Konten dari Pengguna

Cerita Kanibalisme dalam Novel yang Jadi Kenyataan

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ulang novel Edgar Allan Poe versi majalah Japanese | Foto oleh Rene Walter dari Flickr
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ulang novel Edgar Allan Poe versi majalah Japanese | Foto oleh Rene Walter dari Flickr

Edgar Allan Poe tersohor sebagai salah satu penulis paling misterius dan tragis dalam sejarah sastra Amerika. Ia, yang juga kritikus abad ke-19 ini, terkenal ikonik dalam merajut benang-benang misteri menjadi kisah epik, suram, dan tidak terduga. Ia adalah perintis genre horor modern yang dijuluki "Bapak Cerita Misteri". Beberapa karyanya yang terkenal, seperti The Raven, The Black Cat, dan The Fall of The House of Usher, telah diterjermahkan ke dalam banyak bahasa. Namun, ada satu karya berjudul The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket yang hingga kini menjadi perbincangan, karena kisahnya telah menjadi kenyataan.

The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket, yang terbit pada 1838, bercerita mengenai petualangan kontroversial Arthur Gordon Pym sebagai pelaut. Ia dan teman dekatnya, Augustus Barnard yang sedang mabuk, memutuskan berlayar menggunakan perahu kecil ke lautan. Kala itu cuaca sedang buruk dan mereka terperangkap dalam badai. Demi menyelamatkan diri, mereka kemudian menyusup ke atas Kapal Grampus yang berukuran lebih besar dan biasa digunakan untuk menangkap ikan paus.

Tanpa diguga oleh mereka, di atas kapal sedang terjadi pemberontakkan. Arthur dan Augustus terpaksa bersembunyi, akan tetapi ketahuan oleh Dick Peters, salah satu pemberontak yang membelot. Ketiga orang ini lantas bekerjasama, menyusun rencana untuk mengendalikan kapal, dan mengancam para pemberontak.

kumparan post embed

Beberapa waktu setelah mereka berhasil menguasai kapal, lagi-lagi badai ganas datang menghantam. Kali ini kapal rusak parah, hampir semua orang di dalamnya terbunuh, dan hanya empat orang yang bertahan.

Semakin lama hidup di lautan, persediaan makanan kian menipis. Arthur, Augustus, Dick, dan seorang pemberontak lainnya, Richard Parker, memutuskan harus ada satu orang yang berkorban mati agar darah dan dagingnya dapat mereka jadikan makanan. Augustus yang sedang terluka pun mengorbankan diri untuk dimakan. Kanibalisme tak dapat dihindarkan demi keselamatan.

Singkat cerita ... dari keempat orang yang selamat, pada akhirnya hanya Arthur dan Dick yang tersisa. Keduanya kemudian diselamatkan oleh sebuah kapal yang lewat, ketika sedang di ambang kematian.

kumparan post embed

Kemiripan cerita di dunia nyata

Berpuluh-puluh tahun kemudian, setelah penerbitan novel The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket, kisah yang dialami oleh Arthur dan kawan-kawannya ternyata menjadi kenyataan.

Pada tahun 1884, sebuah kapal kecil bernama Mignonette berangkat dalam misi perjalanan dari Inggris ke Australia. Ini menjadi sebuah perjalanan panjang yang tentu sangat melelahkan bahkan untuk kru kapal besar sekalipun. Apalagi kapal kecil tidak akan sanggup menghadapi ganasnya badai lautan.

Alhasil, awak kecil yang beranggotakan empat orang itu terpaut dalam sekoci tanpa persediaan pangan. Nahasnya, salah seorang awak kapal terjatuh dari perahu dan mengakibatkan dirinya terluka. Demi meringankan penderitaan dan memenuhi kelangsungan hidup, ketiga temannya memutuskan membunuhnya, meminum darahnya, dan memakan dagingnya.

Sketsa Kapal Mignonette | Commons Wikimedia

Kasus pembunuhan Mignonette menjadi sebuah kebetulan yang menyeramkan, mengingat beberapa kejadiannya mirip seperti kisah petualangan Arthur dan teman-temannya. Ditambah lagi, nama salah satu nama awak kapal Mignonette ternyata sama persis dengan tokoh dalam novel: Richard Parker. Hanya saja, Parker dalam versi dunia nyata bernasib lebih tragis dan paling menderita, ia adalah satu-satunya yang dibunuh oleh ketiga temannya yang selamat.

Semejak kasus Mignonette kian terkemuka dan membawa pembaharuan dalam dunia hukum (bahwa kebutuhan bukanlah pembelaan terhadap tuduhan pembunuhan), orang-orang pun banyak bertanya tentang kemiripan ceritanya dengan novel The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket. Bagaimana bisa Edgar Allan Poe mampu memprediksi kejadian pembunuhan itu? Sama sekali tidak ada yang tahu. Penulis ini wafat sebelas tahun setelah novel ini diterbitkan.

Sumber:

  • Story of cannibalism that came true | BBC

  • DID EDGAR ALLAN POE’S ONLY NOVEL PREDICT A GRIM DISASTER AT SEA? |ripleys.com

kumparan post embed