Konten dari Pengguna

Meminum dan Berendam Air Panas Tidak Menyembuhkan COVID-19

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto gratis oleh chezbeate dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Foto gratis oleh chezbeate dari Pixabay

Minuman panas dapat memberikan kenyamanan, terutama saat cuaca dingin. Efeknya dapat bertindak sebagai pelega bagi pikiran yang sedang bermasalah. Minuman panas pun dapat membantu suhu tubuh kita menjadi dingin ketika cuaca terasa sangat panas. Tetapi, satu hal yang tidak akan dilakukan oleh minuman panas adalah melindungi tubuh manusia dari COVID-19.

"Tidak ada bukti bahwa minuman panas akan melindungi (manusia) dari infeksi virus," ungkap Ron Eccles, seorang ahli penyakit pernapasan di Universitas Cardiff, Inggris.

Eccles telah melakukan penelitian pada masa lalu tentang dampak nyata dari minum cairan panas ketika seseorang menderita demam dan flu. Dia menemukan bahwa walaupun minuman panas dapat meredakan gejala pilek, sebagian efeknya disebabkan oleh peningkatan sekresi air liur dan lendir (di mulut dan hidung) yang menenangkan peradangan. Bagaimanapun, dia juga menyimpulkan bahwa kemungkinan ada efek plasebo (pengaruh sugesti untuk sembuh) yang berpengaruh kuat dalam kasus ini.

Sementara dalam kasus SARS-CoV-2, air panas sama sekali tidak memberikan dampak nyata. Virus ini tidak bisa dihanyutkan hanya dengan berkumur atau meminum air panas secara teratur.

kumparan post embed

Meskipun SARS-CoV-2 dapat masuk ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut, dalam wujud butiran-butiran kecil, virus ini cenderung langsung menginfeksi sel-sel saluran pernapasan. Sel-sel ini membawa enzim pada permukaannya, yang dibutuhkan virus untuk masuk ke dalam tubuh. Ketika dihirup, butiran-butiran kecil ini pun akan langsung dibawa ke paru-paru, ke dalam organ yang sulit dijangkau oleh cairan apa pun yang masuk dari mulut.

Begitu berada di dalam tubuh, virus itu juga akan dengan cepat masuk ke dalam sel inang, kemudian perlahan-lahan mereplikasi dirinya. Ini berarti SARS-CoV-2 memiliki kemampuan untuk bersembunyi dengan nyaman dari setiap upaya untuk dibasuh oleh air.

Demikian pula, begitu berada di dalam sel, SARS-CoV-2 terlindungi dari suhu ekstrem karena suhu tubuh manusia cenderung konsisten pada 37 celsius. Suhu standar ini cocok bagi virus untuk mereplika dan menyebarkan dirinya. Walaupun kita meminum cairan panas, tidak akan terjadi peningkatan suhu yang signifikan di saluran pernapasan, tidak bisa membunuh virus yang telah bersemayam di dalam sel.

Secara teori, diperlukan suhu lebih dari 56 celsius untuk secara efektif membunuh virus corona. Beberapa tes bahkan menunjukkan bahwa dibutuhkan suhu yang lebih tinggi dari 60-65 celsius. Bagaimanapun, hampir mustahil bagi manusia untuk dapat meminum cairan dengan suhu setinggi ini. Jika pun kita benar-benar nekat, minuman dengan kisaran suhu lebih dari 56-65 celsius akan melepuhkan kulit dan menyebabkan cedera pada organ dalam.

Foto gratis oleh Brady Knoll dari Pexels

Dalam upaya lainnya, kita pun tidak akan sembuh dari COVID-19 dengan berendam di air panas. Walau berendam di air sepanas apa pun, tubuh kita secara alami akan berjuang untuk menjaga suhu pada 37 celsius. Ketimbang membunuh virus, berendam di dalam air yang terlalu panas bahkan lebih cenderung membakar dan melukai diri sendiri.

Kondisinya akan menjadi sangat fatal ketika kita memaksakan peningkatan suhu tubuh hingga 40 celsius. Pada tingkat ini kita akan mengalami stroke panas yang parah. Suhu tubuh yang lebih tinggi dari 40 celsius juga dapat menyebabkan kematian.

Sumber Referensi:

kumparan post embed