Dentuman Letusan Krakatau 1883 Bisa Pecahkan Gendang Telinga

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat, muncul kebisingan luar biasa dari sebuah pulau di antara Jawa dan Sumatra, di Indonesia. Seperti raungan senjata kolosal, menurut laporan pada saat itu. Dentumannya terdengar sampai 2.092 kilometer (Km) di Pulau Andaman dan Nicobar; 3.218 Km di Papua Nugini dan Australia Barat; dan bahkan sampai 4.828 Km di Pulau Rodrigues. Saking nyaringnya, letusan Gunung Krakatau juga terdengar oleh orang-orang di 50 lokasi geografis yang berbeda (beberapa laporan bahkan menyebutnya lebih dari itu).
Kecepatan suara dari letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 mencapai 1.233 kilometer per jam. Hingga saat ini pun masih diklaim sebagai dentuman paling nyaring yang pernah tercatat dalam sejarah.
Begitu dahsyatnya ledakan sehingga lebih dari setengah kru (kapal)-ku telah hancur gendang telinganya. Pikiran terakhirku tertuju kepada istri tercinta. Aku yakin bahwa (pada saat itu) Hari Penghakiman telah tiba," ungkap Kapten Kapal Norham Castle (Inggris), yang pada saat itu berjarak 64,3 Km dari sumber letusan.
Intensitas suara yang dilepaskan oleh letusan Gunung Krakatau telah jauh melebihi batas kebisingan untuk manusia. Kenyaringan itu mengonversi lebih dari 172 desibel, jumlah tekanan yang tak sanggup diterima oleh manusia normal jika berdiri di dekat sumber letusan.
Sebagai perbandingan, ketika mengoperasikan jackhammer, intensitas suara yang kita dapatkan ialah sekitar 100 desibel. Saat kita sedang berdiri di samping mesin jet, biasanya menerima 150 desibel suara. Sedangkan ambang batas pendengaran manusia untuk merasa sakit akibat suara berada di sekitar 130 desibel.
Selain keras, letusan Gunung Krakatau juga sangat kuat sebagai gelombang, karena menghasilkan fluktuasi tekanan udara. Ketika semakin keras, suara tidak lagi hanya melewati udara, namun turut mendorong udara bersamanya. Dalam hal ini, suara menciptakan semburan tekanan dalam udara bergerak yang dikenal sebagai gelombang kejut.
Semburan udara bertekanan tinggi itulah yang memecahkan gendang telinga para pelaut, yang berdiri sejauh 64,3 Km dari sumber letusan.
Ketika suara letusan Gunung Krakatau mencapai jarak ribuan kilometer, ke Australia dan Samudra Hindia, tekanannya mulai mereda dan mulai terdengar seperti suara tembakan. Dalam jarak lebih dari 4.828 Km, gelombang tekanan menjadi terlalu sunyi untuk diterima telinga manusia, tetapi masih bergema selama berhari-hari di seluruh dunia.
Selama 5 hari setelah letusan Gunung Krakatau, stasiun cuaca di 50 kota di seluruh dunia mengamati lonjakan tekanan yang konsisten berulang: kira-kira setiap 34 jam. Hal ini menjelaskan bahwa dentuman yang memekik telinga itu dapat mengelilingi Bumi dalam waktu 34 jam untuk sekali putaran.
Sumber:
The Loudest Sound Ever Heard | discovermagazine.com
125 years ago — the loudest bang in history | pharmaceutical-journal.com
