Kumparan Logo

Tahun 2040, Kamu Bisa Traveling dengan Pesawat Unik Berbentuk Huruf V

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesawat Flying V Foto: dok. Youtube @Studio OSO
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Flying V Foto: dok. Youtube @Studio OSO

Bicara tentang pesawat, kamu pasti akan langsung mengasosiasikannya dengan bentuk burung besi berwarna putih dengan dua sayap melintang di sisi kiri dan kanannya. Terutama jika hal pertama yang meluncur di benakmu adalah pesawat untuk penerbangan komersial.

Namun berbeda dengan yang satu ini. Pesawat hasil inovasi seorang mahasiswa dari Universitas Teknik Berlin bernama Justus Benad itu tidak memiliki bentuk 'standar' seperti pesawat kebanyakan. Sebaliknya, pesawat rancangannya tersebut berbentuk huruf 'V'.

Karena bentuknya tersebut, pesawat ini diberi nama Flying-V, sama seperti model gitar yang digunakan oleh musisi legendaris ternama Jimi Hendrix.

Flying-V dinilai sebagai armada pesawat hemat bahan bakar jika dibandingkan dengan pesawat pada umumnya, namun dengan kapasitas penumpang yang hampir sama.

Sebab pesawat ini diklaim menggunakan bahan bakar 20 persen lebih sedikit dari pada Airbus A350-900 dan bisa menampung 314 penumpang. Sementara Airbus A350 memiliki kapasitas muatan sebanyak 300-350 penumpang.

Pesawat berbentuk huruf 'V', Flying-V Foto: Dok: Edwin Wallet, Studio OSO

Walau bentuknya berbeda dengan pesawat lainnya, lebar sayap pesawat tersebut sama dengan lebar sayap pesawat jenis Airbus A350. Sehingga memungkinkan bandara yang ada untuk menerima kedatangan pesawat tanpa perlu melakukan konfigurasi atau perubahan dalam ground.

Lantas, bagaimana bisa pesawat ini punya bentuk berbeda namun tetap mampu membawa jumlah penumpang yang sama? Rupanya, desain futuristik Benad menggabungkan kabin penumpang, tangki bahan bakar dan pegangan kargo ke area sayap, sehingga menghemat ruang dalam pesawat.

Hasil desain Benad kemudian dikembangkan lagi oleh para peneliti di Universitas Teknologi Delft di Belanda dengan bantuan dana dari maskapai penerbangan KLM Royal Dutch Airlines. Dilansir CNN, Pieter Elbers, CEO sekaligus Presiden KLM mengatakan bahwa Flying-V merupakan batu loncatan menuju maskapai pesawat berkelanjutan.

"Dalam beberapa tahun terakhir, KLM telah berkembang sebagai pelopor dalam keberlanjutan dalam industri penerbangan. Kami bangga dengan hubungan kerja sama antara KLM dan TU Delft yang berfungsi sebagai tonggak penting dalam upaya meningkatkan penerbangan berkelanjutan," tuturnya.

embed from external kumparan

Pemimpin proyek TU Delft Roelof Vos mengatakan bahwa inovasi ini sangat dibutuhkan, terutama untuk mencapai efisiensi yang lebih besar sementara para peneliti mengembangkan teknologi untuk pesawat listrik skala besar. Sebab, pesawat dengan bahan bakar yang lebih sedikit tentunya juga akan menghasilkan polusi yang lebih sedikit pula.

"Penerbangan berkontribusi menghasilkan sekitar 2,5 persen emisi karbondioksida di dunia, dan industrinya masih terus berkembang. Untuk itu kami benar-benar perlu melihat pesawat dengan konsep berkelanjutan," ungkap Vos.

Para peneliti berharap mereka mampu menerbangkan Flying-V dalam September tahun ini. Sementara tiruan dari desain kabin baru akan dibuka untuk umum di Bandara Schipol Amsterdam pada Oktober 2019 sebagai perayaan ulang tahun KLM yang ke-100.

Sementara untuk penggunaan komersial bagi traveler, Flying-V diharapkan dapat dioperasikan pada tahun 2040 dan 2050 mendatang. Vos juga mengungkapkan bahwa desain Flying-V masih membutuhkan pengujian ketat.

"Kami telah melakukan pengujian numerik dan uji terowongan angin awal, tetapi kami perlu melakukan lebih banyak pengujian di terowongan angin - kecepatan tinggi dan kecepatan rendah - untuk menunjukkan bahwa pesawat ini efisien seperti yang kami pikirkan," pungkasnya.

kumparan post embed