COVID-19 dan Aceh yang (Tak) Bikin Bangga

Sambil menyeruput kopi robusta yang diolah secara trasidional pada sebuah warung ramai di kawasan Lampineung, Banda Aceh, aku menulis ini. Kisah tentang sebuah tabiat warga, tentang kehidupan sosial, ketaatan agama, di tengah kampanye pemerintah untuk memutus jejaring penyebaran COVID-19.
Judul kutulis dengan keraguan, memakai kata ‘Tak’ dalam tanda kurung. Karena sampai saat ini, dalam urusan melawan virus Corona, satu sisi Aceh memang bikin bangga, dan pada sisi lain Aceh tak lagi membanggakan.
Awal mula sejak 2 Maret 2020, virus asal Wuhan, China, menjangkiti 2 warga Depok yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai yang pertama di Indonesia. Provinsi Aceh masih jauh, dan baru pada 26 Maret, kasus pertama kali tercatat.
Entah bersebab apa, laju penyebaran virus corona di Aceh lambat. Pemerintah Aceh dan berbagai pihak memang awas membendung pandemi itu, bahkan menutup jalan-jalan di perbatasan, membatasi pesawat masuk, melarang warung kopi buka, menutup tempat wisata, sampai memberlakukan jam malam. Kebijakan terakhir diprotes karena mematikan sektor ekonomi masyarakat kecil, alhasil jam malam dicabut pada 2 April 2020, setelah berlaku sepekan kurang sehari.
Setelah jam malam dicabut, warga Aceh normal kembali seperti biasa. Warung-warung kembali ramai, tempat-tempat wisata perlahan beraktivitas, masjid-masjid penuh. Tapi, peningkatan kasus COVID-19 bisa dihitung jari. Bukankah ini membanggakan?
Pujian datang dari Nasional, disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 Nasional, Achmad Yurianto, pada 24 Mei 2020. Saat itu, kasus positif Corona di Aceh masih di angka 20-an, terendah di seluruh Indonesia. Achmad memuji masyarakat Aceh yang dinilai disiplin menjalankan anjuran pemerintah, menjalankan protokol kesehatan.
Pernyataannya sempat diragukan warga, mungkinkah? Ragam pandangan muncul mempertanyakan kenapa kasus bisa kecil di Aceh, sementara tempat-tempat umum selalu ramai, tempat ibadah penuh, hanya sebagian kecil yang patuh pada protokol kesehatan. Pendapat muncul, dari makanan dan minuman yang dikonsumsi orang Aceh yang membuat kebal, hingga tudingan nyinyir orang Aceh biasa berganja. Lainnya adalah soal uji swab yang memang rendah dilakukan di Aceh saat itu.
Pujian yang sama dilontarkan Presiden Joko Widodo pada 15 Juli 2020 saat rapat bersama para kepala daerah seluruh Indonesia di Bogor. Provinsi Aceh disebut sebagai daerah yang dianggap mampu menangani pandemi virus corona dengan baik, bersama sejumlah provinsi lainnya seperti: Yogyakarta, Bangka Belitung, Sumatera Barat dan Gorontalo.
Lima hari kemudian, Tim Komunikasi Gugus Tugas Nasional, dr Reisa Broto Asmoro, memuji masyarakat Aceh, dan masyarakat di sejumlah provinsi lainnya dalam menghadapi pandemi COVID-19, dengan sikap optimis, kompak dan disiplin serta adaptasi kebiasaan baru.
Saat pujian tersebut dilontarkan, kasus baru COVID-19 di Aceh mulai meningkat tajam, sudah melebihi angka 100. Kebiasaan orang-orang Aceh tak berubah, semuanya normal seperti biasa.
Pujian pusat berbalik menjadi peringatan, seperti disampaikan Jubir Satgas Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito, pada 6 Agustus 2020. Dia mewanti-wanti lonjakan kasus di Aceh yang sangat melonjak dalam rentang seminggu, dari 26 Juli hingga 2 Agustus. Saat itu, positif COVID-19 di Aceh telah mencapai 537 kasus, seiring uji swab semakin intensif.
Peningkatan terus terjadi, sampai tulisan ini tayang, kasus tercatat 1.136 kasus dengan jumlah pasien meninggal 30 kasus. Soal ini, Aceh tak lagi bikin bangga.
***
Kondisi ini tak membuat perubahan pola hidup masyarakat, seperti getol disosialisasikan oleh Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Kabupaten/Kota dalam setiap kesempatan. Warung-warung kopi tetap ramai siang malam, pasar-pasar penuh, tanpa ada ketakutan. Kalau pun ada (rasa takut), hanya pada sebagian saja.
Ketaatan warga Aceh untuk beribadah sama sekali tak pengaruh, soal ini sudah dikenal sejak dulu. Masjid dan meunasah tetap seperti biasa, umumnya menganggap Allah pemilik kuasa atas segala makhluk. Kawanku yang jemaah tetap di Masjid Ulee Kareng, Banda Aceh, pernah berkata seperti ini; “Virus corona tak sedikitpun menyurutkan saya untuk tetap berjemaah di masjid, hal baru hanya membawa masker. Kematian ada di tangan Tuhan,” katanya.
Soal taat, tak takut apalagi panik, sampai kekuatan menghadapi segala cobaan adalah kebangaan tersendiri bagi Aceh. Teruji dari konflik yang pernah melanda Aceh, sampai kondisi bencana tsunami pada Desember 2004 silam.
Di tengah upaya menekan laju COVID-19 di Aceh, Kamis kemarin, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengeluarkan penyemangat yang hampir sama. "Sebagai masyarakat yang terkenal religius, masyarakat Aceh pasti yakin dan percaya bahwa bencana atau musibah yang terjadi akan dapat meningkatkan keimanan kepada Allah SWT betapa tidak berdayanya kita di hadapan Allah SWT."
Katanya, bencana kemanusiaan ini, kata Nova, juga semakin menguatkan kesadaran agar masyarakat Aceh dapat membangun kesiagaan dalam menghadapi berbagai bencana, baik bencana alam maupaun bencana non-alam seperti Pandemi COVID-19 ini.
Terlepas dari apapun, menjaga kesehatan adalah wajib, termasuk patuh pada protokol kesehatan pencegahan COVID-19 yang dianjurkan pemerintah. Dan, belum ada satupun pemerintah yang siap menghadapi lawan tak tampak ini. Semuanya berpulang kepada penduduknya.
Saat menulis ini, hampir seluruh pelanggan di warung kopi yang aku tongkrongi tak memakai masker. Sebagian duduk rapat, abai saja. Kabar terakhir kudengar, rekanku seorang pelanggan di warung itu sedang mengisolasi diri di rumah, setelah terjangkit COVID-19 dari istrinya yang dokter. []
