Konten dari Pengguna

Tristan da Cunha, Pulau Berpenduduk Paling Terpencil di Bumi

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kredit: Foto oleh Akash Nambiar dari Flickr
zoom-in-whitePerbesar
Kredit: Foto oleh Akash Nambiar dari Flickr

Sangat sulit untuk mendatangi sebuah pulau di lokasi terpencil, seperti Tristan da Cunha, Saint Helena, dan Ascension, yang tidak ditunjang oleh moda transportasi mumpuni. Di sana tidak ada bandara dan hanya dapat dicapai melalui jalur laut. Meskipun kapal-kapal nelayan dari Afrika Selatan sering datang secara teratur, akan tetapi RMS Saint Helena (kapal utama untuk penumpang) hanya berkunjung setahun sekali pada selama pelayaran Februari, dan ini pun antara Cape Town dan Saint Helena saja (tidak sampai ke Tristan da Cunha).

kumparan post embed

Pulau-pulau itu pertama kali ditemukan pada tahun 1506 oleh penjelajah Portugis yang bernama Tristao da Cunha. Bagaimanapun, kala itu, gelombang lautan yang kasar mencegahnya untuk berlabuh. Ia pun menyematkan nama dirinya untuk pulau utama di sana: "Ilha de Tristão da Cunha" yang berarti "Pulau Tristan da Cunha". Sekitar 140 tahun kemudian, manusia pertama pun mulai menginjakkan kaki di sana, dengan rekaman pendaratan pertama terjadi pada 1643 oleh kru Heemstede.

Ihwal menarik dari Pulau Tristan da Cunha tak terbatas hanya pada sisi historisnya. Faktanya, tempat ini juga sangat ganjil secara geografis. Pulau vulkanis di tengah Samudra Atlantik ini terletak 2.816 kilometer dari negara berpopulasi besar terdekat (Afrika Selatan) dan 3.360 kilometer dari Amerika Selatan. Oleh karena itulah, Edinburgh of the Seven Seas, pemukiman utama di Tristan da Cunha, dianggap sebagai pemukiman permanen paling terpencil di dunia. Bahkan dengan Saint Helena pun, tetangga pulau terdekat, berjarak lebih dari 2.400 kilometer.

kumparan post embed

Ada gunung berapi bernama Queen Mary's Peak di sana, yang meletus sempat meletus pada 1961. Hampir seluruh populasi Pulau Tristan da Cunha meninggalkan pemukiman dan pindah ke Inggris (negara induk) pada saat itu, namun mereka kembali pada tahun 1963 demi membangun kembali pemukiman. Sekarang, sekitar 265 orang yang menetap tinggal dan tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki harta pribadi. Semua tanah di Tristan da Cunha dimiliki secara komunal dan ada berbagai kebijakan untuk mencegah keluarga yang lebih kaya mendapatkan harta berlebihan (agar kemampuan ekonomi penduduknya senantiasa merata).

Untuk urusan medis, cuma ada satu dokter tetap (dari Afrika Selatan) dengan hanya lima perawat yang siap melayani seluruh penduduk Tristan da Cunha. Selain itu, ada juga satu museum kecil yang menarik, satu sekolah, toko kerajinan, kolam renang, stasiun radio, toko-toko lokal bergaya lama, dan sebuah supermarket besar. Ya, jangan heran jika kamu, saat berlibur ke sana, hanya akan bertemu dengan warga yang itu-itu saja.

Referensi:

  • Tristan da Cunha: Island at the End of the World | National Geographic

  • Tristan da Cunha | Britannica

kumparan post embed