Berada di Aceh saat Tsunami, Kepala BNPB: Bencana Bukan Hukuman Tuhan

Puncak peringatan 15 Tahun Tsunami digelar Pemerintah Aceh di Pidie Convention Center (PCC) Kabupaten Pidie, Kamis (26/12). Acara dihadiri oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Doni Monardo.
Doni tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Rabu malam (25/12). Dijemput Asisten II Setda Aceh, Teuku Ahmad Dadek, mereka menuju Kabupaten Pidie melalui jalan darat, sekitar 110 kilometer dari Banda Aceh.
Dalam kesempatan tersebut, Doni mengatakan saat tsunami Aceh sedang berada di Lhokseumawe, dan hari kedua sudah berada di Banda Aceh dan ketiga di Meulaboh, untuk membantu para korban. Dia berkeyakinan, kalau warga di Banda Aceh dan pesisir lainnya saat itu punya pengetahuan seperti warga di kepulauan Simuelue, maka tidak akan banyak jatuh korban.
Warga di Kepulauan Simeulue mempunyai pengetahuan yang menjadi kearifan lokal tentang Smong (tsunami), yang mengajarkan warganya untuk siaga, jika terjadi gempa besar bergegas ke tempat yang tinggi.
Doni menyebutkan bencana alam bukanlah hukuman Tuhan, tetapi adalah kejadian alam yang berulang. “Keyakinan saya ini datang dari apa yang terekam di Gua Eek Luntie, Aceh Besar,” ujar Doni.
Gua Ek Luntie di kawasan Lhoong, Aceh Besar yang dimaksud adalah tempat yang merekam tsunami purba yang pernah terjadi di Aceh sebelumnya. Setidaknya ada 14 kali gempa dan tsunami besar yang melanda Aceh sejak 7.500 tahun silam.
Menurutnya, Gua Ek Luntie akan dijadikan geopark tsunami. Peletakan batu pertama pembangunannya akan dibuat acara khusus, sebagai upaya memberitahukan kepada dunia bahwa kejadian gempa dan tsunami Aceh adalah berulang.
”Dari sana kita bangun kesiapsiagaan supaya jika terjadi lagi, tidak jatuh korban (banyak),” ujar Doni.
Setiap bencana diharapkan dapat menjadi iktibar yang harus disikapi dengan rasionalitas dan budaya siaga. “Ini bukan hukuman apalagi kutukan tetapi adalah bencana alam yang perlu disikapi dengan sikap siaga. Kita harus jaga alam, dan alam akan menjaga kita,” ujar Doni.
Kepala BNPB menambahkan, lembaganya akan memasyarakatkan Keluarga Tangguh Bencana (Katana) sampai ke desa. “Katana yang diluncurkan di Aceh sebagai salah satu strategi kita melakukan kesiap-siagaan bencana,” sebutnya.
Pada kesempatan tersebut, Teuku Ahmad Dadek, ikut menyerahkan buku Gempa Pidie Jaya kepada Letjen Doni. Buku yang ditulisnya tersebut berkisah tentang proses rerontruksi dan rehabilitasi gempa Pidie dan Pidie Jaya yang terjadi pada 7 Desember 2016 lalu.
“Buku ini diharapkan menjadi sebuah catatan penting bagi BNPB dalam pengalamannya untuk menangani daerah lainnya,” ujar Dadek. []
