Mengenal Irjen Umar Septono Lewat Keteladanan yang Menggetarkan Hati

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

instagram embed

Siapa Umar Septono, jenderal polisi humanis dan saleh, yang petuahnya bikin hati bergetar?

Umar Septono lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 13 September 1962 alias berusia 54 tahun. Umar meniti karier di kepolisian dengan masuk Akpol dan lulus tahun 1985.

Berbagai jabatan pernah diembannya di berbagai kota seperti Kapolsek Arjawinangun Polres Cirebon, Kapolres Asahan Polda Sumut, Dirlantas Polda Sumbar, Wakapolda Bengkulu, Kapolda NTB, dan saat ini adalah Kepala Korps Sabhara Baharkam Polri dengan pangkat inspektur jenderal (irjen).

Semasa menjadi Kapolda NTB dengan pangkat brigadir jenderal, banyak sikap dan tindakan religius dan humanis yang dilakukan oleh Umar Septono yang diabadikan oleh media massa.

instagram embed

Berikut ini adalah pesan-pesan Umar Septono yang patut menjadi teladan:

Bapak tahu, Nabi Ayub menderita sakit sampai 18 tahun tetapi beliau tidak pernah mengeluh, sampai anaknya meninggal dunia dan ditinggal istrinya. Tetapi beliau terus bersyukur dan mengambil hikmah di balik cobaan ini.

Tolong ambil sampah, jadi saya sudah mengerjakan lebih dulu, tolong besuk kawanmu yang sakit, saya hampir tiap hari ke rumah sakit. Orang meninggal, layat! Jauh mata pun saya kejar kalau ada anggota atau keluarga anggota meninggal, rapat pun bisa saya tinggalkan.

Masyarakat tidak butuh jenderal, karena tanpa jenderal masyarakat bisa terlayani. Bintara teladan seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat.

Lima waktu saya di awal waktu, berjemaah, di masjid, di saf depan sebelah kanan. Itu harga mati!

Cita-cita saya hanya satu, yaitu mati dalam keadaan sujud.

Rumusannya, semakin kita merendahkan hati kita, maka semakin tinggi derajat kita, semakin bahagia kita.

Semakin sombong dan semakin mendudukkan kita selaku aparat dan penguasa, semakin tinggi hati kita, maka semakin rendah derajat kita di masyarakat.

Ujian kita masih belum ada apa-apanya dibandingkan mereka.

Makna keteladanan adalah seorang pimpinan harus menunjukkan kewibawaan dengan turun langsung ke masyarakat.

Saya digaji rakyat, maka tugas saya melayani rakyat, tidak menyakiti rakyat.

Kendaraan dinas yang saya pakai, kalau ada masyarakat yang kebetulan membutuhkannya di jalan, saya akan turun dan ngojek, karena itu milik rakyat.

Kuatkan persaudaraan. Implementasikan ikatan ini dengan gotong royong. Jaga silaturahim. Dengan cara ini kita bisa menghindari perpecahan.

Segala yang terjadi di dunia ini adalah ujian. Jadikanlah pengalaman di sini sebagai pelajaran hidup, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

instagram embed
Irjen Pol Umar Septono. (Foto: Instagram: polisi_indonesia)