Laura Eks Pramugari Lion Air: Saya Dua Kali Kecelakaan Pesawat
5 November 2018 12:12 WIB
0
0
Nasib Laura Lazarus boleh dibilang istimewa. Ia seorang pramugari penyintas dua kali kecelakaan pesawat Lion Air. Semangat hidupnya terus menyala walau kini ia harus dibantu tongkat untuk bisa berjalan.
Laura mulai menjalani profesi pramugari sejak berumur 19 tahun, tahun 2002. Kala itu Lion Air belum perusahaan besar, baru memiliki sekitar 18 pesawat.
Kerja Laura hilir mudik di hampir seluruh pesawat sampai-sampai dia hafal dengan masing-masing pesawat. Dalam sehari, ia bisa enam sampai tujuh kali terbang. Intensitas penerbangan yang amat rapat sungguh menguras tenaga.
“Badan sudah kayak rontok. Saya nggak lupa deh, usia saya waktu itu 19 tahun. Pramugari itu kasihan, lo. Badan bisa biru-biru kayak digebuk. Di atas (saat terbang) terasa ringan, kami nggak sadar. Tapi pas sudah di bawah, baru kelihatan badan biru-biru,” tuturnya saat berbincang dengan kumparan di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (1/11).
Kerja berat itu Laura jalani kala Lion Air sebagai low-cost carrier sedang pontang-panting merintis bisnis penerbangan. Menurutnya, bila terjadi ketidakberesan pesawat, pramugari ikut merasakan, meski informasi detail tentang problem pesawat yang mereka awaki tak selalu sampai ke telinga mereka.
“Yang tahu yang di kokpit. Kalau kami pramugari cuma ikut saja,” kata dia.
Pada 2004, Laura mengalami dua kecelakaan di pesawat yang diawakinya. Kecelakaan pertama 4 Juli 2004 ketika pesawat tergelincir keluar landasan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumatera Selatan.
Kecelakaan kedua bahkan terjadi pada tahun yang sama. Tanggal 30 November 2004, pesawat menabrak pagar di ujung landasan Bandara Adi Sumarmo Solo. Pesawat tergelincir keluar, hingga tersangkut di pemakaman dan menewaskan 25 orang.
Kecelakaan pertama ‘hanya’ membuat Laura terluka, tapi kecelakaan kedua membuatnya cacat. Laura terpental menabrak sayap pesawat. Wajahnya luka parah, pinggang patah, betis hilang setengah bagian, dan tulang kaki patah berat. Cacat fisik itu tak terelakkan. Ia kini membawanya seumur hidup.
“Saya beruntung, sebab bisa saja saya meninggal saat itu,” ujar Laura.
Empat belas tahun lalu itu, kecelakaan penerbangan di Indonesia menunjukkan angka mencemaskan, termasuk Lion Air. Namun kini, justru saat Lion disebut semakin baik mengelola faktor keamanan, tragedi JT 610 terjadi dengan jumlah korban mencapai 189 penumpang. Tak ada penumpang dan kru yang selamat saat pesawat jatuh ke laut.
Kini Laura memilih jalannya menjadi motivator. Ia berbagi semangat dari gereja ke gereja maupun di pertemuan biasa yang santai. Dengan kaki cacat, Laura bahkan sanggup mondar-mandir menyetir mobil sendiri.
Kepada kumparan, Laura berbagi harapan. Perempuan yang kini berusia 33 tahun itu tak ingin kecelakaan penerbangan terus berulang. Berikut petikan perbincangan dengan Laura.
Apa yang terjadi pada Laura dalam dua kali kecelakaan pesawat di tahun 2004 itu?
Yang saya alami waktu itu, selama 1,5 tahun saya terbang, saya mengalami dua kali kecelakaan dengan pesawat. Yang pertama di Palembang, pesawat keluar landasan dengan roda depan terbenam lumpur.
Kecelakaan yang parah itu yang kedua. Di Solo, pesawat keluar landasan, menabrak pagar, berhenti di atas kuburan. Memang ketika itu cuaca buruk. Masalah di pesawatnya, dia punya flight itu kurang beberapa detik.
Pesawat tempat aku bertugas dulu bermasalah. Saya tahu betul pesawat itu bermasalah. I know. Sebelumnya, aku pernah naik pesawat itu sampai akhirnya harus RTB (return to base). Pilotnya bilang mau mendarat dahulu, akhirnya harusnya mau ke Padang jadi transit di Medan.
Dulu ketika masih menjadi pramugari, pesawat Lion Air cuma 18 unit. Jadi kami ketemu-ketemu lagi (dengan pesawat yang sama). Dan dengan pesawat yang sama itu kejadian dua kali (kecelakaan).
Pertama, pesawatnya nggak sampai rusak ketika mendarat di Palembang. Pas mendarat di Solo itu yang parah. Model pesawatnya MD-82 (McDonnell Douglas MD-82).
Merasa ada masalah teknis sebelum kecelakaan?
Oh, itu yang tahu yang di kokpit. Kalau kami kan pramugari cuma ikut saja. Selama penerbangan (Jakarta-Solo) berlangsung, memang cuaca buruk―goncangan, petir. Waktu kami mau service penumpang pun juga nggak bisa. (Pramugari) sampai jongkok di kabin.
Pendapat Laura soal human error dalam kecelakaan pesawat?
Kebanyakan orang bilang kan human error. Sekarang kita berpikir saja, setiap orang termasuk kapten atau pramugari, semua ketika terbang inginnya mendarat. Kami nggak ingin dong something bad happen.
Even when something bad happen, kami semua di pesawat akan berjuang sekuat tenaga untuk pulang ke rumah, karena kami kan punya famili, dan kami ingin mendarat dengan selamat.
