Pencarian populer

Tentang Lovebird, Kusumo, dan Segala Tanya soal Keduanya

Ilustrasi lovebird mewah (Foto: kumparan/Herun Ricky)

Pada 19 November 2018 kemarin, seekor burung peliharaan jenis lovebird mati di Desa Bayat, Klaten, Jawa Tengah, sebuah daerah perbukitan yang menjorok ke teritori Gunung Kidul. Nama burung itu adalah Kusumo.

Kematian Kusumo lantas disiarkan sang pemilik―seorang peternak sapi dan kontraktor bangunan―di laman YouTube pribadinya, dan berhasil membuat geger pencinta burung di seluruh Indonesia.

Hingga kini, unggahan SigitWmp Klaten alias Sigit Marwanta tersebut telah dilihat hampir 150 ribu kali, mendapat likes dari 1.600-an akun, dan mengundang 604 komentar yang rata-rata berucap belasungkawa dan sesal akibat kehilangan legenda.

Belasan media, baik lokal maupun nasional, turut memberitakan, menyebarkan kematian unggas berusia 7 tahun itu.

Pertanyaannya, mengapa perhatian pada satu binatang yang mati wajar bisa sebesar itu?

Inilah usaha kami menjelaskannya.

Lovebird Kusumo (Foto: Dok. Sigit WMP)

Kusumo ini siapa, sih?

Kusumo adalah nama lovebird milik Sigit Marwanta, pengusaha di bidang peternakan sapi, kontraktor, juga konsultan konstruksi. Tapi, tidak seperti namanya yang gagah dan “angker”, lovebird Kusumo adalah seekor betina.

Hah?

Begitulah. Nama Kusumo diberikan oleh anak sulung Sigit, Kaila Kusuma. Nah, Dik Kaila ini memberi nama burung itu Kusumo, mirip namanya sendiri―Kusuma.

Sekarang Sigit juga punya burung bernama Nadia, sama dengan nama anak keduanya.

Errr, oke deh. Anyway, lovebird ini nama jenis burung?

Ya, benar. Lovebird punya nama lain, Agapornis, sebuah genus kecil cabang dari parrot (burung beo).

Koleksi lovebird Breeder Apri. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Ada sembilan spesies lovebird yang umum―delapan di antaranya berasal dari daratan Afrika, dan satu dari Madagaskar.

Sembilan spesies tersebut adalah Agapornis roseicollis, Agapornis swindernia, Agapornis pullaria, Agapornis personata, Agapornis fischeri, Agapornis nigrigenis, Agapornis taranta, Agapornis cana, dan Agapornis lilianae. Kusumo termasuk yang terakhir, atau yang di Indonesia sering disebut dengan lovebird kepala emas.

Wow, aku tak tahu informasi itu.

The more you know.

Sebenarnya aku juga tidak tahu apakah akan butuh informasi seperti itu.

You’ll never know.

Oke, kembali ke Kusumo. Kok burung mati saja diberitakan, sih?

Baca Kusumo: Hikayat Seekor Legenda, maka Anda akan tahu. Sederhananya, dalam sejarah lovebird di tataran Indonesia, tidak ada yang kesaktiannya melebihi Kusumo.

Koleksi lovebird Breeder Apri. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Maksudnya tuh sakti gimana?

Ya sakti. Mandraguna. Misalnya, saat mau dijodohkan saja, Sigit harus menghabiskan 5-7 burung pejantan untuk mendapatkan jodoh Kusumo.

Maksudnya?

Pejantan-pejantan Kusumo pada mati.

Hah? Kok bisa?

Tidak ada yang tahu persis. Tebakan Sigit, pejantan-pejantan Kusumo kalah mental.

Hmm, seram juga. Selain itu, ada kesaktian lainnya nggak?

Begini, dalam catatan perlombaan lovebird di Indonesia, khususnya di kategori singing contest, tidak ada yang punya catatan kemenangan melebihi Kusumo.

Ilustrasi lovebird juara (Foto: kumparan/Herun Ricky)

Singkatnya, Kusumo meraih juara satu lebih banyak dari lovebird mana pun di Indonesia.

Oh, begitu. Cuma begitu saja?

Oh, bukan cuma begitu saja, Pulgoso. Anda harus lihat catatan kemenangannya. Dalam waktu 21 bulan, sejak Januari 2015 sampai September 2016, Kusumo berhasil juara satu sebanyak 228 kali! Itu menurut perhitungan media Kicau Mania, Ronggolawe.

Bahkan, menurut awak media yang sama, kalau ditotal sampai terakhir kali Kusumo lomba di Solo Vaganza pada September 2017, Kusumo berhasil menyabet juara satu kurang lebih 400 kali!

400 kali itu banyak, ya?

Hhhhhhh... ya banyak dong, Gaes! Saking sering menang, Kusumo pernah di-banned, tidak diperbolehkan ikut lomba di tingkat regional karena sudah auto-menang.

Untuk perbandingan, ada satu burung murai batu yang pernah meraih rekor MURI pada 2009 dengan gelar peraih juara satu terbanyak. Namanya Suara Sakti, milik Andy Donk. Tahu berapa kali juara satu yang ia raih saat mendapat penghargaan MURI tersebut?

Tentu tidak.

