Giethoorn, Desa Tanpa Hiruk Pikuk Kendaraan Darat

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teruntuk kita yang senantiasa bergelut dengan asap kendaaraan, kemacetan, kegaduhan suara klakson, dan segala keruwetan jalan raya di perkotaan, sudah menjadi kewajaran bermimpi untuk merasakan betapa tenangnya jalan di pedesaan. Apalagi jika di desa pun kita dapat bernapas dengan tenang tanpa kebisingan kendaraan sama sekali, seperti di Giethoorn, Belanda, tentulah akan kian syahdu kesantaian kita.
Desa Wisata Giethoorn memiliki julukan "Venesia Utara", karena tidak memiliki jalanan darat yang cukup besar dan dapat dilalui kendaraan bermotor. Oleh karena itu, semua transportasi dilakukan dengan jalur air, dengan kanal yang bersilangan.
Pada awalnya, limpahan air di Giethoorn berasal dari banjir besar pada tahun 1170. Setelah bencana, ketika para pengungsi dari Mediterania datang untuk menetap, desa ini didirikan dan dikembangkan kembali pada tahun 1230-an.
Konon, ketika sedang membangun desa, para pengungsi menemukan banyak tanduk kambing liar yang kemungkinan telah mati akibat banjir. Dari kejadian inilah nama desa berasal, awalnya mereka menyebut Geytenhorn yang berarti "tanduk kambing", dan menjadi Giethoorn pada tahun-tahun berikutnya.
Selain peran dari para pengungsi, Desa Giethoorn juga berutang kepada para penggembala gambut. Mereka menggali tanah bergambut di tempat-tempat yang paling cocok, menyebabkan terbentuknya aliran air besar dan kecil. Demi keperluan untuk mengangkut gambut pula, parit dan kanal yang bersilangan digali oleh mereka.
Sebagai hasilnya, banyak rumah di Giethoorn telah dibangun di pulau-pulau kecil yang saling terpisah dan dihubungkan oleh jembatan. Semua orang pun mesti menggunakan perahu kecil, dengan motor listrik yang tenang dan tak bersik, yang disebut "perahu berbisik".
Sumber:
Visit the charming Dutch village where cars aren't allowed | National Geographic
Giethoorn | Atlas Obscura
