Konten Media Partner

Ibadah Sulok di Aceh: Mencari Rida Ilahi Selama Bulan Suci

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sebagian warga Aceh melaksanakan sulok atau suluk selama bulan suci Ramadan. Ini salah satu jalan agar fokus ibadah, juga upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Jemaah ibadah Sulok di Aceh Besar. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Jemaah ibadah Sulok di Aceh Besar. Foto: Suparta/acehkini

Zikir yang dilantunkan melalui pengeras suara sejak bakda Zuhur itu berhenti tepat pukul 14.30 WIB. Seisi ruangan di kompleks Dayah Darul Aman itu senyap. Sekitar 80 orang yang bersila di sana lalu buru-buru menutup wajah mereka dengan kain.

Mereka lantas memegang tasbih di tangan kanan. Lengan kiri yang terbuka ditindih lengan kanan yang terbalik. Posisi lengan menyilang itu membuat kedua urat nadi bertemu. Berselang sebentar, sayup-sayup terdengar suara manik-manik tasbih yang bertabrakan digeser jari-jari.

"Mereka sedang melakukan zikir ismu zat fi qalbi. Ini adalah puncak pendekatan kepada Allah dalam ibadah sulok," kata Teungku Saifullah, Wakil Ketua Yayasan, Dayah Darul Aman, Ahad (10/4). Dayah itu terletak di Gampong Lampuuk, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

kumparan post embed

Selama zikir, jemaah melafalkan Allah di hati tanpa bersuara. penyatuan dua urat nadi, kata Teungku Saifullah, adalah tanda jemaah memadukan antara seluruh anggota tubuh dan hati.

Penutupan wajah bermakna mereka menghindari nafsu duniawi. Teknik ini diharapkan membuat jemaah fokus ke pelafalan zikir dalam kalbu. "Sehingga mereka benar-benar hanya mengingat Allah dan mengucap nama Allah di dalam hati," tutur Teungku Saifullah.

Zikir begitu dilakukan lima kali sehari seusai salat lima waktu. Paling singkat 30-45 menit atau minimal 10 ribu kali pelafalan "Allah" dalam hati. Bila dihitung, dalam sehari semalam jemaah sulok bisa melafalkannya 50 hingga 100 ribu kali.

Zikir ismu zat fi qalbi hanya satu di antara rangkaian aktivitas jemaah melaksanakan sulok. Bentuk ibadah lain, seperti salat wajib dan sunah berjemaah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa mohon ampun kepada Allah.

Selama melaksanakan sulok di Dayah Darul Aman, jemaah dibimbing seorang mursyid atau guru: Abon Tajuddin Lung Ie. Sang mursyid dibantu oleh seorang munafis, Teungku Iqbal, dan 17 orang khalifah.

Menurut Teungku Saifullah, munafis adalah sebutan pembantu mursyid. Tingkat keilmuan munafis berada di tengah-tengah antara mursyid–paling atas–dan khalifah. Adapun guru pembimbing langsung jemaah disebut khalifah. Ada jadwal berbeda-beda untuk setiap khalifah memimpin jemaah. "Bisa ganti-ganti," ujarnya.

Jemaah memegang tasbih untuk berzikir. Foto: Suparta/acehkini

Jemaah dari Berbagai Daerah dan Larangan dalam Sulok

Jemaah sulok di Dayah Darul Aman datang dari berbagai daerah di Aceh. Sebagian besar jemaah berasal dari pantai timur dan utara Aceh, seperti Kabupaten Pidie hingga Kota Langsa. Usia mereka juga beragam, mulai mahasiswa hingga orang tua.

Namun, jumlah jemaah tahun ini menyusut dibanding tahun sebelumnya. "Tahun ini sekitar 80 orang. Dulu bisa lebih dari seratus orang," kata Teungku Saifullah. Mayoritas dari mereka, menurutnya, adalah anggota jemaah rutin yang datang saban tahun.

Bila sulok khusus Ramadan, jemaah mulai datang sejak 10 hari terakhir Syakban, awal Ramadan, atau 10 hari terakhir Ramadan. Selama sulok, mereka tinggal di sana. "Sulok bisa diikuti paling singkat 10 hari dan paling lama 40 hari," ujar Teungku Saifullah.

Setiap anggota jemaah harus membayar biaya sebesar Rp 160 ribu per 10 hari. Uang tersebut termasuk biaya untuk makanan dan tempat tinggal selama sulok.

Sebelum mulai sulok, kata dia, jemaah harus mandi taubat dan masuk tarekat, khususnya Naqsyabandiyah. "Sehingga benar-benar membersihkan jiwa raga ketika akan beribadah kepada Allah," tutur Teungku Saifullah.

Ketika mulai melaksanakan sulok, jemaah dilarang konsumsi makanan berdarah, seperti daging, atau mengandung lemak, misalnya susu. Itu bertujuan terhindar dari nafsu duniawi dan tidak mengantuk karena pengaruh makanan. "Jadi sepenuhnya waktu digunakan untuk beribadah," katanya.

Dalam jadwal pelaksanaan sulok di Dayah Darul Aman, jemaah bakal melaksanakan ragam ibadah sejak subuh hingga bertemu subuh. Waktu istirahat hanya sekitar pukul 09.00 hingga menjelang salat Zuhur.

Dayah Darul Aman telah menggelar sulok saban tahun dalam satu dekade terakhir. Di luar Ramadan, sulok juga berlangsung pada Zulhijah dan Rabiul Awal. Dulu, sulok digelar dalam masjid di kompleks dayah itu. Namun, kini pelaksanaan dipusatkan di bangunan lain dekat masjid. "Biar tidak berbaur dengan jemaah lain," ujar Teungku Saifullah.

Imam pemimpin ibadah Sulok. Foto: Suparta/acehkini

***

Beberapa menit sebelum imam menyudahi zikir via pengeras suara dan zikir ismu zat fi qalbi belum dimulai, tangisan pecah di antara saf jemaah perempuan. Mereka terdengar tersedu-sedu begitu imam berdoa dan berharap ampunan Allah.

Wajah-wajah jemaah tampak tertunduk. Mereka lalu bergegas mengusap muka begitu imam merampungkan doa. Imam lalu mematikan mikrofon, memegang tasbih, dan zikir ismu zat fi qalbi pun dimulai. Ruangan itu lalu senyap. []