Napi Lapas Ciangir Jalani Program Kemandirian: Biar Bermanfaat di Masyarakat

Lembaga Kemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas IIB Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten, menggelar program pembinaan kemandirian dengan berbagai keterampilan dari peternakan hingga pertanian.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas), Lili, menyebut tujuan diadakan program tersebut agar warga binaan yang akan mengakhiri masa pidananya tidak mengulangi kejahatan yang mereka lakukan dan menjadi warga negara yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Pastinya ini mereka biar tidak melakukan kesalahan lagi. Mereka di sini bukan makan, tidur, tetapi mereka bekerja untuk dirinya dan nanti bermanfaat di masyarakat,” ujar Lili saat ditemui di Lapas Kelas IIB Ciangir pada Kamis (8/7).
Program pembinaan kemandirian ini diikuti oleh 50 warga binaan yang seluruhnya sudah diseleksi secara ketat dan nantinya akan mendapatkan tambahan sebanyak 20 orang untuk bekerja di sektor pertanian hingga perkebunan.
“Ini ada 50 warga binaan dan sudah di asesmen ketat. Nanti juga akan ditambah 20 lagi warga binaan untuk bekerja di sini,” tambah Lili.
Lebih lanjut, warga binaan yang dapat mengikuti program pembinaan ini adalah mereka yang akan mengakhiri masa tahanan dan sudah diseleksi melalui tes asesmen yang ketat
“Pastinya kasus-kasusnya ya sebentar lagi mau bebas dan kita cek asesmen nya itu minat bakatnya seperti apa. Jadi kalau ada asesmennya tinggi, emosinya tinggi ya ini tidak masuk nominasi di sini,” kata Lili.
Warga binaan yang mengikuti program ini akan mendapatkan premi. Uang premi tersebut nantinya digunakan untuk mengakomodir kebutuhan warga binaan dan ditabung sebagai bekal ketika nantinya akan dibebaskan.
“Tentunya warga binaan bekerja di sini mendapat premi sesuai dengan hasil kerjanya. Uangnya ditabung dan sebagian mungkin nanti diambil buat ngopi. Nanti hasilnya uangnya bisa bermanfaat buat keluarganya,” tambah Lili.
Uang hasil premi yang didapatkan warga binaan nantinya berkisar di angka Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Penghasilan tersebut bersifat fluktuatif.
“Untuk premi di kisaran 500 (ribu) sampai 1 juta. Jadi tergantung produksinya saat bagus ya pasti akan ikut naik. Tapi terendahnya ya itu 500 (ribu),” tambah Lili.
Sementara itu, Ketua Lapas (Kalapas) IIB Ciangir, Soeistanto Poedji Djatmiko, menyebut ada berbagai kegiatan yang dapat diikuti warga binaan untuk menjalani program pembinaan tersebut
“Untuk usaha unggulan tadi itu ada ayam petelur, kegiatan lain ada budidaya ayam kampung, terus ada pembesaran sapi berdaging, terus ada budidaya domba,” kata Tanto.
Selain kegiatan peternakan, ada juga kegiatan perkebunan yang dapat diikuti oleh warga binaan untuk bercocok tanam.
“Untuk perkebunan ada timun, satu lagi terong, yang di sebelah belakang ini mau kita pakai pokcoy dan yang bawah nanti juga bayam,” tambah Tanto.
Nantinya, hasil peternakan dan perkebunan yang dilakukan oleh warga binaan akan dipasarkan di wilayah Jabodetabek
“Kita memasarkannya untuk sementara di wilayah Jabodetabek,” tambahnya.
Ia menambahkan kegiatan pembinaan ini sekaligus membantah stigma masyarakat terkait warga binaan yang dinilai tidak bisa melakukan apa-apa dan dibuktikan melalui hasil sehingga warga binaan tersebut bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
“Kita pengin menunjukkan bahwa warga binaan itu bukan hanya makan tidur. Memang kita latih secara profesional supaya nanti kembali ke tengah-tengah masyarakat itu bisa mencari pekerjaan dengan mudah,” katanya.
Sebagai bentuk keamanan, Tanto menugaskan beberapa petugas sebagai penanggung jawab sekaligus membina mereka selayaknya keluarga.
“Jadi kita setiap kegiatan itu ada PIC (person in charge) petugas yang mendampingi untuk kita membina sifatnya humanis. Jadi kita anggap keluarga,” tambah Tanto.
