Konten Media Partner

Cerita Nenek Darmiati di Aceh Mau Divaksin COVID-19: Biasa Aja, Gak Gemetar

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nenek Darmiati saat di lokasi vaksinasi bertempat di gedung Banda Aceh Convention Hall, Kota Banda Aceh, Aceh, Kamis (25/11/2021).
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Darmiati saat di lokasi vaksinasi bertempat di gedung Banda Aceh Convention Hall, Kota Banda Aceh, Aceh, Kamis (25/11/2021).

Nenek Darmiati (61) melangkah menuju meja skrining. Sambil berjalan sedikit membungkuk karena usianya yang sudah memasuki kepala enam, Darmiati duduk dan berdialog sesaat dengan beberapa petugas tenaga kesehatan (nakes). Ia ditemani keempat cucu dan seorang anak perempuannya sembari menggendong seorang balita.

Tak lama seorang nakes keluar dari ruang khusus tepat berada di belakang kursi petugas yang melakukan skrining. Di tangannya spet suntik berisi cairan vaksin COVID-19.

"Ayo nenek silakan masuk," kata nakes mempersilakan, dan nenek Darmiati mengikutinya ke ruang khusus itu tanpa ragu.

Seperti masyarakat pada umumnya, Darmiati juga merasakan ketakutan yang sama saat sebelum dilakukannya suntikan vaksin COVID-19. Namun semua itu sirna usai si nenek keluar dari ruang penyuntikan. Dengan wajah semringah, ia menjumpai reporter yang menulis reportase ini karena sudah sepakat saat ditemui sejak awal datang ke lokasi vaksinasi.

"Nenek awalnya agak takut, tapi ternyata biasa aja," katanya saat ditemui usai disuntik vaksin COVID-19 di Gedung Banda Aceh Convention Hall, Kamis (25/11/2021).

Nenek Darmiati saat mendaftar untuk menerima suntikan vaksin COVID-19 di gedung Banda Aceh Convention Hall.

Darmiati merupakan warga Desa Lam Bheu, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Ia memiliki enam orang anak dengan sembilan cucu. Darmiati termasuk kelompok penerima vaksin lanjut usia (lansia) di usianya yang saat ini memasuki 61 tahun.

Ia memilih divaksin secara sukarela karena takut bila terjadi sesuatu dalam perjalanan keluar kota. Darmiati yang tahu dengan kondisinya masuk kategori kelompok rentan, ia pun tak ingin membiarkan tubuhnya begitu saja tanpa benteng berupa imunitas melalui vaksinasi.

Terlebih vaksinasi masih dalam fase digratiskan oleh pemerintah, kesempatan ini pun dimaksimalkan oleh nenek berkepala enam ini untuk melindungi tubuhnya dari penularan COVID-19.

"Ini ya ikhtiar kita, soal ketentuan mati atau tidak itu semua ada di tangan Allah,” ungkap Darmiati. Sesekali ia buang pandangan melihat cucu-cucunya yang sedang berlari di seputaran ruang tunggu registrasi vaksinasi COVID-19.

Menurutnya, soal ajal adalah ketentuan Tuhan. Meski demikian, ia punya kewajiban berusaha menjaga dirinya sendiri dari bahaya penularan COVID-19, terlebih di usianya yang memasuki masa senja.

Darmiati sendiri yakin bahwa vaksinasi bukan satu-satunya yang mampu menyelamatkan diri dari bahaya COVID-19, namun menurutnya upaya tersebut tidak boleh dilupakan mengingat Tuhan pun menyuruh setiap manusia untuk berikhtiar.

"Ketentuan dari Allah juga, tapi paling gak kita sudah berusaha," sebutnya.

Petugas kesehatan di Banda Aceh Convention Hall melakukan proses skrining kesehatan terhadap Nenek Darmiati sebelum menyuntikkan vaksin COVID-19.

Beruntung nenek Darmiati punya anak-anak yang terliterasi dengan baik soal COVID-19 dan tidak percaya dengan konspirasi seputar vaksin. Walau awalnya sempat khawatir, anak-anaknyalah yang kemudian meyakinkan dirinya untuk ikut vaksinasi.

Meski punya penyakit kolesterol dan asam urat, di usianya yang ke-61 tahun Darmiati tetap berupaya datang ke tempat vaksinasi untuk memastikan apakah boleh divaksin atau tidak.

Dan ternyata petugas nakes yang berada di meja registrasi mengizinkan si nenek untuk divaksin usai dilakukan skrining dan memastikan semuanya aman, tidak menjadi bahaya atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) berisiko berat kepada nenek cucu sembilan ini.

"Yang ada kolesterol, asam urat. Dan itu kata dokternya tidak masalah," cerita Darmiati menirukan mimik sang nakes di meja skrining.

Apalagi, lanjutnya, dalam waktu dekat ia bersama anak-anaknya akan berangkat ke Jakarta. Nenek yang sudah berkepala enam ini tidak ingin terjadi sesuatu di perjalanan, terutama saat terjadi kontak langsung dengan orang-orang di luar daerah.

Nenek Darmiati (61 tahun) memilih divaksin COVID-19 secara sukarela di Banda Aceh Convention Hall.

