan tertutup. Di sisi lain, kelompok Islam politik mengamplifikasi gagasan itu dengan kampanye-kampanye politik di media sosial yang menunggangi isu agama.
Dalam konteks ini, ujar Savic, akun NU Garis Lucu hadir. Terutama untuk mengkritik gagasan-gagasan Islam yang cenderung tekstual dan kaku.
Ilustrasi santri. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)
Garis Lucu menggunakan humor dan satire sebagai alatnya. Misalnya saat ditanya oleh seorang warganet apakah musik itu haram, ia menjawab lugas, “Yang haram itu musyrik.”
“NU Garis Lucu muncul karena dia sebenarnya tidak nyaman dengan Salafi Wahabi yang tekstual, skriptualis, kaku, keras,” kata Savic.
Pertanyaan lainnya: apakah satire efektif menangkal penyebaran ide-ide semacam itu?
Jawabannya mungkin bervariasi. Tapi bila menganut mazhab Gusdurian, jawabannya adalah: ya.
Gus Dur, dalam kata pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia mengatakan, “Humor merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup masyarakat. Dengan humor, masyarakat dapat menjaga jarak dari keadaan yang dinilai tidak benar”.
Gus Dur. (Foto: AFP/POOL/JAY DIRECTO)
Budayawan Mohamad Sobary dalam bukunya, Gus Dur Hanya Kalah dengan Orang Madura, mengatakan bahwa Gus Dur menggunakan humor sebagai senjata untuk melancarkan kritik sosial—menunjukkan kejengkelan, kemarahan, dan penolakan terhadap satu hal atau suatu yang dibenci masyarakat—dengan cara jenaka.
Efektivitas humor satire untuk membendung arus konservatisme agama juga pernah diteliti Jamie Bartlett, Jonathan Birdwell, dan Michael King dari lembaga think tank Inggris, Demos. Hasil penelitian itu diterbitkan dalam buku The Edge of Violence: A Radical Approach of Extremism.
Buku itu memaparkan riset terhadap lima terduga pelaku terorisme dan 20 remaja radikal di lima negara Eropa. Riset tersebut mengungkap bahwa organisasi teroris semacam Al-Qaeda memiliki daya pikat besar karena menawarkan nilai-nilai khas anak muda seperti berbahaya, romantik, dan anti-mainstream.
Nilai-nilai ‘menantang’ itulah yang memikat pemuda muslim yang ingin tampil “memberontak” dan “keren”.
“Seperti gerakan anti-mapan sebelumnya, Al-Qaeda telah tampak keren di mata anak muda, dengan Osama bin Laden tampil layaknya Che Guevara baru,” tulis Bartlett.
Osama bin Laden (Foto: Reuters)
Salah satu rekomendasi Bartlett dan kawan-kawan untuk menggembosi Al-Qaeda dan ideologi yang diusungnya adalah melalui satire dan humor gelap. Satire terbukti ampuh menggerogoti popularitas gerakan sosial rasis Ku Klux Klan dan partai politik fasis British Union of Fascists.
Satire dapat menunjukkan ironi gelap betapa kehidupan para teroris ternyata tak jauh berbeda dengan kriminal, betapa serangan-serangan mereka ternyata banyak juga yang gagal, dan betapa para teroris itu mengidap narsistik akut.
“Idenya adalah untuk mendemistifikasi kehidupan dan kematian para teroris. Rata-rata hidup para teroris tidak jauh berbeda dengan kriminal kelas teri: membosankan, kesepian, dan penuh ketakutan,” ujar Bartlett.
Satire dan humor juga direkomendasikan Cherian George dalam bukunya, Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi. Menurut George, “Karena kekuasaan sebagian adalah soal persepsi, sangat mungkin untuk mengurangi propaganda kebencian dengan mencibirnya.”
Pada akhirnya, semua keputusan ada di tangan para pembaca budiman sekalian. Nderek Muhammadiyah Garis Lucu atau NU Garis Lucu? Atau mau ikut akun-akun yang sama sekali ndak lucu, ya monggo...

Humor merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup masyarakat.

- Gus Dur


Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: