Malas Gerak Tingkatkan Kegemukan dan Risiko Penyakit

Saat ini bekerja sebagai Pranata Humas Ahli Muda di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI. Lulus Strata Satu (S1) dari FIKOM UNPAD. Tahun 2012 menyelesaikan Magister (S2) Kesehatan Masyarakat UI
Konten dari Pengguna
5 Maret 2021 15:48
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Fachrudin Ali Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Baru saja kita memperingati Hari Obesitas Sedunia. Tepatnya 4 Maret 2021, lembaga World Obesity Day memperingatinya dengan mendeklarasikan ajakan "Every Body Needs Everybody" yang diterjemahkan sebagai "setiap tubuh membutuhkan setiap orang". Ajakan ini sebagai upaya mengatasi epidemi obesitas global. Diharapkan setiap orang bekerja sama demi kehidupan yang lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih lama untuk semua orang.
ADVERTISEMENT
Mengutip informasi dari World Obesity Day, obesitas merupakan penyakit. Ada banyak faktor yang dapat membuat orang berisiko lebih tinggi mengalami obesitas: faktor biologi, gen, kesehatan mental, akses ke perawatan kesehatan, dan paparan makanan yang diproses secara berlebihan, seperti menambahkan perisa, gula, lemak, atau pengawet makanan berbahan kimia (ultra-processed), serta makanan yang tidak sehat (unhealthy foods).
Individu dengan obesitas menempatkan orang tersebut pada risiko yang lebih tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker. Pengidap obesitas juga memiliki risiko lebih besar hingga sakit parah bahkan kematian jika tertular COVID-19.
World Health Organization (WHO) menyatakan obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara maju maupun negara berkembang. Obesitas merupakan kondisi adanya penumpukan lemak tubuh yang berlebih, sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan.
ADVERTISEMENT
Obesitas sentral menurut Nurkotimah dkk dalam jurnal Media Litbangkes, Vol. 29 No. 3 yang terbit di bulan September 2019 dianggap lebih baik dalam menilai tingkat obesitas dibandingkan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT).
Mengutip laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), obesitas sentral atau obesitas abdominal adalah kumpulan lemak abdominal berlebih yang terdapat di daerah abdomen atau perut. Batasan obesitas sentral adalah jika nilai lingkar perut pada laki-laki lebih besar dari 90 cm dan di kalangan perempuan lebih besar dari 80 cm
Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 dengan melakukan pengukuran lingkar perut pada penduduk dewasa berusia 15 tahun ke atas, diperoleh data 1 dari 3 orang Indonesia menderita obesitas sentral.
ADVERTISEMENT
Hasil penelitian Sudikno dkk yang dimuat di Jurnal Gizi Indonesia (2018) menggunakan data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM) dengan memantau populasi penelitian yakni semua anggota rumah tangga berumur 25 tahun ke atas di 5 kelurahan dari 11 kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, yaitu Kebon Kalapa, Babakan Pasar, Babakan, Ciwaringin dan Panaragan selama 6 tahun.
Dari pantauan tersebut diperoleh hasil bahwa faktor risiko terjadinya obesitas sentral pada orang dewasa adalah jenis kelamin, kelompok umur, status kawin, dan aktivitas fisik. Subjek perempuan dengan aktivitas fisik kurang nyatanya lebih cepat mengalami obesitas sentral dibandingkan subjek laki-laki dengan aktivitas fisik kurang. Untuk itu, disarankan dilakukannya pencegahan obesitas sentral pada orang dewasa melalui pemenuhan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal.
ADVERTISEMENT
Kemenkes RI telah gencar menggalakkan program Gerakan masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Gerakan Masyarakat Hidup Sehat merupakan tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Salah satu kegiatan yang digalakkan adalah peningkatan aktivitas fisik.
Berdasarkan panduan GERMAS, aktivitas fisik diartikan sebagai gerakan tubuh yang melibatkan otot rangka dan mengakibatkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, paling sedikit dengan durasi 30 menit setiap harinya. Kegiatan banyak duduk sebaiknya dibatasi, seperti menonton TV, main gim dan komputer, apalagi bersamaan waktunya dengan makan makanan kudapan yang manis, asin dan berminyak.
Kemenkes juga menganjurkan masyarakat saat di rumah melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci, berkebun, dan menemani anak bermain. Di tempat kerja tetap rutin berolahraga dan melakukan peregangan di sela jam kerja. Perbanyak kegiatan berjalan.
ADVERTISEMENT
Saat dalam perjalanan dapat memarkir kendaraan agak jauh dari lokasi kantor agar dapat melanjutkan dengan berjalan, berhenti untuk peregangan dalam perjalanan jarak jauh atau mengalami kemacetan serta melakukan peregangan di dalam mobil dan bis. Ingat jangan malas untuk bergerak untuk meningkatkan aktivitas fisik. Kemalasan dapat membawa masalah kesehatan, salah satunya kematian.
Malas Gerak Tingkatkan Kegemukan dan Risiko Penyakit (158748)
zoom-in-whitePerbesar
Obesitas patut diwaspadai di Indonesia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan 1 dari 3 orang Indonesia menderita obesitas sentral. Individu dengan obesitas akan menerima risiko yang lebih tinggi terkena penyakit jantung, diabetes dan beberapa jenis kanker. Pengidap obesitas juga memiliki risiko lebih besar hingga sakit parah bahkan kematian jika tertular COVID-19
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020