Konten dari Pengguna

Cerita Vampir Lesbian yang Menginspirasi Penciptaan Dracula

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi vampir wanita oleh Pete Linforth dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi vampir wanita oleh Pete Linforth dari Pixabay

Hal yang lazim, ketika berbicara tentang literasi per-vampir-an, yang pertama kali tersembul di pikiran ialah Dracula ciptaan Bram Stoker. Adikarya ini telah menjadi standar kualitas terhadap buku-buku selanjutnya yang menulis tentang vampir, sejak mulai diterbitkan lebih dari seratus tahun yang lalu.

Akan tetapi, bukan karya Bram Stoker yang sebetulnya hadir sebagai pionir. Kendati pengaruhnya sangat luar biasa untuk citra vampir. Setidaknya ada dua karya yang sangat menginspirasi penciptaan Dracula, yang telah hadir beberapa dekade sebelumnya.

Sebagai ide awal, Bram Stoker mendapatkan inspirasi tentang sosok drakula dari strigoi, yang dalam kepercayaan rakyat di Eropa Timur, khususnya Rumania, adalah roh jahat yang suka meneror rumah-rumah warga. Pengetahuan dasar ini diambil Bram Stroker dari buku Accounts of the Principalities of Wallachia and Moldavia yang ditulis William Wilkinson dan terbit pada tahun 1820.

kumparan post embed

Pun untuk gaya penulisan, Dracula karya Bram Stoker sangat dipengaruhi oleh Carmilla, sebuah novel karangan Joseph Sheridan Le Fanu. Tentunya, dengan unsur-unsur yang telah dimodifikasi atau diperkuat.

Buah tangan Le Fanu yang terbit pada 1872 itu bercerita tentang orang pertama bernama Laura, seorang wanita muda asal Inggris. Sedangkan Carmilla, yang diposisikan sebagai orang kedua, adalah vampir yang datang sebagai orang asing ke rumah Laura.

Laura yang mulanya diceritakan ketakutan, seiring waktu justru mulai merasakan perasaan kuat dan intens terhadap Carmilla. Mereka berdua merajut asmara yang bermekaran tak karuan, yang mustahil dilakoni oleh predator dan mangsanya. Sampai kemudian Carmilla dibunuh oleh seorang jenderal (teman dari ayah Laura), Laura pun senantiasa dihantui oleh memori tentang Carmilla selama sisa hidupnya.

Ilustrasi dalam novel Carmilla | Wikimedia Commons

Beberapa pengambaran yang disajikan oleh Le Fanu sangat mirip dengan yang kemudian direka oleh Bram Stoker. Misalnya, estetika vampir perempuan, yang memiliki pipi kemerahan, mata besar, bibir merekah, dan sensualitas yang hampir tak tertahankan; desripsi pemburu vampir yang datang untuk menyelamatkan dan memberikan pengetahuan kepada pada korbannya; bahkan kerangka naratif karya Bram Stoker pun persis Le Fanu dengan orang pertama dalam cerita diposisikan sebagai korban.

Sulit untuk tidak mengakui bahwa adikarya Bram Stoker benar-benar dipengaruhi oleh Le Fanu yang sama-sama orang Irlandia. Hanya saja, menjadi pionir bukan berarti terjamin bakal mendulang keuntungan. Bram Stoker merasakan riuh kejayaan yang tidak sempat dialami oleh Le Fanu, dengan perbedaan popularitas yang jomplang di antara keduanya.

kumparan post embed

Novel-novel tersebut dirilis ke pasaran pada Era Victoria, selama periode yang dikenal dengan hukum moral yang ketat. Sesuai jiwa zaman itu, kisah vampir lesbian sudah pasti kalah tenar oleh cerita drakula jantan yang elegan. Tidak heran jika Bram Stoker pada kenyataannya lebih dianggap sebagai maestro soal vampir, meski dalam ranah idealisme sebetulnya Le Fanu lebih otentik dan memukau.

Referensi:

  • Sheridan Le Fanu's gothic spirit lives on | The Guardian

  • The Dubliner behind spooky vampire tales from Dracula to Twilight | Irish Central

  • Sheridan Le Fanu’s haunting legacy | The Irish Times

kumparan post embed