Konten Media Partner

Jebakan Maut Napoleon Aceh untuk Pasukan Letnan de Kok dalam Perang (17)

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tak hanya lihai menggunakan senjata tradisional seperti rencong, pedang dan kelewang, para pejuang Aceh juga cerdik menyusun strategi perang saat melawan kolonial Belanda. Salah satunya, jebakan yang mematikan puluhan marsose yang dipimpin Letnan PRD de Kok.

Peta jejak gerilya Pang Nanggroe, Napoleon Aceh, koleksi museum Aceh. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Peta jejak gerilya Pang Nanggroe, Napoleon Aceh, koleksi museum Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Taktik disusun oleh Pang Nanggroe, suami ketiga pahlawan nasional, Cut Meutia. Oleh Belanda, beliau dijuluki sebagai ‘Napoleon Aceh’ karena siasatnya. Namanya dikenal karena berhasil menenggelamkan 45 marsose bersenjata lengkap di Krueng Sampoiniet di Aceh Utara.

Seperti banyak kejadian penyergapan pasukan marsose lainnya, peristiwa ini bermula dari perang mata-mata dan berita palsu yang disebarkan untuk memancing lawan masuk perangkap, sebagaimana diceritakan HC Zentgraaff dalam bukunya ‘Atjeh’ (1938).

Pada 20 November 1902, Letnan PRD de Kok dan pasukannya singah di pasar Sampoiniet (Aceh Utara). Di sana mereka membahas rencana patroli dan melihat jalur yang akan dipakai untuk menyergap pasukan Pang Nanggroe. Dalam gelap malam itu, seorang mata-mata Pang Nanggroe menyelinap, mendengar detil setiap rencana itu. Malam itu juga berita tersebut sampai ke Pang Nanggroe.

Pagi-pagi sebelum Letnan de Kok dan pasukannya berangkat operasi, tersiar kabar bahwa pasukan Pang Nanggroe ada di seberang sungai Sampoiniet. Seperti Pang Nanggroe yang tak mudah percaya setiap informasi baru, begitu juga Letnan de Kok. Ia mengutus mata-matanya ke sana. Hasilnya valid, kelompok pejuang Aceh memang terlihat lalu lalang di sana.

kumparan post embed
Senapan yang digunakan pejuang Aceh, koleksi museum Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Berangkatlah Letnan de Kok bersama 45 marsose yang dipimpinnya itu. Ketika sampai di sana, 21 November 1902, hari sudah gelap. Kelompok pejuang Aceh itu tidak tampak lagi. Beberapa penduduk memberitahu bahwa pasukan Pang Nanggroe sudah bergerak jauh melewati sungai itu.

Letnan de Kok yang sudah lama memburu Pang Nanggroe, tak ingin tangkapannya itu menghilang begitu saja. Ia akan membawa pasukannya ke seberang sungai untuk menangkap apa yang disebutnya sebagai ‘ikan besar’ itu.

Empat orang penduduk diminta mendayung dua perahu ke seberang sungai di bawah todongan senjata. Letnan de Kok dan 45 marsose naik kedua perahu tersebut. Ia meminta lelaki pendayung perahu mempercepat laju.

Tiba-tiba dalam remang malam, satu tembakan terdengar. Lalu, “bruuuuk” keempat lelaki pendayung di kedua perahu itu menendang lantai perahu sekuat tenaga, sesuai kode tembakan tadi, kemudian terjun ke sungai. Perahu itu bocor. Mereka memanfaatkan kepanikan de Kok dan pasukanya itu untuk membalikkan kedua perahu. Secepat kilat para pendayung menghilang dalam air.

kumparan post embed
Pejuang Aceh dengan ragam senjata. Dok. KITLV

Ketika perahu itu sudah terbalik, pasukan Letnan de Kok yang panik ditembaki dari seberang sungai. Ternyata Pang Nanggroe dan pasukannya tidak meningalkan kawasan itu, sebagaimana informasi yang diterima Letnan Kok di seberang sungai, yang ternyata berita palsu sebagai pancingan. Dan keempat pendayung itu, merupakan orang-orang pilihan dari pasukan Pang Nanggroe, yang berhasil melaksanakan siasat itu dengan baik.

“Dengan isyarat tembakan dari seberang sungai, awak-awak perahu bangsa Aceh tersebut membalikkan perahu-perahu tadi, dan mereka meloloskan diri dengan berenang ke pinggir sungai. Seluruh anggota pasukan itu tenggelam di sungai, sebagian selamat, 28 orang marsose mati, dan 42 senapan hilang,” tulis Zentgraaff. []