Catatan Sahabat acehkini: Menemukan Mozaik Kegemilangan Aceh di Belanda
·waktu baca 5 menit
Sisa kegemilangan Aceh masa silam masih tersimpan rapi mengisi museum-museum di Negeri Belanda. Zakiul Fahmi Jailani, Alumni Wageningen University and Research, Belanda, menuliskan pandangan dan kesaksiannya untuk pembaca acehkini.

Salah satu respon pertama yang diberikan oleh para sahabat saat kukabari akan berangkat kuliah magister ke Belanda, adalah tatapan sinis -mungkin- dapat mewakili kebanyakan pandangan rakyat Aceh terhadap Belanda. Tentang sebuah utang kejahatan perang terlampau banyak terhadap masyarakat Aceh, yang efeknya masih terasa sampai saat ini.
Respon lain dari temanku adalah dengan melontarkan sebuah gurauan, “Ngapain ke Belanda? Mau jualan boh trueng (terong) Belanda? hahaha.” Tapi semua respon tidak apresiatif itu menguap ketika aku merasakan sendiri kualitas kehidupan di negeri itu yang sangat nyaman dan aman. Terlebih, menemukan mozaik-mozaik memori romantisme kegemilangan sejarah Aceh masa silam yang kerap kudengar di masa kecil dan terasa halu, ternyata terserak di negeri asal C. Snouck Hurgronje (penulis kawakan Belanda) ini, dan tersimpan rapi di tempat favoritku: museum.
Mengapa sejarah Aceh terasa halu bagiku? Karena aku lahir, besar, dan hidup di Aceh selama belasan tahun dan secara realistis menyadari bahwa susah mengakui kegemilangan Aceh, yang katanya, hebat masyhur itu tanpa menemukan bukti peninggalan sejarah itu sendiri. Sejak kecil selalu membayangkan kegemilangan seperti sebuah puzzle, yang mana jika puzzle itu belum terisi penuh dengan mozaik potongan-potongan bukti yang dapat kulihat secara kasat mata, selama itu pula berbicara tentang kegemilangan sejarah silam Aceh sama seperti sebuah romantisisme.
Di zaman mengedepankan rasionalitas ini, bukti kasat mata adalah satu-satunya cara untuk memvalidasi bukti ketimbang berkutat pada imajinasi masa lalu yang dilontarkan secara subjektif serta didorong oleh rasa emosional tinggi. Sayangnya, bukti-bukti itu belum hadir di negeri sendiri, dan untungnya aku mendapatkan kesempatan untuk ke Belanda yang lebih peduli dengan sejarah bangsaku sendiri.
Museum utama bagi para pecinta sejarah Aceh tentu saja Bronbeek Museum, dan sulit rasanya memvalidasi kecintaan seseorang terhadap sejarah Aceh jika belum mengetahui atau bahkan belum mengunjungi museum ini. Museum tersebut terletak di kota Arnhem, tidak jauh dari kota tempat tinggalku di Wageningen. Kala di Indonesia dulu, sudah sering mendengar nama museum Bronbeek ini, tapi tetap tak pernah kusangka, terpegun di pintu masuk museum kala menyadari bahwa objek pertama yang dipajang dan dapat dilihat oleh pengunjung sehabis membayar tiket, adalah sebuah meriam dari Aceh.
Saat bersusah payah memicingkan mata dan membaca nama meriam legendaris tersebut, aku merasa seperti si kritikus makanan Anton Ego yang menyicip sajian Ratatouille yang dibuat oleh seekor tikus dalam sebuah film animasi produksi Pixar. Batinku terlempar ke masa lalu kecilku yang sering mendengar kisah heroik diplomat kerajaan Aceh yang terseok-seok meminta bantuan kerajaan Turki Usmani, yang singkat cerita meriam pemberian tersebut dinamakan: Meriam Lada Sicupak. Meriam Lada Sicupak menjadi mozaik pertama yang kudapatkan di Belanda untuk melengkapi puzzle kegemilangan sejarah Aceh ku.
Selain itu, Bronbeek juga berfungsi sebagai rumah bagi veteran perang terutama tentara Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Aku sering mendengar nama KNIL ketika kecil dulu sebagai momok yang jahat bagi masyarakat Aceh.
Dari bacaan deskripsi di museum inilah akhirnya aku mengetahui bahwa KNIL adalah prototipe pasukan counter-terrorism pertama di dunia yang dibentuk untuk menghadapi gesitnya pergerakan gerilyawan Aceh yang merepotkan pasukan Belanda dengan strategi perang hit-and-run nya. Pernyataan KNIL sebagai momok jahat bagi masyarakat Aceh benar adanya, namun pernyataan yang lebih tepat menurutku, bahwa KNIL adalah manifestasi pertama rasa frustasi Belanda terhadap sikap pantang menyerah pejuang Aceh yang tak pernah pun mereka dapatkan di sudut bumi lain yang pernah mereka jajah. KNIL pun menjadi mozaik kedua yang melengkapi puzzle sejarah Aceh ku di Belanda.
Meriam Lada Sicupak dan KNIL, adalah dua mozaik yang aku temui saat menempuh studi di Belanda yang kemudian membuatku yakin bahwa tidak semua romantisisme kegemilangan sejarah masa lalu Aceh adalah angan-angan.
Banyak lagi mozaik-mozaik Aceh yang kutemui di Belanda, tapi mozaik Teuku Umar lah satu-satunya tokoh Aceh yang dapat didapatkan di berbagai museum di Belanda, membuatku semakin yakin bahwa Teuku Umar bukanlah sosok khayalan. Mungkin para pembaca sudah tahu bahwa ada baju asli Teuku Umar di museum Troppen Amsterdam, serta keris Teuku Umar di museum Volkekunde Leiden.
Tapi tahukah anda, bahwa Belanda pernah begitu frustasi dengan si cerdik ulung Teuku Umar, sampai-sampai pemerintah kolonial membuat papan permainan propaganda bernama Toekoe Oemar spel. Papan permainan yang di masa lalu dimainkan oleh anak-anak dan anggota keluarga di sudut-sudut kota-kota Belanda dan juga di daerah-daerah jajahan Belanda seperti kota-kota di pulau Jawa, juga di Aceh. Sebagai usaha propaganda untuk mengatakan bahwa ada satu manusia Aceh Bernama Teuku Umar yang harus segera ditangkap.
Kini papan permainan tersebut masih terpampang di Museum Speelgoedmuseum Kota Deventeer. Papan permainan itu seperti catur harimau atau cato rimung yang juga kerap dimainkan orang-orang Aceh dulu.
Mozaik-mozaik yang kutemukan di Belanda ini sedikit banyak melengkapi puzzle kegemilangan sejarah Aceh masa lalu, bersanding dengan mozaik-mozaik puzzle yang sudah terlebih dahulu terpajang di memoriku seperti masjid Raya Baiturrahman, Lonceng Cakra Donya sebagai hadiah penguasa Tiongkok kepada Kerajaan Samudera Pasai yang dibawa Laksmanan Cheng Ho pada abad ke-15, dan lain sebagainya.
Kini aku masih mencari bukti nyata mozaik-mozaik lain seperti pohon Kohler (yang sayangnya ditebang semena-mena dan tak ada protes besar-besaran akan aksi tersebut), bukti eksistensi Keumalahayati; bukti kerajaan Lamreh; dan lain sebagainya.
Akankah semua bukti-bukti nyata itu nantinya dapat kita lihat secara langsung dan dapat kita pelajari di negeri Darussalam ini nantinya? []
