• 0

Kanker Serviks Pembunuh Nomor 1 Perempuan Indonesia

Kanker Serviks Pembunuh Nomor 1 Perempuan Indonesia



Yayasan Kanker Indonesia

Family Funwalk dari Yayasan Kanker Indonesia. (Foto: Mustaqim Amna/kumparan)
Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Dan kanker ini menjadi pembunuh nomor satu bagi perempuan Indonesia.
"Untuk penderita kanker serviks, jumlahnya juga sangat tinggi. Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Itu membuat kanker serviks disebut sebagai penyakit pembunuh wanita nomor 1 di Indonesia," kata Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof.DR.dr. Aru Wicaksono di Acara CFD Sudirman, Minggu (26/2).

Label itu tidak berlebihan karena tiap hari di Indonesia dari 40 wanita yang terdiagnosa menderita kanker serviks, 20 wanita diantaranya meninggal karena kanker serviks

- Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof dr Aru

Menurut, Aru, jumlah data pengidap kanker tahun 2016 ada 17,8 juta jiwa dan tahun 2017 menjadi 21,7 juta jiwa.
"Terjadi peningkatan 3,9 persen jumlah pengidap kanker," beber dia.
Bahkan, lanjut Aru, menurut WHO pada tahun 2030 akan terjadi lonjakan penderita kanker di Indonesia sampai tujuh kali lipat. Jumlah penderita kanker yang meninggal juga kian memprihatinkan.
Tingginya kasus kanker serviks di Indonesia membuat WHO menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia. Sementara kanker payudara, merupakan penyakit dengan kasus terbanyak kedua setelah kanker serviks. Penderita kanker payudara di Indonesia pada tahun 2004 (sebagaimana dikutip dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008) sebanyak 5.207 kasus.
Setahun kemudian pada 2005, jumlah penderita kanker payudara meningkat menjadi 7.850 kasus. Tahun 2006, penderita kanker payudara meningkat menjadi 8.328 kasus dan pada tahun 2007 jumlah tersebut tidak jauh berbeda meski sedikit mengalami penurunan yakni 8.277 kasus.
"Yang perlu diketahui data penderita kanker payudara tersebut merupakan pasien yang keluar rawat inap dengan diagnosis kanker. Jadi penderita kanker payudara sebenarnya sangat mungkin jauh lebih besar lagi," terang dia.
Kemudian kanker hati juga menjadi jenis kanker dengan penderita yang banyak. Penderita kanker hati umumnya laki-laki. Penyakit kanker hati ini merupakan jenis penyakit kanker dengan jumlah penderita nomor lima terbanyak di dunia dan menjadi penyebab kematian nomor tiga.
Besarnya jumlah penderita kanker di suatu negara biasanya berhubungan dengan jumlah penderita hepatitis. Sebab penderita hepatitis umumnya berpotensi mengarah pada kanker hati.
Sementara pada anak, leukemia merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang. Leukemia atau kanker darah menduduki peringkat tertinggi kasus kanker pada anak karena masih lemahnya penanganan kanker pada anak.
Terlambatnya penanganan terhadap penderita kanker darah bisa berakibat fatal dan dapat menyebabkan kematian. Umumnya penderita kanker darah ditemukan pada anak berusia di bawah 15 tahun.
"Untuk daerah dengan penderita kanker terbanyak di Indonesia adalah di Yogyakarta. Di daeerah tersebut, tingkat prevalensi tumor mencapai 9,6 per 1000 orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari nilai rata-rata prevalensi nasional yang sebesar 4,3 per 1.000 orang," ungkap Aru.
Sementara jika dibandingkan dengan penyakit-penyakit non-kanker yang mengakibatkan kematian, kanker menempati posisi ke-tujuh. Data menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 tersebut menempatkan stroke, TBC, hipertensi, cedera, perinatal dan diabetes melitus di atas jumlah kematian akibat kanker.
"Besarnya jumlah penderita kanker di Indonesia ini sebenarnya bisa dikurangi jika membiasakan hidup sehat. Seperti dengan rajin berolahrga, makan buah dan sayuran, menghindari makanan berpengawet dan menjauhi alkohol serta rokok," tegas Aru lagi.

Jika sudah terlanjur menderita kanker, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain melakukan pengobatan. Pengobatan kanker selain lewat medis, juga bisa dilakukan secara alternatif

- Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof dr Aru Wicaksono




KankerKanker PayudaraKanker ServiksKesehatanNews

presentation
500

Baca Lainnya