102 kali. Sampai akhir hayatnya, Suara Sakti berhasil 200 kali meraih juara satu. Itu pun ia capai selama 15 tahun.

Sementara, Kusumo berhasil melampaui catatan 15 tahun Suara Sakti hanya dalam waktu 21 bulan saja. Yaah, memang sih, di masa Suara Sakti berjaya, intensitas lomba burung belum seperti sekarang. Meski begitu, tetap saja catatan Kusumo sangat impresif.

Sigit Marwanta dan salah satu koleksi lovebirdnya. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Hmm, lumayan juga ya. Memangnya, kalau burung sering menang lomba begitu, hadiahnya berapa sih?

Tergantung pembuat lomba. Per kelas bisa Rp 3 juta, 5 juta, sampai 10 juta. Sedangkan Kusumo bisa ikut 6-7 kelas setiap kali lomba.

Waktu ditanya soal jumlah hadiah yang diterima, Sigit si pemilik Kusumo hanya tertawa. Tapi dia bilang, “Ya, ada kalau ratusan juta. Ada juga yang bentuknya motor.”

Gemerlap Hidup Kusumo (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Nah, kalau menurut perkiraan Harvi Papsyoko, awak Media BNR Yogya, dalam 3,5 tahun berkiprah di perlombaan lovebird kancah nasional, Kusumo bukan tak mungkin mengantongi hadiah sejumlah Rp 500 juta.

Jadi, kalau pendapatan Pulgoso hanya UMR Jakarta yang sekitaran Rp 3,7 juta, Pulgoso butuh bekerja 11 tahun untuk menyamai pendapatan Kusumo selama 3,5 tahun.

Lho, kok nyinggung-nyinggung gaji, sih!?

Hmm, itu belum kami singgung soal harga penawaran terhadap Kusumo, lho.

Yailah, emang berapa?

Saat harga lovebird sedang tinggi dan Kusumo sedang jaya-jayanya, Sigit itu menerima banyak penawaran atas Kusumo. Penawaran termahal, menurut dia, seharga Rp 1,5 miliar plus Jeep Rubicon―yang harga mobilnya bisa Rp 1 miliar lebih.

Errr....

Nah kan, diem. Sama.

Sayangnya, sekarang harga lovebird sedang turun lumayan drastis.

Koleksi lovebird Breeder Apri. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Kok bisa harga lovebird turun? Gara-gara Kusumo mati?

Nggak juga. Sebenarnya penurunan harga lovebird sudah terjadi beberapa waktu terakhir. Para pedagang di Pasar Burung Pramuka, misalnya, mengeluhkan omzet penjualan per hari mereka turun, dari yang biasanya sekitar Rp 5 juta menjadi Rp 1-2 juta saja.

Dan ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Apri, peternak lovebird di Kaliurang Yogya juga mengeluhkan hal sama. “(Penjualan) lovebird lagi lesu,” kata dia.

Koleksi lovebird Breeder Apri. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Kok penjualan bisa lesu begitu?

Ada beberapa hal. Yang pertama, soal impor. Harga lovebird yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir, membuat gerak importir lovebird tidak terbendung. Asal negaranya bermacam-macam, dari Belanda, China, Taiwan, sampai negara-negara Asia Tenggara.

Pasokan yang membludak menyebabkan neraca penawaran dan permintaan timpang. Akibatnya, dengan membludaknya pasokan sementara jumlah permintaan sama, harga otomatis turun.

Wah, bahaya nggak, tuh?

Sebenarnya, menurut Presiden Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) Benny Rustam yang akrab disebut Om Ben, impor tersebut tak masalah. Asalkan, importir tak boleh tamak dan harus jeli melihat jenis lovebird yang belum tersedia di pasar lokal.

Kalau yang dipasok dari luar justru spesies yang sudah ada di dalam negeri, barulah itu jadi masalah.

Presiden KLI Nasional, Om Ben. (Foto: Tio Ridwan/kumparan)

Lalu, bagaimana dong cara mengatasinya?

Pembatasan impor yang eksesif tentu jadi salah satu pilihan, meski masih belum jelas siapa yang berwenang mengatur, juga seperti apa kebijakan yang mesti diambil.

Meski begitu, menurut Benny, peternak lovebird bisa memulai usaha dari diri mereka sendiri.

Maksudnya?

Dengan lebih giat lagi belajar mutasi genetika lovebird. Menurut Benny, ada beberapa jenis lovebird yang terbukti aman dari fluktuasi harga, terutama burung warna yang berkualitas beauty contest.

Video

Begini kata Om Ben, “Khususnya untuk yang beauty, mari peternak-peternak lebih mendalami lagi genetika lovebird. Belajar yang benar, sehingga kita mendapatkan burung yang sesuai dengan standar beauty contest. Sebab yang juara di beauty contest, harganya pasti melambung.”

“Jadi kalau kita berhasil mencetak burung yang seperti itu, peluang eskpor juga terbuka lebar.”

Semudah itukah?

Yaa, kita lihat saja. Mau coba?

Rrrrrrrrr...

Ah, kelamaan mikir, rezeki keburu dipatok burung. Bhay!

------------------------

Jangan ngaku penggemar burung kalau tak baca Liputan Khusus kumparan: Setelah Lovebird Kusumo Mangkat

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57