Meski tak menampik vaksin sebagai syarat bepergian ke luar kota, Darmiati juga khawatir bila berada di lingkungan berbeda maka tidak menutup kemungkinan risiko penularan terhadap COVID-19 lebih tinggi daripada mereka yang berada di rumah saja.

"Di samping keperluan ini (berangkat), kita ada perasaan takut juga sama penyakit ini," kata nenek Darmiati sambil sesekali merapikan jilbab songkoknya.

Ia berpesan, kepada para lansia lain agar tidak khawatir berlebih dengan vaksin. Sebab menurutnya vaksin aman dan dapat membantu melindungi tubuh sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19.

Terlebih, lanjutnya, bila lansia yang ingin berpergian ke luar kota. Vaksin menjadi salah satu ikhtiar dalam menjaga dan meningkat imun tubuh para kelompok yang masuk kategori kaum rentan ini.

"Kalau kita sudah bepergian, kita kan harus menjaga diri juga. Kan kita gak bisa tahu kemungkinan apa di luar sana. Intinya, biasa aja, gak susah. Gak gemetar (waktu divaksin)," ujar nenek Darmiati penuh yakin sambil mengakhiri ceritanya.

Tren Vaksinasi Lansia

Tren vaksinasi lansia secara nasional dalam empat bulan terakhir periode Juli-Oktober 2021 relatif meningkat. Capaian vaksinasi lansia pada Juli yakni 105.747 (dosis I) dan 419.765 (dosis II), selanjutnya pada Agustus yakni 439.712 (dosis I) dan 580.106 (dosis II), sementara pada September yakni 1.190.098 (dosis I) dan 619.615 (dosis II), kemudian pada Oktober yakni 2.140.839 (dosis I) dan 917.614 (dosis II).

Data terakhir, secara nasional vaksinasi lansia yang diakses dari situs resmi Kementerian Kesehatan per 28 November 2021 pukul 12.00 WIB, dosis pertama total sebanyak 11.320.333 (52,52%) dan dosis kedua yakni 7.224.657 (33,52%) dari target 21.553.118 lansia secara nasional.

Sementara untuk Aceh per 28 November 2021 pukul 12.00 WIB, sebanyak 71.097 (20,96%) sudah divaksin dosis pertama dan dosis kedua 33.855 (9,98%) dari target 339.125 lansia di Aceh.

Lansia Tak Perlu Khawatir Divaksin

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, dr Safrizal Rahman menyampaikan, proses vaksinasi saat ini telah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Sebelum dilakukan penyuntikan, lanjutnya, petugas nakes telah menyiapkan empat meja pemeriksaan yang harus dilalui, meliputi pendaftaran, pengecekan identitas, skrining dan meja penyuntikan.

Petugas terlebih dahulu menanyakan riwayat penyakit apa yang pernah diderita, dilanjutkan pemeriksaan tekanan darah dan lain-lain. Selanjutnya bila dianggap memenuhi syarat, maka direkomendasikan untuk divaksin.

kumparan post embed

Bila ada yang belum memenuhi persyaratan untuk divaksin, kata dr Safrizal, petugas nakes akan menyarankan yang bersangkutan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter ahli dan mengobati penyakitnya. Bila sudah dibolehkan oleh dokter ahli, baru kemudian disarankan kembali ke tempat vaksinasi untuk dilakukan skrining ulang.

"Tidak bisa orang datang langsung suntik, tidak sama sekali,” tegas dokter Safrizal.

Sementara Ketua Komisi Nasional Pengurus Pusat Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas PP-KIPI), Prof Hinky Hindra Irawan Satari tak menampik adanya kemungkinan efek yang ditimbulkan usai vaksinasi COVID-19 seperti merasa lemas dan pusing untuk beberapa kasus orang tertentu.

Namun hal itu, lanjutnya, merupakan efek ringan (KIPI non serius) yang dapat diatasi dengan beristirahat dan mengonsumsi kebutuhan energi yang cukup baik sebelum dan setelah vaksinasi.

Hasil pemantauan Komnas PP-KIPI sejauh ini belum ada yang mengalami risiko serius usai menjalani vaksinasi COVID-19.

kumparan post embed

Ia mencontohkan beberapa kasus yang diberitakan lumpuh, menurutnya itu hanya efek yang didominasi oleh psikosomatik atau perasaaan takut terhadap vaksin sehingga berdampak pada anggota tubuh yang bersangkutan.

"Ada yang lemas hingga sulit berjalan, masyarakat awam memvonis itu lumpuh, padahal setelah diberikan pertolongan sembuh. Dan itu waktu sembuhnya tidak jadi berita lagi, waktu lumpuhnya saja jadi berita," ungkapnya saat mengisi webinar bertajuk Penguatan Screening dan Tatalaksana KIPI Vaksinasi COVID-19 untuk Tenaga Kesehatan dikutip dari YouTube AJI Banda Aceh, Kamis (7/10/2021).

Pihaknya berharap masyarakat, termasuk kelompok lansia agar segera melaksanakan vaksinasi. Hal ini untuk mempercepat capaian herd immunity atau kekebalan kelompok yang nantinya dapat melonggarkan pembatasan sosial sebagaimana yang sudah dinikmati oleh negara-negara di Eropa saat ini.

"Pesan saya, ayo dah cepat-cepat kita," ujarnya. [*]

kumparan post embed