Pencarian populer

Bagi Ducati, Marquez Adalah Musuh Nomor Satu di MotoGP 2019

Perayaan Marc Marquez sebagai juara MotoGP 2018 di Cervera, Spanyol. Foto: Josep LAGO / AFP

Marc Marquez adalah sebuah fenomena di MotoGP. Selayaknya Valentino Rossi saat baru naik ke kelas utama, sulit bagi pebalap lain untuk bisa mengalahkannya. Itu mengapa Marquez selalu dijadikan sebagai rival utama di setiap musimnya, tak terkecuali oleh Ducati.

Sejak musim 2013, begitulah situasinya di MotoGP. Apalagi, Marquez pula penyebab utama di balik kegagalan Ducati menuntaskan dahaga gelar MotoGP yang terakhir kali mereka raih bersama Casey Stoner pada musim 2007.

Peluang terbesar dimiliki Ducati pada musim 2017 lewat Andrea Dovizioso. Secara mengejutkan, pebalap asal Italia itu muncul sebagai pesaing dalam perebutan gelar. Sayang, di akhir kejuaraan, DesmoDovi harus mengakui keunggulan Marquez yang memimpin dengan selisih 37 poin.

Situasi yang hampir sama juga terjadi pada MotoGP 2018. Lagi-lagi Ducati harus puas melihat Dovi hanya finis sebagai runner-up. Kali ini, Dovi memang tak sanggup menempel laju kencang The Baby Alien sepanjang musim. Predikat runner-up pun harus kembali disandangnya setelah tertinggal 76 poin di akhir musim.

Andrea Dovizioso (Ducati) mengalahkan Marc Marquez (Honda) di GP Qatar 2018 Foto: Dok. MotoGP

"Marc adalah juara dunia, ia sangat kuat dan ia memiliki motor yang sangat bagus, jadi ia adalah lawan nomor satu. Tapi mereka semua (pebalap lain, red) adalah lawan dan bagi kami mereka semua sama. Semua orang ingin menang," kata CEO Ducati, Claudio Domenicali, kepada Marca.

Untungnya, ada indikasi bagus dari Ducati setelah balapan perdana MotoGP Qatar di Sirkuit Losail, Senin (11/03/2019) dini hari WIB. Mereka masih bisa berharap dari Dovi yang memenangi balapan setelah melewati pertarungan sengit dengan Marquez.

Dalam balapan tersebut Marquez memberikan perlawanan sengit di dua putaran terakhir. Bahkan, pebalap asal Spanyol itu masih mencoba untuk melakukan overtaking kepada Dovi di tikungan terakhir jelang garis finis. Untungnya, seperti di musim 2017, Dovi yang keluar sebagai pemenang.

"Awal yang bagus untuk kejuaraan, jadi kami senang dengan permulaan ini. Tapi ini hanya balapan pertama, kaki kami harus tetap di tanah dan kepala kami harus terus bekerja," tutur Domenicali.

Usaha pebalap Repsol Honda, Marc Marquez saat mencoba menyalip pebalap Ducati, Andrea Dovizioso di tikungan terakhir MotoGP Qatar. Foto: twitter/HRC_MotoGP

Menurut Domenicali, ini adalah hasil kerja keras yang dilakukan Ducati selama musim dingin. Tapi, sekali lagi, ia meminta kepada semua pihak untuk tidak merayakannya secara berlebehan. "Yang lain juga telah bekerja sangat keras. Bahagia boleh, tapi tidak perlu melakukan terlalu banyak perayaan," ucapnya.

Tak hanya Dovi, kiprah Danilo Petrucci yang melakoni debutnya sebagai pebalap utama Ducati juga layak diacungi jempol. Meski menerapkan strategi memasang ban soft depan dan belakang, tak seperti kebanyakan pebalap yang memasang medium, Petrucci mampu bertarung di barusan depan.

Petrucci yang di musim lalu membalap untuk Pramac Racing itu finis di urutan keenam dengan selisih 2,320 detik dari Dovi. Selanjutnya, pabrikan asal Italia itu langsung mengalihkan fokusnya untuk balapan MotoGP Argentina di Autodromo Termas de Rio Hondo, 31 Maret 2019.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: