Pencarian populer

1 Juta Spesies Hewan dan Tanaman Terancam Punah Akibat Ulah Manusia

Gas polusi Foto: Pixabay

Awal pekan ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan Global Assessment yang disusun oleh panel ahli Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES). Laporan dari IPBES ini mengungkap kondisi mengerikan keanekaragaman hayati global pada tahun 2019.

Laporan ini menunjukkan ada sekitar satu juta tanaman dan hewan yang berisiko terancam punah pada tahun 2050. Menurut laporan, penyebab utama risiko kepunahan itu adalah aktivitas manusia.

Sebenarnya, kepunahan satu juta spesies ini masih bisa dicegah. Tapi untuk mencegahnya, umat manusia harus melakukan “perubahan transformatif” dalam beberapa tahun ke depan.

Hasil laporan ini menjelaskan atas kemungkinan terjadinya “kepunahan massal keenam”, yang menurut beberapa orang telah terjadi. Kejadian ini berbeda dengan kejadian kepunahan sebelumnya. Jika kejadian kepunahan massa sebelumnya dipicu oleh bencana alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, dan hantaman asteroid dari luar angkasa, kepunahan kali ini ditimbulkan terutama oleh ulah manusia.

Adapun faktor pendorong kepunahan yang tercantum dalam laporan ini adalah sebagai berikut:

  • Perubahan penggunaan lahan daratan dan laut

  • Eksploitasi organisme secara langsung

  • Perubahan iklim

  • Polusi

  • Spesies invasif

Laporan ini juga menyoroti fakta bahwa emisi gas rumah kaca telah naik dua kali lipat sejak 1980. Hal ini menyebabkan suhu rata-rata global naik 0,7 Celcius atau lebih. Menurut peneliti, dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia ini lebih besar dari dampak penggunaan lahan di darat dan laut.

“Bukti luar biasa dari IPBES Global Assessment, dari berbagai bidang pengetahuan yang berbeda ini, menyajikan gambaran yang tidak menyenangkan,” ujar Sir Robert Watson, Ketua IPBES, seperti dilansir IFL Science.

“Kesehatan ekosistem tempat kita dan semua spesies lain bergantung, memburuk lebih cepat daripada sebelumnya. Kita mengikis fondasi ekonomi, mata pencaharian, keamanan pangan, kesehatan, dan kualitas hidup di seluruh dunia,” lanjutnya.

Berdasarkan laporan ini, rata-rata spesies yang hidup di daratan telah menurun sebesar 20 persen sejak tahun 1900. Lebih dari 680 spesies vertebrata telah punah sejak tahun 1500-an.

Macan dahan formosa atau Neofelis nebulosa brachyura, dinyatakan punah pada 2013. Belakangan, ia dilaporkan kembali terlihat. Foto: SSR2000 via Wikimedia Commons

Kini, menurut para ahli IPBES, lebih dari sepertiga mamalia laut dan sekitar 33 persen karang sedang terancam punah. Selain itu, para peneliti juga memperkirakan ada sekitar 10 persen spesies serangga, yang merupakan 5,5 juta dari 8 juta spesies tanaman dan hewan di dunia, masuk dalam daftar rentan. Ada pula lebih dari 40 persen spesies amfibi yang juga terancam punah dan mungkin tidak akan pernah kita lihat lagi dalam beberapa dekade ke depan.

Laporan ini menyimpulkan bahwa tanpa upaya intens untuk mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati, tingkat kepunahan spesies flora dan fauna akan terus meningkat.

"Laporan itu juga memberi tahu kita bahwa belum terlambat untuk membuat perubahan, tetapi kita harus mulai dari sekarang, dari tingkat lokal hingga global," kata Watson.

“Melalui 'perubahan transformatif', alam masih dapat dilestarikan, dipulihkan, dan digunakan secara berkelanjutan. Ini juga merupakan kunci untuk memenuhi sebagian besar tujuan global lainnya. Dengan perubahan transformatif, yang kami maksud adalah reorganisasi mendasar dan sistem secara luas di seluruh faktor teknologi, ekonomi dan sosial, termasuk paradigma, tujuan, dan nilai-nilai,” tambahnya.

Riset untuk menyusun laporan IPBES ini melibatkan lebih dari 400 ahli dari lebih 50 negara. Tim peneliti telah mempelajari perubahan yang telah terjadi pada Bumi selama 50 tahun terakhir. Mereka berharap bahwa laporan yang memakan waktu tiga tahun untuk dibuat ini akan membuat orang-orang sadar atas kondisi Bumi.

“Setelah adanya laporan bersejarah ini, tidak ada lagi yang bisa mengklaim bahwa mereka tidak tahu,” ujar Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, dalam suatu pernyataan.

"Kita tidak bisa lagi terus menghancurkan keanekaragaman kehidupan. Ini adalah tanggung jawab kita terhadap generasi masa depan," imbuhnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.40