Konten Media Partner

Jelajah Desa Tertinggal di Aceh: Bertahan dari Gangguan Gajah Liar (2)

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jejak gajah liar di kebun warga. Foto: Siti Aisyah/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Jejak gajah liar di kebun warga. Foto: Siti Aisyah/acehkini

Kumandang azan sayup-sayup terdengar dari pengeras suara ketika acehkini tiba di Desa Blang Lango, Kecamatan Seunagan Timur, Nagan Raya, Aceh. Berkumpul di rumah seorang warga bernama Pak Eko, belasan penduduk di sana menyalami kami satu per satu. Sesudahnya mereka berpamitan sebentar untuk melaksanakan salat Magrib.

Berada di pelosok Aceh, Desa Blang Lango dihuni penduduk 205 jiwa. Sebagiannya adalah orang yang mengikuti program transmigrasi. Berada di kawasan pegunungan, warga Blang Lango kerap menjadi korban amukan gajah liar. Nasib serupa juga terjadi pada empat desa lain di kawasan itu, yakni Desa Blang Tengku, Tuwi Meuleusong, Kandeh, dan Kila.

kumparan post embed

Sesudah magrib, satu per satu warga kembali mendatangi rumah Pak Eko, pada Sabtu (29/8) malam itu. Selain warga juga hadir Kepala Desa Blang Lango, Tuwi Meuleusong, dan Desa Kande. Di rumah itu, mereka mengeluh dan meluapkan kekesalan. Sasarannya adalah pemerintah yang dinilai tidak peduli dengan mereka.

Tokoh masyarakat Desa Blang Lango, Anharullah, menyebutkan warga sudah kesulitan sejak beberapa tahun terakhir karena keterbatasan infrastruktur, terutama akses jalan.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan kehadiran gajah liar yang mengobrak-abrik tanaman pertanian warga dalam beberapa bulan terakhir. "Pihak pemerintah lihat-lihat saja," keluhnya.

Karena kondisi demikian, kini hanya 17 rumah yang masih ditempati dari total 80 rumah yang dibangun melalui program transmigrasi di Blang Lango. Selebihnya ditinggalkan pemiliknya karena tidak sanggup bertahan.

kumparan post embed
Rumah yang ditinggal pemiliknya. Foto: Siti Aisyah/acehkini

Anharullah dan warga Blang Lango lainnya berharap pemerintah membangun jembatan dan jalan ke desa mereka agar memudahkan akses, terutama untuk memasarkan hasil pertanian. "Kami seperti terabaikan di sini, kami butuh jalan," ujar Anharullah.

Sudah beberapa bulan ini, warga Blang Lango tak bisa tidur malam dengan nyenyak. Sebabnya, kawanan gajah liar sering turun ke kawasan perumahan warga saat hari mulai gelap. Hewan dilindungi itu merusak perkebunan dan 40 rumah warga. “Tiap malam di sini ada gajah," kata Anharullah.

Perasaan Taniati sering merasa ketakutan sejak kawanan hewan bertubuh besar menyambangi permukiman penduduk Blang Lango. "Kami ketakutan, tidak bisa bicara lagi. Kalau suara gajahnya bunyi, orang laki-laki sudah berkumpul dan berkeliling," kata perempuan 35 tahun itu.

Rumah yang dirusak gajah, ditinggal pemilik. Foto: Siti Aisyah/acehkini

Selain amukan gajah liar, warga di sana juga khawatir bila mengalami sakit parah di malam hari. Meski bangunan Puskemas Pembantu (Pustu) berdiri kokoh, namun tidak ada paramedis yang siaga di Blang Lango. Alhasil jika ada yang sakit, maka warga menggotongnya dengan berjalan kaki ke pusat kecamatan.

"Hari itu ada warga di sini yang demam tinggi tengah malam, itu kami pikul ramai-ramai berjalan kaki. Kalau naik motor siang saja susah," kata Mahyun, seorang warga.

Malam semakin larut. Keluh kesah warga belum semuanya terluapkan. Namun obrolan disetop sementara karena mata kami tak sanggup lagi menahan rasa kantuk. Satu per satu warga kemudian beranjak pulang. Lantas saya terlelap di rumah Pak Eko yang sederhana. [bersambung]

Berada di rumah Pak Eko. Foto: Siti Aisyah/acehkini