Laura dan teman-teman mendapat pelatihan soal evakuasi dan krisis?
Iya. Aku dulu belajar soal safety 1,5 bulan. Tetapi seharusnya training itu 3 bulan. Tapi aku ketika itu diajar 1,5 bulan.
Dengan pembelajaran soal safety yang separuh itu, bagaimana Laura dan teman-teman kru kabin berimprovisasi ketika melakukan evakuasi kecelakaan?
Selama training, kami tahulah step apa yang kami lakukan. Instruktur juga berusaha mengajarkan. Dulu saya sebagai pramugari pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan penumpang.
Kalau yang kecelakaan pertama di Palembang, saya ikut mengevakuasi. Tapi yang kedua, saya benar-benar terikat pada kursi yang terlempar sampai ke sayap beserta seat bealt-nya.
Apa saja yang menjadi kendala saat proses evakuasi?
Ketika saya jalani, itu nggak gampang loh. Kami mesti evakuasi penumpang dalam waktu sekian detik. Dan waktu kenyataan terjadi, belum lagi saat meminta penumpang meninggalkan barang tapi mereka nggak mau, tetap mendekap laptop yang dia punya. Terus jangan pakai sepatu karena mau turun di slide kan, tapi tetap turun pakai sepatu.
Jadi benar-benar teori yang kami dapatkan, ketika dipraktikkan itu berat sekali. Makanya kami ditekankan untuk hafal sampai mati. Sebab kami saja yang hafal pada waktu kejadian, bisa ikut kena (jadi korban). Makanya menjalankan sesuatu itu jangan menggampangkan, karena ini profesi yang sangat krusial.
Penghematan pada maskapai low-cost carrier berimbas pada pramugari, tidak?
Itu terasa. Kalau low budget itu penumpang berpikirnya pasti, ini pesawat kenapa low budget. Itu tergantung rutenya.
Kami (Lion) memang base-nya Jakarta. Kalau pas terbang ke mana, ya ikut sampai mana saja. Kalau round itu misalnya sampai malam, besok pagi baru berangkat. Apalagi kalau sudah malam. Misal malam kami sudah di Manado, ya stay di Manado. Pokoknya 6-1―enam hari terbang, satu hari libur.
Kami nggak mungkin stay di Singapura kan cost-nya tinggi. Nggak mungkin juga stay di Saigon, Vietnam.
Misalnya sampai jam 11.00 malam di Kuala Lumpur, maka kami akan ikut penerbangan ke Jakarta jam 02.00 dini hari. Itu sudah capek banget, baru sampe di KL jam 23.00 malam, terus stay sebentar, lalu jam 02.00 sebelum subuh sudah berangkat lagi.
Berat ya kerja pramugari.
Waktu zaman saya itu gila, berat banget. Terbang badan saya sudah bener-bener capek. Saya 2003 itu jarang sekali ada terbang empat landing. Lebih dari itu. Kan antar-Indonesia ada tiga waktu (WIB, WITA, WIT), itu berpengaruh.
(Saya alami) enam, tujuh kali landing. Waduh, keliling. Misal Jakarta-Surabaya-Jakarta-Surabaya lagi, lalu Kuala Lumpur. Ada berapa tuh? Enam. Badan sudah kayak rontok. Saya nggak lupa deh. Usia saya 19 tahun waktu itu.
Pramugari itu kasian loh. Badan bisa biru-biru kayak digebuk. Waktu (terbang) di atas terasa ringan, nggak sadar. Tapi pas sudah di bawah, baru kelihatan badan biru-biru.
Faktor safety di low-cost carrier dikurangi, tidak?
Ya seharusnya enggak, dong. Kalau dari sisi kami―pramugarinya, nggak. Malah kami juga harus mempelajari soal safety.
Setelah kejadian kecelakaan, kompensasi seperti apa yang diberikan maskapai pada Laura?
Awal-awal dibiayai perusahaan. Terakhir, biaya sendiri. Dahulu tahunya akan dapat penghargaan, tapi itu cuma omongan. Kan saya dijanjikan, entah sampai kapan. Tapi saya nggak dendam. Ya, sudahlah.
Sebagai pramugari yang pernah jadi korban kecelakaan, menurut Laura evaluasi harusnya seperti apa?
Bukan saling menyalahkan. Yang pasti (evaluasi) dimulai dari diri sendiri. Saya nggak tahu sekarang bagaimana. Itu zaman saya. Semoga nggak ada yang mengalami lagi.
Dimulai dari diri ini juga artinya, misalnya, penumpang dibilangin jangan pake handphone, tetep masih aktif (ponselnya). Dibilangin yang duduk di dekat pintu emergency, diberi tahu baik-baik, (dengarkan). Ada buku manual, dibaca baik-baik.

Masalah teknis harus diperbaiki. Kalau dari ground staff setelah semua dicek masih ragu, cek lagi, biar sama-sama enak. Pemerintah, KNKT, Kementerian Perhubungan, semua evaluasi.
Kementerian Perhubungan, KNKT, pemerintah, semua terhubung. Dan seharusnya kejadian kecelakaan pesawat jadi pembelajaran yang sangat mahal. Kejadian saya juga jadi pembelajaran yang sangat mahal.
Harusnya kita bisa lebih baik, ya kan? Semua perlu bergandengan tangan untuk ubah penerbangan jadi lebih baik.

------------------------
Simak selengkapnya kisah-kisah mereka yang pernah bersinggungan dengan maskapai Lion Air di Liputan Khusus kumparan: Lion Terempas.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab redaksi. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: